Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Dr. Nugroho, Msi Sbm

Saya Pengajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Semarang

Inflasi Tinggi di Jaman Soekarno

HL | 25 January 2013 | 20:10 Dibaca: 1788   Komentar: 0   2

1359125232388786652

Ilustrasi/Admin (Tribunnews.com)

Baru-baru ini saya mengunjungi museum Bank Indonesia (BI) di Jakarta untuk mendampingi Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) Undip angkatan 2010.

Hal menarik dimulai pada pintu besi museum yang tebalnya 60 cm yang waktu itu masih milik De Javaasche Bank Belanda yang memang dipesan langsung dari negeri Belanda dan sampai sekarang masih awet. Konon jika terjadi kebakaran di dalam maka tinggal pintu itu ditutup dan setelah dibiarkan sekian lama maka oksigen di dalam ruang akan habis dan kebakaran akan padam dengan sendirinya.

Sedangkan di dalam museum ada beberapa hal menarik baik dari sisi display atau apa yang dipamerkan di museum maupun film pendek yang diputar tentang sejarah BI. Materi yang dipamerkan yang dijelaskan oleh pemandu meliputi berbagai jenis uang yang pernah ada di Indonesia, berbagai mata uang berbagai negara, serta lintasan sejarah BI.

Yang menarik tentang mata uang misalnya saja ada uang cetakan yang belum dipotong-potong. Menurut pemandu, nilai uang yang belum dipotong (yang merupakan koleksi para kolektor) harganya lebih tinggi dari nominalnya. Jadi misalnya pada satu lembar ada 5 uang kertas dengan nominal @ Rp 100.000,- maka niainya jika belum dipotong lebih besar dari Rp 500.00,-. Jika uang tersebut diptong maka nilai nominalnya akan kembali seperti yang tertera di uangyang bersangkutan. Juga ada berbagai mata uang daerah ketika Indonesia berbentuk negara serikat.

Sedangkan tentang sejarah BI yang diputar dalam film pendek yang menarik adalah cerita tentang inflasi tinggi di jaman akhir periode pemerintahan Soekarno tahun 1965 an. Dikatakan inflasi tinggi yang waktu itu mencapai 635 persen disebabkan karena ambisi Soekarno membangun berbagai fasilitas dan monumen berskala internasional supaya Indonesia pada tingkat dunia diperhitungkan oleh negara-negara lain.

Melihat fenomena inflasi tinggi di jaman akhir pemerintahan Soekarno tersebut timbul 2 (dua) pertanyaan dalam diri saya. Pertama, salahkah langkah Soekarno membangun berbagai fasilitas dan monumen tingkat internasional waktu itu? Menurut saya tidak karena saya berpikir jika Soekarno tidak membangun Tugu Monas yang dikenal sdampai ke luar negeri maka sampai sekarangpun monumen itu tak akan pernah terbagun. Demikian juga dengan Stadion Gelora Bung Karno yang sampai sekarang masih digunakan untuk penyelenggaraaan berbagai event olahraga internasional; jika Bung Karno tak membangunnya maka sampai sekarang tak akan terbangun. Dengan berbagai fasilitas dan monumen skala dunia tersebut maka Indonesia waktu itu memang disegani oleh berbagai negara di dunia. Hal tersebut berbeda dengan pemerintahan saat ini yang sangat lemah terhadap tekanan negara lain, misalnya Malaysia.

Hal kedua yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah benarkah inflasi tinggi 635 persen waktu itu murni kesalahan Soekarno karena pencetakan uang untuk kepentingan membangun fasilitas dan monumen skala internasional? Jika dilihat dari trend inflasi waktu itu maka akan terasa aneh jika tiba-tiba inflasi langsung melonjak tinggi ke angka 635 persen padahal di tahun-tahun sebelumnya inflasi meskipun tinggi tetapi tidak pernah mendekati angka tersebut? Hal ini sebenarnya menarik sebagai bagian penelitian sejarah seputar kejatuhan Soekarno yang sampai saat ini masih ada beberapa bagian yang ”gelap”.(termasuk peristiwa G30 S). Mungkinkah inflasi 635 persen tahun 1965 memang dibuat oleh pihak tertentu termasuk pihak asing untuk menjatuhkan Soekarno? Pertanyaan ini wajar sebab untuk menjatuhkan suatu pemerintahan maka yang paling gampang adalah dengan menjatuhkan ekonominya. Contoh dari kejatuhan pemerintahan karena kejatuhan ekonominya adalah kejatuhan Soeharto karena krisis ekonomi yang awalnya dipicu krisis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dimulai tahun 1997.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 9 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 9 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 13 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 16 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

London in a Day on Foot …

Fillia Damai R | 8 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 8 jam lalu

Mengintip Sekelumit Catatan Umar Kayam …

G | 8 jam lalu

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 9 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: