Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Rahmat Febrianto

Blogger dan siswa; @rfebrianto; 2eyes2ears.blogspot.com

Eskalasi Komitmen pada Skema Ponzi seperti di VGMC

OPINI | 24 September 2012 | 08:24 Dibaca: 1760   Komentar: 5   1

Pada artikel yang lalu, saya membeberkan bagaimana skema ponzi berjalan. Di dalam artikel tersebut saya tunjukkan bahwa jika anda berinvestasi di sebuah perusahaan yang menjalankan skema ponzi, maka anda akan mendapatkan dividen atau return 10% per bulan atas investasi anda. Jika diasumsikan anda menginvestasikan uang anda pada tanggal 1 Januari 2012, bunga atau dividen 10% per bulan, dan dividen dibayar setiap awal bulan berikutnya dan bisa dicairkan pada hari yang sama, maka 10 bulan kemudian, pada tanggal 1 November uang anda telah seluruhnya kembali. Catatan: di skenario ada pembayaran komisi/bonus, jadi nilainya harus dikeluarkan dulu.

Pertanyaannya, “Apakah anda akan menerima dividen lagi pada bulan ke-11 ketika dana anda sebenarnya sudah nol di rekening perusahaan tersebut?”

Jawaban saya: TIDAK.

Pertanyaan berikutnya, “Bagaimana caranya untuk tetap bisa mendapatkan dividen lagi?”

Jawaban saya: Anda harus menambah investasi anda karena memang demikian prinsip skema ponzi ini berjalan. Lihat saja pengakuan investor ECMC di pada komentar no. 1 di artikel saya.

Di artikel yang pertama tadi saya juga menunjukkan bahwa investor di level terendah, level D, dengan asumsi-asumsi yang saya gunakan untuk membuat skenario aliran kasnya, tidak akan mendapatkan pengembalian atas semua uangnya. Di dalam skenario itu, ketika level B dan C sudah mendapatkan pengembalian uangnya, level A, level tertinggi, sudah tidak lagi memiliki cukup uang untuk membayar dividen kepada 14 orang investornya.

Jika kondisi ini yang terjadi atau diramalkan terjadi apa yang ada di benak pembuat skema, yaitu level A di dalam skenario saya?

Pertama, ia lari saja. Toh, ia telah mendapatkan uang. Di dalam skenario itu nilainya $800. Itupun dengan asumsi skema ini berlangsung di dalam sebuah negara dengan mata uang yang sama, tidak ada beda nilai tukar. Bayangkan saja keuntungan yang lebih besar dinikmati oleh Tuan A jika transaksi berlangsung antar negara dan ia bisa leluasa menetapkan kurs nilai tukar. Jelas keuntungannya akan lebih besar lagi.

Kedua, ia tidak akan membolehkan skenario seperti saya berjalan. Strateginya (1) Anda tidak bisa mencairkan dividen di hari ia jatuh tempo, anda harus menunggu sekian puluh hari sebelum permintaan anda diproses dan dicairkan dan/atau; (2) Anda harus mengumpulkan dulu dividen hingga mencapai jumlah tertentu sebelum bisa dicairkan. Mengapa salah satu atau kedua strategi digunakan? Jawabannya sederhana saja: jika tidak, maka dalam 10 bulan permainan selesai.

Strategi ke-3, dan percayalah ini telah direncanakan matang-matang sejak awal, jika anda, orang di level B dan C, ingin mendapatkan dividen lagi maka anda harus menambah investasi anda ke dalam perusahaan, dan, yang paling “menyakitkan”, nilai investasi pasti lebih tinggi. Misalnya, jika pada kali pertama anda berinvestasi hanya butuh $1,000 untuk membeli sekian ribu saham (1 lot), maka untuk investasi berikutnya anda butuh lebih banyak uang untuk membeli saham dalam jumlah yang sama (1 lot), atau, taktik yang lain, harga untuk sekian ribu saham masih sama, $1,000, namun anda tidak lagi diizinkan membeli hanya 1 lot, misalnya, naik menjadi 2, 3, 4, atau berapapun yang ditetapkan oleh pemilik skema. Tujuannya demi mempertahankan piramida ponzi itu.

Nah, saya mendapat berita bahwa hal-hal di atas memang yang berjalan di dalam bisnis skema ponzi,terutama yang berjalan di Indonesia. ECMC adalah bukti nyata, VGMC masih terus berjalan, namun tidak akan lama mengingat strategi-strategi yang saya jelaskan di atas sedang dijalankan oleh pemilik skema ini. Menurut saya, jika strategi di atas mulai dijalankan, berarti gelembungnya sudah sangat besar, menunggu pecah.

Pertanyaan psikologis yang mencuat kemudian adalah mengapa ada orang yang telah masuk ke dalam bisnis tersebut masih tetap mau menambah uang mereka ke skema itu?

Penjelasannya bisa kita dapatkan dari sebuah fenomena yang disebut dengan eskalasi komitmen atau ada yang menyebutnya eskalasi komitmen yang irasional.

Fenomena apa ini?

Mari saya beri contoh. Ketika AS berperang di Vietnam mereka terus melanjutkan perang tersebut meski secara material dan nyata mereka telah kalah. Mengapa mereka terus berperang dan menambah pasukan dan peralatan–semuanya adalah investasi? Karena mereka mengira bahwa dengan penambahan pasukan tersebut mereka bisa memenangi perperangan itu. Nyatanya sebaliknya. Contoh lain, seorang istri telah dikhianati oleh suaminya. Namun, setiap kali suaminya meminta maaf dan memohon diberi kesempatan memperbaiki diri, setiap kali itu pula si suami kembali berkhianat. Pada akhirnya, setelah sekian kali pengkhianatan, sekian tahun berlalu, si istri masih “terperangkap” di dalam investasi waktunya terhadap suaminya tersebut.

Di dalam dunia bisnis, fenomena eskalasi komitmen (EK) ini disebabkan oleh, di antara beberapa, pembuatan keputusan yang buruk; ketiadaan evaluasi; dan ketidakpahaman terhadap konsep kos tertanam (sunk cost).

Bagaimana fenomena EK ini dikaitkan dengan para investor di skema ponzi?

Dari skenario yang saya buat di artikel yang lalu, di bulan September investor di level kedua, Tuan B1 dan B2, telah balik modal (dari dividen dan komisi). Nah, jika ia ingin mendapatkan dividen lagi di bulan Oktober dan selanjutnya, ia harus menambah investasi. Pada titik ini sebenarnya Tuan B1 dan B2 harus mengevaluasi proyeknya. Investor yang canggih (sophisticated) dan rasional akan memiliki instrumen tersendiri untuk mengendalikan proyeknya. Seandainya anda telah mendapatkan return akumulatif yang sama dengan nilai investasi awal, maka artinya anda telah mendapatkan keuntungan, walau nol. Ingat bahwa dengan risiko bisnis kecil sekalipun, seorang investor yang bisa mengembalikan investasinya ke titik balik modal adalah investor yang baik.

Nah, di titik ini, ketika investor di level B, berlaku juga untuk investor level C di skenario saya tersebut, diminta untuk menambahkan investasi lagi, ia harus mengevaluasi bisnisnya terlebih dahulu sebelum berinvestasi lagi. Tuan B1 dan B2 harus melupakan bahwa ia memiliki $1,000 yang “terkurung” di dalam rekening Tuan A dan bahwa mereka harus mengembalikannya. Ini yang disebut dengan kekeliruan memahami kos tertanam itu. Investor level B dan C harus melupakan kos yang telah tertanam itu. Jangan pernah dihitung lagi jika return dari dividen sudah setara dengan kos tertanam tersebut. Menambah investasi baru bukanlah cara untuk mengembalikannya, namun hanya untuk menambah risiko anda karena anda harus mengembalikannya.

Bagaimana dengan investor di level D, yaitu Tuan D1 hingga D8? Jika di bulan November adalah bulan terakhir anda menerima dividen dan setelah itu anda tidak lagi menerimanya, atau, jika disyaratkan untuk mendapatkan lagi anda harus menyetorkan dana tambahan, maka segeralah menghentikan risiko anda atau setidaknya menguranginya. Secara psikologis anda akan terdorong untuk menambah investasi pada sebuah bisnis yang di awalnya kelihatan begitu menjanjikan dan menguntungkan namun kemudian tiba-tiba berubah menjadi sebaliknya. Dorongan seperti ini tidak hanya terjadi pada anda, namun pada manusia secara umum. Saya sangat yakin bahwa perancang skema ponzi seperti VGMC, ECMC, ClubdeAngel/Unwall.net, dll paham sekali dengan aspek psikologis ini. Jadi, investor di level D lebih baik “merelakan” kerugian sebesar $200 per orang itu dan keluar dari sana. Itu adalah risiko terendah dan menjadi lebih tinggi lagi jika ia mengeskalasi komitmennya.

Tulisan ini untuk menjelaskan kepada para penggemar, mania VGMC yang mengkritik “perintah” saya untuk segera keluar dari bisnis VGMC. Alasan saya tidak hanya karena bisnis tersebut tidak legitimat sama sekali–perusahaan tambang emas tanpa tambang?–namun juga agar orang yang telah berada di sana tidak menambah kos tertanam (sunk cost) lagi ke dalam skema itu.  Saat menulis ini saya mendengar bahwa keluarga seorang sahabat sedang mencari cara untuk menambah investasinya–dan untuk merekalah tulisan ini didedikasikan.

Sleman, 24 September 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menengok Harga BBM dan Cara …

Tjiptadinata Effend... | | 28 August 2014 | 18:04

BBM Menguji Dua Kapasitas Kepemimpinan …

Jusman Dalle | | 28 August 2014 | 15:41

Foto Dicuri, Om Dedes Descodes Ngetop …

Widianto.h Didiet | | 28 August 2014 | 17:02

Masih Soal Final Piala Dunia 2014 …

Ahmad Khadafi | | 28 August 2014 | 16:28

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Mafia Migas dibalik Isyu BBM …

Hendra Budiman | 5 jam lalu

Pelecehan Seksual pun Terjadi Pada Pria di …

Nyayu Fatimah Zahro... | 11 jam lalu

Jokowi dan “Jebakan Batman” SBY …

Mania Telo | 11 jam lalu

Kota Jogja Terhina Gara-gara Florence …

Iswanto Junior | 14 jam lalu

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Membangun ‘Candu’ Budaya …

Irman Syah | 7 jam lalu

Bahasa Asing Bisa Menambah Kecerdasan Anak …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Festival Film Indonesia 2014 …

Wurry Parluten | 8 jam lalu

Dhimas Juara, dan Menemukan Jalannya …

Thamrin Sonata | 9 jam lalu

Jatah Kursi Parlemen untuk Jurnalis Senior …

Hendrik Riyanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: