Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Pandji Harsanto

Penulis Buku Make Your Own Plan! Perencana Keuangan Independen email : pandji.harsanto@gmail.com twitter : @pandjiharsanto www.pandjiharsanto.com selengkapnya

Perbedaan Menabung dan Investasi

OPINI | 15 December 2012 | 11:15 Dibaca: 865   Komentar: 0   1

Tersebutlah kisah dua keluarga,

Keluarga pertama adalah Pak Kolot dan keluarga kedua adalah Pak Belajar.

Pak Kolot dan Keluarga Belajar sama-sama mempunyai putra yang berumur 1 tahun.

Keluarga Kolot adalah keluarga yang cukup berada, karena orang tua Pak Kolot sempat mewariskan sejumlah uang warisan sebesar 200 juta yang cukup besar bagi keluarga muda itu.

Sedangkan Keluarga Belajar adalah keluarga yang biasa saja, mereka pun keluarga muda namun mereka merintis segalanya dari nol.

Pak Kolot dan Pak Belajar bekerja di kantor yang sama, dan dengan level jabatan yang sama dan penghasilan yang sama pula. Namun karena saat ini kekayaan mereka berbeda, gaya hidup mempengaruhi pengeluaran keluarga mereka.

Dari penghasilan mereka yang saat ini sebesar 5 juta rupiah per bulan, dari penghasilan Pak Kolot seluruhnya digunakan untuk konsumsi karena gaya hidup mereka, dan uang warisan yang mereka depositokan.

Sedangkan Pak Belajar berusaha dari penghasilannya mereka berusaha menabung dan investasi yang besarnya 20% dari penghasilannya yaitu 1 juta rupiah per bulan.

Pak Kolot dan Pak Belajar sama-sama ingin menyekolahkan kelak anak mereka ke Perguruan tinggi A yang ternama di kotanya

Mereka tahu bahwa saat ini biaya kuliah S-1 di perguruan tinggi A sampe selesai biayanya saat ini sebesar 160 juta rupiah.

Berikut Percakapan di Keluarga Pak Kolot:

Bu Kolot : Pa, saat ini kan anak kita baru umur 1 tahun, Mama pingin nanti kita siapkan uang kuliah buat anak kita kuliah di Perguruan Tinggi A seperti anaknya Mas Dadik, Kata Mas Dadik untuk biaya kuliah anaknya sampe selesai butuh biaya 160juta. Tapi hampir tiap bulan kita tidak pernah menabung.
Pak Kolot : Tenang aja Mama, kita kan masih ada deposito 200 juta, kelak deposito tersebut yg kita gunakan untuk biaya kuliah anak kita, sekarang kita nikmati saja dulu penghasilan ini untuk kebutuhan keluarga kita. Toh deposito kita cukup besar untuk keluarga muda seperti kita.

Sedangkan Percakapan di Keluarga Pak Belajar

Bu Belajar : Pa, Mama pingin sekali anak kita ini nantinya bisa kuliah di Perguruan Tinggi A, Mama dengar informasi dari Bu Kolot biaya kuliahnya butuh 160juta saat ini, dan Mama sempat tau dari beberapa perencana keuangan kalo biaya pendidikan saat ini bisa naik 15% sampai 20% per tahunnya. Dan itu bener lho Pa.. Tahun lalu aja untuk kuliah di Universitas itu butuh biaya 140juta. Berarti naiknya 15% pertahun Pa. Apa bisa ya kita menyekolahkan anak kita ke sana?
Pak Belajar : iya Ma, memang benar tiap tahun biaya pendidikan pasti naik, dan kita gak bisa berharap dari menabung saja untuk biaya kuliah tersebut, untungnya Papa minggu kemarin sempet mengikuti workshop dan kelas perencanaan keuangan, jadi ada bagian dari penghasilan kita yang harus ada yang ditabung dan diinvestasikan, Alhamdulillah kita saat ini bisa menyisihkan 20% dari penghasilan kita, itu yang nanti kita gunakan untuk merencanakan keuangan kita..
Bu Belajar : lah kalo kata papa tadi untuk biaya pendidikan saat ini saja sudah 160 juta, berapa biayanya untuk 17 tahun lagi pas anak kita masuk kuliah?
Pak Belajar : sebentar ya Ma, Papa coba itung dulu, ternyata jadi 1.721 juta atau 1,7 Milyar Ma..
Bu Belajar : wah gimana caranya Pa, kalo kita saat ini cuma bisa nabung 1 juta perbulan, berarti butuh 1.721 bulan dong Pa untuk bisa sampe. Itu sama aja butuh 143 tahun. Bagaimana caranya Pa? Apa kita pasrah saja dengan biaya pendidikan yang semahal ini?
Pak Belajar : Tenang Mama jangan putus asa gitu.. Itu gunanya Papa kemarin belajar perencanaan keuangan. Untuk jangka panjang kita bisa investasi Ma untuk mencapai tujuan dana pendidikan anak kita.. Jadi setelah Papa hitung jika kita investasi jangka panjang dengan yang memberikan rata-rata return 25% per tahun, untuk 1.721.000.000 selama 17 tahun ini kita cukup investasi sebesar 540ribu per bulan.
Bu Belajar : serius itu Pa?
Pak Belajar : iya serius.. Dua Rius Malah..
Bu Belajar : Pa, ini gak main2, ini buat pendidikan anak kita..
Pak Belajar : iya Papa serius.. Malah pada saat pelatihan perencanaan keuangan, Papa diajarkan untuk cek kesehatan keuangan dulu sebelum melakukan investasi, seperti bagaimana menghapus hutang konsumtif, membeli asuransi yang benar dan membuat dana darurat.
Bu Belajar : syukurlah Papa belajar Perencanaan Keuangan, jadi kita bisa mengelola keuangan kita lebih tepat dan terarah.
Pak Belajar : Iya Ma, semoga kita bisa menjadi keluarga yang mandiri secara finansial.

Pada kenyataannya uang yang di depositokan oleh Pak Kolot sebesar 200juta selama 17 tahun, dengan bunga deposito 6% dan dipotong pajak 20% Hanya membuahkan hasil 443 juta.

Sedangkan total yang diinvestasikan oleh Pak Belajar selama 17 tahun dikali 12 bulan dan dikali 540ribu hanya sebesar 110.160.000 jauh lebih kecil, hanya separuh dari yang ditabung oleh Pak Kolot.

Disclaimer :

Ilustrasi dan perhitungan yang ditampilkan bukan merupakan jaminan suatu hasil yang pasti akan didapat, suatu produk investasi belum tentu memberikan hasil yang sama untuk setiap investor, oleh karena itu calon investor disarankan untuk meminta saran dari rekomendasi dari pihak yang ahli. Calon Investor harus memahami adanya kemungkinan risiko pada investasinya.

sumber : http://pandjiharsanto.com/2012/11/25/perbedaan-mendasar-menabung-dan-berinvestasi/

Untuk konsultasi dan tips keuangan follow @pandjiharsanto

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 9 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 11 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 13 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 13 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepotong Asia di Jakarta Street Food …

Syaifuddin Sayuti | 8 jam lalu

Negeri Para Pezina …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indonesia Gagal Raih Keajaiban di Vietnam …

Abd. Ghofar Al Amin | 8 jam lalu

Swasembada Medis …

Harfina Finanda Anw... | 8 jam lalu

Sepakbola bukan Matematika …

Guntur Cahyono | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: