Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Samurai Jagoan

Seorang Entrepreneur, Praktisi & Owner Wenmit Pecel Bento, Penulis Buku, Provokator Entrepreneur, Pembicara Seminar, dan selengkapnya

Dana Talangan

OPINI | 29 December 2012 | 07:53 Dibaca: 1321   Komentar: 0   0

Suatu saat, dalam sebuah forum yang saya hadiri, saya mendapatkan sebuah informasi yang cukup mengagetkan, informasi tentang peraturan yang sudah berlaku mengenai pelunasan kredit dengan jaminan.

Berdasarkan informasi itu, katanya ada ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia yang mengatur bahwa sekarang ini proses pelunasan kredit tidak lagi bisa langsung dibayar atar bank, tapi harus dilunasi dulu oleh nasabah yang bersangkutan sebelum proses transaksi lainnya berlanjut.

Peraturan ini oleh Bank Indonesia sebenarnya sudah dikeluarkan mulai awal tahun 2012, tapi karena berbagai alasan tehnis dilapangan sosialisanya kurang sekali sehingga baru dipertengahan tahun 2012, peraturan ini semakin merata diberlakukan oleh hampir setiap bank yang ada di Indonesia, baik itu bank konvensional maupun bank micro.

Proses pelunasan itu harus dilakukan dulu secara tunai oleh nasabah yang bersangkutan, baik itu karena minta si nasabah meminta kenaikan limit kredit atau lebih dikenal dengan istilah top up di bank yang sama, ataupun pelunasan itu harus terjadi akibat kita sebagai nasabah memindahkan pinjaman yang sudah dimilikinya dari suatu bank ke bank lainnya, yang secara umum biasa kita kenal dengan istilah take over.

Sebelum dikeluarkan dan berlakunya peraturan tersebut, contohnya: jika saya sebagai nasabah pingin mengajukan top up atau take over dari kredit dengan jaminan yang saya punyai maka proses yang harus saya lakukan adalah hanya meminta persetujuan dari bank yang saya tuju. Jika bank tersebut menyetujui permintaan top up atau take over yang saya ajukan maka bank yang bersangkutan akan melunasi sisa hutang kredit yang saya miliki sebelumnya. Jadi saya sebagai nasabah hanya menerima sisa dan selisih nilai kredit baru dengan nilai kredit lama dipotong biaya asuransi serta provisi yang dikenakan oleh bank.

Tapi sekarang setelah dikeluarkannya peraturan baru itu oleh Bank Indonesia, maka saya sebagai nasabah jadi harus punya uang tunai dulu yang harus disiapkan oleh saya untuk melunasi hutang kredit lama agar proses hutang kredit baru ini bisa dilanjutkan dan dicairkan oleh pihak bank.

Tentunya kebijakan baru ini semakin menyulitkan jika saya adalah nasabah yang butuh kredit baru sebab saya sebagai nasabah lama harus punya uang tunai dulu. Apabila saya tidak punya uang tunai dulu maka saya nggak bisa melunasi hutang kredit sebelumnya sehingga sebagai akibatnya hutang kredit baru yang sudah disetujui itu nggak bisa dicairkan.

Padahal sudah dipastikan jika seorang nasabah itu butuh hutang kredit disebabkan karena si nasabah memang tidak mempunyai uang tunai yang cukup kan…

Hehehe…

Disatu sisi memang menjadi masalah tapi dilain sisi ini adalah sebuah peluang bisnis, sebab setahu saya memang sebuah peluang bisnis itu selalu muncul di tengah kesulitan dan kebutuhan orang lain…

Buat kita-kita yang punya dana nganggur maka peluang ini sangat bisa di manfaatkan, dana yang kita miliki bisa kita tawarkan pada mereka-merka yang membutuhkan. Kita bisa memanfaatkan sebagai dana talangan, talangan sementara yang dapat dipergunakan untuk melunasi hutang kredit yang lama sebelum dana kredit yang baru dikucurkan.

Bagaimana prosesnya?

Berdasarkan pengalaman sebuah Bank Perkreditan Rakyat ternama di sebuah kota di jawa timur, mereka memanfaatkan peluang ini secara maksimal. Bank Perkreditan Rakyat itu menyiapkan dana talangan agar bisa dipakai nasabah yang memerlukan untuk bisa melunasi kredit lama mereka. Nasabah biasanya hanya perlu 2-3 hari masa penggunaan dana talangan ini, sebab setelah kita melunasi hutang lama biasanya proses pencairan hutang kredit baru hanya memerlukan 2-3 hari kerja saja.

Pertama kali nasabah datang ke Bank Perkreditan Rakyat tersebut sambil membawa surat persetujuan pencairan kredit. Lantar ada petugas Bank Perkreditan Rakyat yang meng-cross check surat persetujuan tersebut ke bank yang bersangkutan sambil menyatakan kesediaan untuk melakukan pembayaran sementara hutang kredit lama. Lantas petugas dari Bank Perkreditan Rakyat juga meminta agar bank memisahkan uang kredit baru itu menjadi dua bagian, dana pertama sebagai pengganti uang pelunasan di transfer langsung dari bank tersebut ke rekening Bank Perkreditan Rakyat sementara dana kedua yang menjadi selisih ditransfer ke rekening nasabah seperti biasa.

Jika bank pemberi kredit setuju maka Bank Perkreditan Rakyat akan melunasi hutang lama si nasabah, tentunya setelah nasabah membayar biaya provisi dan bunga sebesar 1% dari dana talangan yang dipergunakan tadi. Setelah 2-3 hari pelunasan maka Bank Perkreditan Rakyat akan menerima pengembalian uangnya dari bank pemberi kredit.

Menarik juga ya …

Lumayan juga jika punya dana nganggur, kita bisa punya bisnis dana talangan. Sayangilah uang tunai kita,  Siapa tau ada yang membutuhkan. Dana tunai untuk talangan itu kan juga nggak harus benar-benar berupa uang tunai yang harus nangkring di rekening kita di bank. Tapi kita juga bisa memanfaatkan kartu kredit yang kita miliki sebagai dana talangan kan…

Maka koleksilah kartu kredit tanpa harus bingung hendak dipakai untuk apaan, sebab salah satu fungsi dari kartu kredit adalah bisa di gunakan sebagai dana talangan jika diperlukan sewaktu-waktu.

Hehehe…

@sa_murai
samurai jagoan.com
wenmit.com
fb = samurai jagoan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Maunya Bugar dengan Vitamin C Dosis Tinggi, …

Posma Siahaan | | 16 April 2014 | 22:34

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: