Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Peter Sina

Senang menulis dan meneliti

Apakah Cara Bijak yang Digunakan Untuk Pemenuhan Kebutuhan?

OPINI | 03 May 2012 | 07:41 Dibaca: 501   Komentar: 2   2

Setiap manusia memiliki kebutuhan dan keinginan, dan terkait seni mengelola keuangan maka kebutuhan perlu mendapatkan prioritas utama karena pada prinsipnyakebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi supaya orang dapat menjalani hidup yang normal sedangkan keinginan merupakan sesuatu yang dapat ditoleransi pemenuhannya. Dalam artian bahwa keinginan tidak terlalu signifikan apabila tidak dipenuhi sedangkan kebutuhan bersifat harus dipenuhi terlebih dahulu.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan itulah terdapat dua langkah konkrit yang dapat ditempuh yaitu melalui cara sembarangan ataukah denga cara yang bijak. Terkait cara yang sembarangan maka orang dapat saja menggunakan uangnya dengan tidak terarah sehingga dalam proses mencapai kesejahteraan dapat saja mengalami ketertinggalan atau bahkan dapat saja mengalami keniscayaan. Sedangkan menggunakan cara bijak untuk mengelola keuangannya maka orang akan menjadi lebih percaya diri dan sejahtera karena tidak begitu saja mengeluarkan uang demi membeli sesuatu barang atau jasa.

Dalam tulisan ini akan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan menggunakan cara yang bijak yang termanifestasi dalam berpikir dengan tepat sebelum mengeluarkan uang. Dalam pengertian bahwa ketika hendak memutuskan untuk mengeluarkan uang maka orang tidak begitu saja mengeluarkannya melainkan dianalisis terlebih dahulu tentang manfaatnya dibandingkan biayanya. Dalam hal inilah ketepatan penalaran menjadi suatu hal signifikan diperlukan karena orang harus dengan cermat memprioritaskan pemenuhan kebutuhan. Dan kebutuhan tersebut diantaranya kebutuhan spiritual, pendidikan, asuransi, akumulasi aset serta yang sejenisnya.

Biasanya dalam menentukan prioritas tersebut, perlu dipersipakan bugdetnya terlebih dahulu sehingga tidak belanja dengan smebarangan. Maksudnya adalah menggunakan budget sebagai arah atau aturan dalam berbelanja sehingga terhindar dari lebih besar daripada tiang. Lebih spesifiknya lagi yaitu tehindar dari belanja yang berlebihan dan berakhir pada meningkatnya peluang mengalami kesulitan keuangan atau bahkan mengalami kebangkrutan pribadi. Untuk itu terdapat beberapa langkah konkrit yang dapat ditempuh untuk mengeluarkan uang dengan bijak. Pertama, buatlah rencana keuangan yang cermat seperti bagaimana membagi persentase keuangan sehingga tidak serta merta mengeluarkan uang tanpa sasaran yang masuk akal.

Kedua, milikilah bugdet yang rasional. Maksudnya adalah buatlah daftar belanja yang sesuai dengan persentase penerimaan sehingga ketika berbelanja di tempat pembelanjaan tidak akan kebingungan untuk membeli apa yang dibutuhkan. Ketiga adalah milikilah tekad dan komitmen untuk mengontrol keuangan anda sehingga tanggung jawab keuangan tidak berada pada orang lain emlainkan pada diri anda sendiri. Keempat adalah milikilah keyakinan yang kokoh bahwa anda mampu mengontrol keuangan anda. Kelima adalah berpikir positif. Penjelasannya adalah tetap yakin walaupun mengalami tantangan untuk mengontrol keuangan dan tetap belajar untuk mengontrol keuangan anda. Keenam adalah berkesinambungan untuk meningkatkan pengetahuan/pemahaman keuangan anda sehingga kian hari makin memhami aturan main serta prinsip-prinsip dari seni mengelola keuangan yang tepat sasaran.

Selain pemahaman cara-cara konkrit seperti penjelasan di atas, dibutuhkan juga perubahan cara pandang bahwa menjadi manusia yang dewasa dan mandiri dalam keuangan sangat membutuhkan kesadaran diri untuk mau menerima tanggung jawab keuangan tidak melemparnya kepada orang lain. Lanjut bahwa bermodalkan perubahan cara pandang tersebut, dapat ditarik benang merah dari seni mengelola keuangan yng tepat sasaran yaitu semuanya berawal dari kepala anda. Maksudnya adalah isilah dengan ide-ide yang membangun dalam kepala anda supaya memperoleh pencerahan dari esensi mengelola uang.

Ulasan sebelumnya signifikan karena ketika anda berkomitmen mengelola uang dengan tepat maka anda dapat saja tanpa disadari akan tergelincir dalam hasrat mengakumulasi keuangan tanpa dilandasi karakter yang benar. Dan semua itu termanifestasi dalam menjadikan uang sebagai tujuan hidup anda dan melupakan bahwa uang pada prinsipnya hanyalah alat yang berfungsi sebagai alat tukar, alat penyimpan nilai, satuan ukur dan untuk spekulasi yang mana dalam tulisan ini diartikan sebagai berinvestasi.

Akhir kata, cara mana yang akan anda gunakan untuk mengelola keuangan. Dalam artian apakah akan menggunakan cara bijak ataukah cara sembarangan, semua itu adalah keputusan anda. Namun jika dikritisi maka cara bijak adalah cara yang sangat masuk akal untuk menjadikan anda mengalami kebebasan keuangan yang ditandai dengan lebih besarnya aset dibandingkan liabilitas. Dengan kata lain yaitu orang akan memiliki sejumlah harta produktif yang lebih besar daripada harta konsumsi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 7 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 8 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 9 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 10 jam lalu

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Waspada, Ancaman Katup Jantung Bocor pada …

Yuni Astuti | 8 jam lalu

United Kalah, Wujud Kerinduan Hairdryer …

Aristo Setiawan | 8 jam lalu

Kolaborasi Rasa …

Puji Anto | 8 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Jadzab, Istimewa atau Abnormal? …

Mahrus Afif | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: