Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Muhammad Aiyub

Sosok Sederhana yang suka damai

Baru Lulus Sarjana, Minimal Gaji 22 Juta/Bulan

OPINI | 13 March 2012 | 20:12 Dibaca: 6809   Komentar: 27   6

Uang memang selalu menarik untuk diciarakan, apalagi

Uang memang selalu menarik untuk dibicarakan, apalagi kalau banyak uang semakin menarik yang memilikinya dijaman modern ini :D

Ini sungguh berita menarik dan gembira, ya bagaimana tidak gembira kalau masalah uang :D

Sebelumnya, beberapa hari dan beberapa minggu terakhir saya sering membuat tulisan mengenai ‘ideologi’ atau pandangan hidup. Yang terkadang banyak yang pro dan banyak yang kontra. Namanya juga pandangan hidup, ada yang pingin hidup seperti binatang yang bebas sebebas bebasnya, dan ada juga yang pingin hidup seperti manusia normal sesuai aturan dan etika yang berlaku.

Terakhir, saya membuat postingan tentang kewanitaan (hmm… bahasanya aneh ga ya? ya udah saya ganti tentang “keperempuanan’ aja lah :D ). Seperti biasa, ada yang kontra dengan tulisan saya dan ada juga yang setuju. Anda sendiri bagaimana? :)

Pada kesempatan ini, saya ingin break sejenak seperti tulisan-tulisan seperti yg telah saya sebutkan.. yang banyak pro dan kontra, pada postingan kali ini saya mencoba memposting tulisan mengenai uang. Ya, uang..
Saya jamin, ini pasti akan  pro semua. wkkwkw

Uang dpt menyebabkan persatuan dan juga perpecahan.

Uang dpt menyebabkan persatuan dan juga perpecahan.

Ok, kembali ke topik mengenai uang..yang dijamin gga bakalan ada yang anti.

Bagaimana tidak, mau dia penganut paham sosialis,komunis,liberalis,apalagi borjuis… pasti matanya hijau kalau biara uang wkwkw. Ya, uang telah menyihir manusia yang modern bersatu, dan gara-gara uang juga manusia jadi pecah. Intinya uang dapat membuat persatuan dan uang pula yang menyebab kehancuran.
sudahlah, lupakan saja sejenak tentang persatuan dan perpecahan karena uang.

Sekarang mari kita lihat dimana posisi uang dan pendidikan. Berbicara pendidikan dan uang, saya ingat pelajar (dari sd-Mahasiswa), teringat juga dengan sarjana terutama yang baru lulus dan yang belum dapat kerja. Jika berbicara sarjana yang belum dapat kerja, saya teringat dengan sebuah film “Alangkah Lucunya Negeri ini”. Dimana banyak sarjana putus asa setelah lulus kuliah.

Berikut saya review sedikit mengenai film Alangkah lucunya negeri ini;

“Muluk (Reza Rahardian) seorang sarjana muda yang hampir dua tahun lulus dari bangku kuliahnya. Walaupun begitu setelah masa pendidikannya itu, ia belum juga mendapatkan pekerjaan yang bisa dibanggakan kepada ayahnya Makbul (Dedi Mizwar).

Di tempat lain Syamsul (Asrul Dahlan) sarjana pendidikan yang juga masih menganggur, merasa putus asa dengan nasibnya yang tak kunjung membaik. Setiap hari waktunya dihabiskan dengan bermain gaple di gardu hansip. Sedangkan Pipit (Tika Bravani) yang merupakan anak ustad H.Rahmat (Slamet Rahardjo) memiliki kebiasaan mengikuti kuis-kuis di TV dan mengirimkan undian berhadiah.”[1]

Film Alangkah lucunya negeri ini adalah suatu potret kecil dari realita negeri kita tentang dunia pendidikan dan para sarjana serta pola pikir kehidupan masyarakat kita. Sehingga, pendidikan hanyalah untuk mengandalkan ijazah, dan ijazah diandalkan untuk mendapat kerja. Bukan tujuan utama untuk merubah pola pikir (perubahan yang lebih baik) dan untuk mendapatkan skill (hard dan soft).

Memang, berbicara mengenai hal ini, kita tidak bisa menilai atau memvonis siapa yang salah, negara,institusi pendidikan atau peserta didik itu sendiri? yang jelas sepeti inilah indonesia. Oke, sejenakkita tinggalkan indonesia (masih penasaran dengan yang 22 juta/bulan kan? :D )

Ditempat lain,disuatu negara kecil yang juga tak jauh dari indonesia, kira-kira luasnya hanyalah sebesar dua atau bahkan mungkin ada yang satu kabuaten di indonesia. Ya singapura, negara kecil tentangga indonesia dan malaysia. Di Singapura, Gaji pertama seorang lulusan National University of Singapore adalah SGD3.112 atau sekitar 22 juta rupiah. Menurut survey yang dilakukan oleh kementerian pendidikan menunjukkan angka ini naik 4,8 persen dibanding tahun lalu.

Ini beda sekali dengan di Indonesia, Jangankan 22 juta/bulan untuk dapat kerja saja susah bagi sebagian besar sarjana, selain masalah nilai (IPK) para sarjana juga mengalami kendala dalam hal koneksi keperusahaan-pearushaan (seperti BUMN) dan juga hal lainnya adalah masalah skill.

Sedangkan bagi sarjana yang dapat kerja, rata-rata gaji mereka sekitar 2 jutaan/bulan, sebut saja contoh nyata adalah sarjana yg telah menjadi PNS. Artinya, 1 bulan penghasilan seorang sarjana singapura=11 bulan penghasilan seorang sarjana indonesia. Jika kita bandingkan dengan sarjana yang bekerja di BUMN (rata-rata 5 jutaan/bulan) dan ini jarang sekali ada Freshgraduate lulus di BUMN, jikapun ada maka bandingannya 4 bulan setengah gaji pegawai BUMN indonesia sama dengan 1 bulan gaji sarjana baru lulus disingapura.

“Sedangkan lulusan Nanyang Technology University naik 4,2 persen atau SGD3.152.  Lulusan Singapore Management University, yang mulai menghasilkan sarjana pada tahun 2004, naik 3,6 persen atau SGD3.388 atau sekitar 24 juta rupiah, atau yang tertinggi diantara lulusan universitas.” [2]

sarjana

sarjana

Bagaimana jika sarjana baru lulus di indonesia mendapat seperti disingapura? apakah akan menaikkan taraf kehidupan warga indonesia atau malah menghancurkan?

Dari satu sisi tentu akan menaikkan taraf hidup menuju kesejahteraan, namu dari suatu sisi akan menyebabkan kehancuran perusahaan dan negara. Karena bangsa kita kebanyakan menilai keadilan sama rata   (keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia? :D).

Padahal, keadilan adalah jika itu sesuai hak dan kewajiban masing2, atau sesuai porsi atau sesuai kebutuhan. Jika ada sarjana yang mempunyai keahlian (seperti bidang engineering) dibayar mahal karena keahliannya dalam bidangnya dalam suatu instansi. Maka,sarjana yang lain juga akan menuntut disamakan atau juga dinaikkan gaji, walaupun kualiti nya rata-rata bahkan diabwah rata-rata. Karena merasa sama-sama sarjana, makanya mereka menuntut hak yang sama, dan tidak pernah menuntut kewajiban yang sama.

Mungkin satu hal lagi, bagaimana mau mendapatkan sarjana yang berkualitas, sedangkan sejak masa pendidikan sudah berada dijalur yang salah, katakanlah semenjak SMA sampai kuliah. Coba perhatikan siswa atau orang tua siswa saat memasukkan anaknya kesekolah unggul, sebagian besar tujuannaya untuk gengsi keluarga bukan untuk output yang berkualitas. Kemudian lihat lagi,tingkah para pelajar dan mahasiswa indonesia.

Kebanyakan asyik dengan pergaulan bebas, hidup gaya-gayaan (gengsi-gengsian,hedonis, dst), terlalu bergantung pada orang tua dst.Belajar malas, suka nyontek saat ujian, dst. Kalau sarjana yang seperti ini, bagaimana mau digaji 22 juta/bulan? satu juta aja orang ga berani bayar.

Kebanggaan?

Kebanggaan?

Kalau ingin mendapat gaji yang besar seperti sarjana singapore jadilah orag besar dengan berpikiran besar. Persiapkan diri anda dab curahkan pikiran serta usaha sebesar yang anda inginkan tanpa melupakan kebesaran Tuhan. Jangan kuliah hanya untuk mendapat ijazah semata, atau gengsi-gengsian sm orang kampung, atau yg sejenisnya. Tujuan pendidikan adalah perubahan (kearah yg lebih baik).

[1]http://www.21cineplex.com/slowmotion/alangkah-lucunya-negeri-ini-negeri-para-pencopet,1302.htm

[2]http://mobile.seruu.com/utama/hukum-a-kriminal/artikel/wah-gaji-sarjana-baru-lulus-di-singapura-minimal-22-juta

gambar2; google.com “sarjana + uang”

*note; saya bukanlah orang MLM atau sejenis atau seperti mereka yang menjual mimpi buat anda dengan bergabung bersama mereka atau menjual/membeli produk mereka, Sehingga anda akan mendapat penghasilan 22 juta/bulan bahkan lebih. Saya hanya mengajaka kita semua, supaya menginstrospeksi diri saat dalam dunia pendidikan. Ingin mendapat penghasilan yang besar, berusahalah yang realistis. “Jadilah besar tanpa melupakan kebesaran Allah” (By;3113)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 9 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 21 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: