Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Helen Nq

orang gak penting yang lagi belajar menulis tanpa ditunggangi kepentingan

Opportunity Cost

OPINI | 18 May 2012 | 21:09 Dibaca: 500   Komentar: 2   0

Namanya manusia selalu berhadapan dengan pilihan. Apapun pilihannya butuh pertimbangan yang cermat, timbang sana dan timbang sini, dan timbangan kita biasanya akan jatuh ke timbangan yang berat. Timbangan ini biar berat, bisa diisi dengan berbagai justifikasi-justifikasi yang masuk akal menurut si penimbang.

Dalam ilmu timbang menimbang menurut orang pelit bin jlimet (akuntan) biasanya dikenal biaya relevan (relevan cost), inti dari relevan cost adalah jika biaya tersebut berbeda pada setiap pilihan, baru deh relevan untuk dipertimbangkan. Misalkan, kita memilih naik taksi atau naik bus? jika naik bus atau taksi sama-sama membutuhkan ongkos Rp. 5.000, (ini misalkan ya..) maka terhadap kedua pilihan tersebut tidak relevan untuk dipertimbangkan costnya, toh naik taksi maupun naik bus sama-sama butuh biaya lima ribu.

Biaya relevan biasanya bersinggungan dengan kajian biaya kesempatan (opportunity cost). Opportunity cost bisa diartikan sebagai kesempatan yang hilang akibat kita memilih sebuah alternatif. Semakin banyak kita bisa membuat list dalam menghitung kesempatan yang hilang terhadap alternatif yang disajikan maka semakin tepat keputusan yang kita ambil. Misal, ketika saya memutuskan mengambil beasiswa tuk melanjutkan studi. Saat keputusan ini saya ambil beberapa list yang saya buat, diantaranya penghasilan, karir, waktu (semakin rajin berfikir akan semakin banyak list yang muncul untuk dipertimbangkan). Sebagai pegawai (saja) beasiswa tentulah pilihan yang wajib diperhitungkan, saya mulai menghitung biaya kuliah dan biaya hidup yang ditanggung oleh sponsor dibanding dengan penghasilan (berupa honor-honor) yang hilang jika saya memilih tugas belajar, hasil yang saya hitung ternyata besar biaya yang saya terima dari sponsor ketimbang penghasilan yang hilang. Trus waktu, kebetulan pihak sponsor memberikan program akselerasi tuk penerima beasiswanya, 13 bulan tamat, ini sangat hemat waktu jika saya kuliah biasa. Karir, tak mudah mendapatkan beasiswa tersebut, jika saya mampu menembus beasiswa tersebut otomatis prestisenya mendukung karir saya ke depan, ini jauh lebih bagus jika saya mampu kuliah dengan biaya sendiri. Nah setelah ketiga pertimbangan tersebut maka jadilah saya dengan keputusan memilih membiayai kuliah saya dengan beasiswa..

Mungkin ada yang berfikir, tentu kuliah dengan beasiswa itu menguntungkan. Tidak selalu begitu, jika opportunity costnya lebih besar dibanding biaya sendiri maka biaya sendiri lebih bagus dibandingkan memilih beasiswa. Nah selamat mencoba tool opportunity cost untuk setiap pilihan-pilihan yang akan kita buat…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: