Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Hesti Edityo

seorang anak dr seorang lelaki, seorang istri dr seorang lelaki, seorang ibu dari 4 lelaki selengkapnya

Hikmah dari Utang Piutang

OPINI | 15 November 2012 | 13:56 Dibaca: 1200   Komentar: 10   2

Awal menikah, suami saya sudah wanti-wanti, jangan sampai menghutang, apalagi yang berhubungan dengan sesuatu yang kita makan. Sebuah saran yang baik sebenarnya, dan sedapat mungkin saat itu saya menghindar dari urusan hutang. Bukan karena kehidupan kami yang bergelimang harta hingga suami berprinsip demikian, justru sebaliknya, kehidupan kami berdua saat itu pas-pasan karena hanya suami yang bekerja. Saya sendiri masih sibuk mondar-mandir Serang - Semarang untuk urusan ijazah karena baru usai diwisuda dan belum bekerja seperti sekarang. Tujuan suami menghindari hutang semata-mata agar kami tidak semakin kesulitan mengatur keuangan. Tapi, apa daya, kehidupan seringkali tidak sesuai rencana. Meskipun sudah berusaha sekeras mungkin untuk “tidak berhutang”, pada akhirnya masuk juga kami ke dalam dunia utang-piutang. Mulai dari urusan kredit kendaraan hingga hal-hal di luar dugaan. Meskipun begitu, kami berusaha semaksimal mungkin, agar hutang yang kami punya tidak sampai memberatkan kehidupan kami dan tidak menjadikannya besar pasak daripada tiang.

Ada satu peristiwa terkait urusan hutang ini, yang bagi saya cukup pahit untuk dikenang. Saat hamil anak ke-2, uang simpanan yang sedianya akan digunakan untuk persiapan melahirkan dan aqiqah, dipinjam saudara. Pikir kami, ah, saudara sendiri dan kami pun sudah wanti-wanti agar uang tersebut dikembalikan tepat waktu. Sama sekali kami tidak berpikiran negatif saat itu. Hingga kehamilan saya mendekati 9 bulan, uang yang dipinjam belum kembali. Persoalan bertambah, saat anak sulung kami jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, sementara hanya ada uang 100 ribu rupiah di tangan saya!

Hampir seharian anak kami tertahan di UGD, karena kamar yang kosong hanya di pavilliun, sementara jatah rawat inap dari Askes saya sebagai pegawai negeri adalah di kelas II. Jatah dari Jamsostek suami pun tak jauh beda, harus di kelas II! Jika kami nekat mengambil kamar di pavilliun, charge yang harus kami bayar jauh lebih besar dari jatah asuransi, padahal tak ada uang di kantong kami. Saking bingungnya, sempat kami berdua, saya dan suami, tersedu di ruang UGD. Antara bingung dan tak tega melihat anak kami yang tergeletak di UGD. Akhirnya, suami memutuskan menelpon saudara yang meminjam uang kami. Tapi jawaban yang kami dapat, “Maaf, belum bisa mengembalikan sekarang karena bla bla bla bla…..”.

Jujur perasaan saya saat itu sedih bercampur marah. Sedih karena kondisi yang menerpa kami, marah karena uang kami belum bisa kembali dengan alasan, uangnya dipakai untuk membeli barang yang menurut saya sangat tidak penting! Tega sekali, pikir saya. Meminjam hanya untuk hal sepele tapi enggan mengembalikan tepat waktu, meskipun saya sedang benar-benar membutuhkannya!

Semakin terjepit dengan kondisi, kami yang biasanya enggan merepotkan orang tua, dengan sangat terpaksa menelpon Ibu saya. “Kalau uang sebanyak itu Ibu nggak pegang, Nak. Biar adikmu bawa kalung dan gelang Ibu saja, ya, yang penting cucu Ibu segera tertangani dokter dan segera masuk ke kamar perawatan biarpun harus nombok.” Akhirnya, anak kami masuk juga ke ruang perawatan. Kalung dan gelang Ibu seberat 20 gram dibawakan adik beserta surat-suratnya lengkap sore itu, dan sampai di tempat kami esok paginya. Adik saya pun menyampaikan pesan Ibu, “Kata Ibu, jual saja perhiasan Ibu ini, mbak.”

Saat itu saya putuskan untuk tidak menjual perhiasan milik Ibu, karena saya paham betul, perhiasan itu adalah tabungan Ibu. Saya pilih gadaikan kalungnya saja, sedangkan gelang saya simpan. Itulah kali pertama saya berurusan dengan PEGADAIAN. Berdua dengan adik, saya sempat celingukan di pegadaian. Ada rasa malu, dan entah apa lagi yang menggelayuti benak saya. Uang dari menggadaikan kalung selain cukup untuk menutup biaya rumah sakit yang tidak masuk tanggungan asuransi, juga masih cukup untuk biaya melahirkan anak ke-2 saya. Alhamdulillah, kalung Ibu pun tak perlu menginap terlalu lama di pegadaian, sebulan kemudian tak dinyana tak disangka kami mendapat rejeki untuk menebus kalung dan juga untuk mengadakan syukuran aqiqah.

Meskipun cukup pahit, ada pelajaran yang besar yang akhirnya kami petik. Selalu ada hikmah dibalik musibah. Dari masalah hutang, kami belajar, bagaimana pentingnya sebuah tabungan dan bersikap hati-hati dalam urusan hutang. Tidak sembarangan pinjam dan meminjamkan uang. Sejak itu, sedapat mungkin saya usahakan ada sejumlah dana dengan nominal tertentu di tabungan yang tidak boleh diotak atik untuk apapun (termasuk untuk dipinjamkan), kecuali mendesak. Dari sini, mau tidak mau, saya belajar berhemat dan tidak konsumtif. Seandainya kami yang harus berhutang pun, sebisa mungkin kami tidak berhutang ke perorangan dan memilih berhutang ke institusi seperti koperasi kantor dengan catatan, alasan berhutang jelas dan penting (tidak semata-mata untuk konsumerisme semata). Tujuannya, agar kami tidak menyepelekan persoalan hutang dan sampai menimbulkan masalah di kemudian hari, misalnya terganggu hubungan silaturahmi karena masalah hutang, dan disiplin dalam membayar.

Hikmah lain terkait persoalan hutang yang saya petik adalah, belajar bersikap ikhlas meski sangat berat (bahkan belum sepenuhnya bisa saya lakoni)! Ya, uang yang dulu dipinjam saudara, hingga saat ini anak ke-2 saya hampir berumur 6 tahun, belum dikembalikan sepeserpun. Setelah peristiwa anak sulung saya yang sakit, setidaknya dua kali saya pernah menagihnya kembali. Jawabannya pun masih sama. Akhirnya, ya, sudahlah. Mencoba pasrah, jika memang masih rejeki kami pasti kembali, jika tidak pun, sesungguhnya Yang Di Atas sudah menggantinya berlipat-lipat kali.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 15 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 18 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 18 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 19 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 25 October 2014 08:22


HIGHLIGHT

Kartu Kuning M Taufik dan Hukuman Mati bagi …

Hsu | 9 jam lalu

Surat Terbuka Untuk Presiden Joko Widodo …

Teguh Sunaryo | 9 jam lalu

Keluarga Pembaca …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

KMP Mengincar posisi Menteri …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: