Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Ra2koe2011

thought, feeling and hope

Mari Menghitung Pendapatan Nasional

REP | 14 March 2012 | 23:18 Dibaca: 3799   Komentar: 0   0

“penghasilan 1 orang asing yang bekerja di Indonesia mungkin sama dengan penghasilan 10 TKI kita yang bekerja di luar negeri”

Lega, plong dan excited karena dapat memainkan lagi tombol-tombol keyboards PC untuk menuliskan apa yang difikirkan, dirasa dan harapan. Setelah beberapa waktu ini disibukkan dengan rutinitas tugas, saat ini saya dapat memenuhi janji pada tulisan terdahulu, yaitu janji untuk berbagi bagaimana menghitung pendapatan nasional suatu Negara.

Pada kenyataannya setiap negara memiliki metode dan caranya sendiri dalam menghitung berapa besar pendapatan nasionalnya. Namun, secara umum terdapat tiga pendekatan yang dilakukan oleh negara di seluruh dunia dalam melakukan perhitungan tersebut. Ketiga cara menghitung pendapatan nasional itu adalah :

1. Output Approach atau Metode Produksi;

Metode ini membagi perekonomian ke dalam beberapa sektor produksi (industrial origin) lalu hasil penjumlahan total masing-masing sector inilah yang disebut sebagai output dari seluruh perekonomian negara tersebut. Namun ada yang perlu diperhatikan bila menggunakan pendekatan ini karena bisa saja output suatu sektor merupakan input bagi sektor lain atau output tersebut berasal dari output sektor lain sehingga dapat menimbulkan penghitungan ganda (double counting atau bahkan multiple counting). Solusi terhadap kondisi ini, maka dalam melakukan penghitungan PDB dengan pendekatan ini adalah menjumlahkan nilai tambah (value added) dari masing-masing sektor. Nilai tambah disini adalah selisih lebih dari nilai output dengan nilai input antara.

2. Income Approach atau Metode Pendapatan;

Nah, klo metode pendapatan ini berpandangan bahwa nilai output suatu perekonomian adalah nilai total balas jasa terhadap faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi. Jadi yang dijumlahkan adalah balas jasa dari tenaga kerja (upah/gaji), dari barang modal (pendapatan sewa), dari pemilik uang (pendapatan bunga) dan dari pengusaha (keuntungan). Itu mengapa negara yang memiliki teknologi dan SDM yang skillfull PDB nya jauh lebih tinggi daripada negara yang berteknologi rendah dan SDM yang kurang berkualitas. Ilustrasinya seperti ini penghasilan 1 orang asing yang bekerja di Indonesia mungkin sama dengan penghasilan 10 TKI kita yang bekerja di luar negeri (ini hanya ilustrasi kasar belum berdasarkan hasil sebuah penelitian).

3. Expenditure Approach atau Metode Pengeluaran.

Namanya juga metode pengeluaran, maka yang dihitung adalah berapa pengeluaran yang terjadi dalam suatu negara pada periode tertentu atau kalau mau keren pake bahasa ekonomi, yaitu nilai total konsumsi yang terjadi dalam suatu perekonomian. Pertanyaannya adalah pengeluaran atau konsumsi siapa yang harus dijumlahkan? Dalam suatu perekonomian, konsumsi atau pengeluaran yang dapat diperhitungkan ada 4 kelompok, yaitu :

a. Konsumsi Rumah Tangga, yaitu pengeluaran rumahtangga yang digunakan untuk konsumsi akhir;

b. Konsumsi Pemerintah, yaitu pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk konsumsi akhir baik berupa barang atau jasa. Jadi, pengeluaran yang bersifat tunjangan social tidak diperhitungkan. Hal ini yang menjadikan jumlah pengeluaran pemerintah yang tercantum pada PDB lebih kecil jumlahnya dari yang tercantum pada APBN;

c. Pengeluaran Investasi, yaitu pengeluaran sektor swasta dalam rangka pembentukan modal tetap;

d. Ekspor netto, yaitu selisih antara nilai ekspor dengan impor dari negara tersebut.

Well…sekarang dah tau kan cara menghitung pendapatan nasional. Sekarang segera ambil kalkulator hitung pengeluaran rumahtangga Anda, atau pendapatan Anda agar tahu berapa besar kontribusi Anda terhadap Pendapatan Nasional Indonesia….hehehhehe…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 4 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 6 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 7 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 9 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Citilink Kok Nggak Ngaret Lagi Sih…? …

Sony Hartono | 8 jam lalu

Mahasiswa Swasta Itu 90% Berbakat Menjadi …

Jejen Al Cireboni | 8 jam lalu

Perjalanan tanpa Tujuan adalah Tujuan …

Mochamad Syafei | 8 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Belajar Bahasa Inggris: Buat Pendengar …

Arbi Syah Sabi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: