Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Ariyani Na

Hidup tidak selalu harus sesuai dengan yang kita inginkan ... Follow me on twitter : @Ariyani12

Keuangan Keluarga, Bagaimana Mengaturnya? -1

OPINI | 15 September 2012 | 07:53 Dibaca: 6367   Komentar: 35   9

“Na, Jika  boleh saya berharap/bersaran atau apapunlah istilahnya, sepertiga waktu dan jenis tulisan, bisa dikonsen disini di manajemen keuangan keluarga” begitulah komen Mbak Aridha Prasetya yang cantik dan pintar pada tulisan saya yang berjudul keuangan keluarga pasca lebaran

Apa yang disampaikan Mbak Aridha pada komen tulisan saya diatas menjadi sebuah PR menyenangkan buat saya, dan sekaligus membuat saya terus berpikir apakah benar saya mampu menulis sebuah topik yang dasar ilmunya tidak pernah saya selami. Namun karena saya berprinsip bila belum mencoba kita tidak akan pernah mengetahui batas kemampuan kita maka dengan bermodalkan pengamatan, pengalaman pribadi dan pengalaman saat bekerja dulu, saya persembahkan tulisan ini untuk Beliau.

Secara disadari atau tidak disadari, setiap keluarga memiliki manajemen keuangan keluarga dalam bentuk sederhana, namun siapa yang bertindak sebagai manajer dan bagaimana cara masing masing keluarga mengatur keuangan akan berbeda-beda. Berikut adalah manajemen keuangan keluarga yang berlaku di masyarakat :

  1. Keuangan keluarga diatur sepenuhnya oleh Ibu Rumah Tangga (istri), suami akan menyerahkan seluruh penghasilannya kepada istri untuk dikelola, dan biasanya suami hanya meminta ‘jatah’ untuk keperluan pribadi sehari-hari.
  2. Keuangan keluarga diatur sepenuhnya oleh Kepala Keluarga (Suami), istri hanya akan mendapatkan uang untuk belanja keperluan rumah tangga sehari-hari
  3. Keuangan keluarga diatur bersama, biasanya cara ini berlaku bagi suami istri bekerja dan pengaturan keuangan berlaku berdasarkan kesepakatan pos-pos mana yang menjadi bagian suami dan pos-pos mana yang menjadi bagian istri. Contoh, suami bertanggung jawab untuk membayar uang sekolah, tagihan listrik, air, cicilan mobil/motor dan sebagainya. Sedangkan istri bertanggung jawab untuk belanja kebutuhan hari-hari.

Bila ingin membahas manajeman keuangan keluarga maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai sumber penghasilan yang diterima oleh keluarga, karena beda sumber penghasilan beda juga cara mengaturnya. Menurut sifatnya ada 2 jenis sumber penghasilan, yaitu sumber penghasilan yang bersifat tetap dan sumber penghasilanbersifat tidak tetap.

Sumber Penghasilan Tetap

Disebut tetap karena penghasilan yang diterima bersifat tetap, ada yang tetap dari sisi jumlah dan waktu, namun ada pula yang tetap hanya dari sisi waktu

1. Tetap dalam jumlah dan waktu, artinya setiap bulan keluarga akan menerima penghasilan dengan jumlah yang sama dan waktu yang sama, contohnya seorang karyawan memiliki gaji Rp. 5 juta per bulan yang diterima setiap tanggal 25.

2. Tetap hanya dari sisi waktu, berarti penghasilan diterima setiap bulan di tanggal yang sama, namun besarnya penghasilan setiap bulan tidak sama. Biasanya ini berlaku untuk orang yang bekerja di marketing, yang penghasilannya dihitung berdasarkan komisi.

Sumber Penghasilan Tidak Tetap

Disebut tidak tetap karena besarnya penghasilan yang diterima tidak selalu sama dan waktu penerimaannya pun tidak dapat dipastikan. Contoh yang paling mudah untuk menggambarkan sumber penghasilan tidak tetap ini adalah wirausahawan atau kontraktor.

Untuk dapat menemukan cara mengatur keuangan keluarga berdasarkan sumber penghasilan maka ada baiknya kita mempelajari perilaku para manajer keuangan keluarga dalam mengatur keuangan keluarga yang ada saat ini :

  1. Ada yang melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran secara terperinci sehingga sang manajer keuangan dapat menghitung besarnya pengeluaran selama satu bulan dan dapat dievaluasi apakah ada pos-pos pengeluaran yang sebenarnya tidak diperlukan.
  2. Saat menerima gaji, ada yang langsung memisahkan sesuai pos-pos pengeluaran, seperti untuk belanja keperluan sehari-hari, untuk keperluan sekolah, untuk membayar tagihan listrik, air dan lain-lain dan sisanya untuk keperluan tak terduga.
  3. Ada juga yang tidak memiliki perencanaan matang, uang dikeluarkan sesuai kebutuhan saat itu, bila gaji tidak mencukupi sampai akhir bulan, maka dana tambahan dikeluarkan dari tabungan. Bila tidak memiliki tabungan, biasanya akan menggunakan kartu kredit.
  4. Dengan alasan praktis tidak perlu membawa uang tunai dan bisa dibayar bulan depan, ada yang lebih senang bertransaksi dengan kartu kredit, dari pembayaran tagihan listrik, telepon hingga belanja bulanan dilakukan dengan kartu kredit. Tidak jarang saya jumpai ada yang memiliki banyak kartu kredit dari bank berbeda-beda dan si pemilik sangat hafal dengan tanggal jatuh tempo masing-masing, jadi penggunaan kartu disesuaikan dengan tanggal jatuh tempo
  5. Ada yang mengumpulkan setiap struk belanja, kwitansi bayaran dan tagaihan dan kemudian direimburst kepada suami, kecuali untuk belanja ke pasar.
  6. Untuk yang berwiraswasta, ada yang melakukan pemisahan keuangan usaha dengan keperluan pribadi/keluarga tapi ada pula yang tidak, semua keperluan langsung diambil dari dana usaha tersebut.

Bersambung sambil berharap teman-teman kompasianer bersedia membagi pengalamannya dalam mengatur keuangan keluarga.

Tulisan Lanjutan : Keuangan keluarga, Bagaimana Mengaturnya-2

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 4 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 6 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 11 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 7 jam lalu

Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Me Time (Bukan) Waktunya Makan Mie! …

Hanisha Nugraha | 7 jam lalu

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | 7 jam lalu

Semoga Raffi-Gigi Tidak Lupa Hal Ini Setelah …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: