Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Peter Sina

Senang menulis dan meneliti

Psikologi Keuangan 2

OPINI | 15 March 2012 | 20:02 Dibaca: 214   Komentar: 0   1

Investasi saham merupakan salah satu cara akumulasi aset keuangan. Maksud dari aset keuangan adalah sesuatu yang anda miliki akan mendatang arus kas masuk. Berpijak pada definisi aset sebelumnya tampak bahwa analisis yang tajam dan kemampuan mengontrol emosi menjadi syarat mutlak untuk dibenahi dan ditingkatkan. Untuk itu investor perlu memahami perangkap-perangkap emosi dan juga berbagai bias-bias yang akan mengarahkan pada penyimpangan risiko. Dalam tulisan ini akan memfokuskan pada perangkap-perangkap emosi sedangkan bias-bias akan dibedah pada tulisan berikutnya.

Perangkap emosi pertama yang perlu dipertimbangkan adalah kesombongan (pride). Bias emosi ini akan mengarahkan pada perilaku investor untuk mengakui dirinya lebih cerdas dari yang sebenarnya dan berefek pada ketidamauan untuk mengakui kesalahan. Hal ini akan membuat investor meyakini bahwa keputusan transasksi yang dibuatnya telah tepat, dan apabila terbukti salah maka investor yang memiliki sifat sombong tidak akan mengakuinya dan relatif akan mengulang lagi di masa mendatang.

Selain itu, perilaku investor yang didorong oleh kesombongan akan merasa mampu mengalahkan pasar walaupun pada kenyataannya tidaklah demikian. Satu hal yang tidak dipahami bahwa pasar tak dapat dikontrol, oleh karena itu yang perlu dikontrol adalah diri sendiri. Dan hal ini relatif sulit namun tetap dapat dilakukan karena untuk mengalahkan diri sendiri membutuhkan niat yang teguh dan konsisten. Perangkap emosi kedua adalah ketamakan (greed). Bias emosi ini sangat berbahaya, karena perilaku investor yang termanifestasi dalam keputusan transaksi bertendensi hanya berdasarkan niat untuk mendapatkan return yang tinggi dan mengabaikan risiko. Nalarnya adalah investor yang terdorong oleh ketamakan akan membuat keputusan keuangan berbasiskan pertimbangan untuk melihat harga yang tinggi karena menyangka bahwa harga yang tinggi menunjukkan investasi yang menguntungkan.

Bentuk lainnya dari ketamakan investor adalah perilakunya yang mendorong gelembung pasar. Penjelasannya adalah ketika investor melihat pasar saham lagi tinggi-tingginya bukannya waspada akan bantingan pasar melainkan ikut mendorong pasar melalui tindakan membeli sehingga pasar akan semakin menggelembung dan ketika tiba pada waktunya pasar berbalik arah maka kerugian pun akan terjadi. Mengapa, karena investor yang didorong oleh ketamakan berpeluang membalikkan the golden rule dari investasi saham yaitu beli murah dan jual mahal. Lanjutan dari ketamakan ini adakah yang disebut sebagai ketakutan (fear).

Investor yang didorong oleh ketakutan akan benar-benar merasa khawatir atas kejatuhan pasar atau penurunan harga saham dan segera mengambil posisi jual. Dengan mengambil posisi jual akan semakin memperburuk keadaan. Karena sekali lagi membalikkan the golden rule yaitu jual mahal dan beli murah. Lanjut bahwa ketakutan ini akan semakin menjadi-menjadi karena biasanya investor yang mengalami ketakutan (fear) juga bertendensi mengalami kesombongan dan ketamakan (greed). Kombinasi dari ketiga bias emosi ini akan mengakibatkan investor gagal belajar dari pengalamannya dan akan mengulang lagi siklus yang sama yaitu perilaku yang didorong oleh kesombongan serta ketamakan dan berakhir pada ketakutan. Dalam konkritnya hanya akan menghasilkan kerugian namun tak pernah mau belajar dari pengalaman mengalami kerugian tersebut.

Ditujukan untuk mereduksi atau mengurangi terperangkap dalam jebakan emosi (pride, greed, and fear), investor perlu berlatih untuk berdisiplin dan meningkatkan kecerdasan emosi. Karena pengendalian diri dan cerdas mengelola emosi maka investor relatif terhindar dari kerugian. Akhir kata, penulis mengutip nasihat indah dari sang Maestro Warrent Buffet bahwa ketika pasar sedang dipenuhi kesombongan dan kebanggaan maka bersiap-siaplah mengambil posisi menjual dan ketika pasar sedang dipenuhi ketakutan maka bersiap-siaplah mengambil posisi membeli.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 3 jam lalu

(Saatnya) Menghukum Media Penipu …

Wiwid Santoso | 3 jam lalu

Setelah Kalah, Terus Apa? …

Hendra Budiman | 4 jam lalu

Jokowi Raih Suara, Ahok Menang Pilpres …

Syukri Muhammad Syu... | 5 jam lalu

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: