Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Daveena

Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama, dan kami sembah dengan berbagai cara, jauhkanlah kami selengkapnya

Cerita Dari Dalam - Investasi Emas GTIS

REP | 05 March 2013 | 08:43 Dibaca: 4406   Komentar: 51   5

Sebagai seorang yang pernah menjadi agen GTIS, saya tidak heran membaca berita Michael Ong – Direktur Utama GTIS melarikan diri. Saya cuma bisa berkata dalam hati, “akhirnya kebenaran datang juga.”Sejak setahun lalu saya sudah menengarai praktek-praktek perusahaan yang tidak benar. Akhirnya saya mundur dari GTIS delapan bulan lalu setelah senyelamatkan dana dari nasabah-nasabah saya. Sekitar empat bulan lalu, saya menelpon seorang teman wartawan untuk mengupas tuntas masalah ini, sayang teman tersebut terlalu sibuk untuk menindak lanjuti laporan saya itu. Setengahnya saya menyesali masalah ini, sebab jika waktu itu laporan saya ditindak lanjuti. Mungkin Michael Ong tidak akan sempat kabur dan tidak banyak uang nasabah yang jadi korban.

Baiklah saya ingin menceritakan kenapa saya sampai pada kecurigaan akan adanya penyimpangan dari manajemen GTIS.

Awalnya GTIS adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jual beli emas LM dengan jangka waktu kesepakatan yang bisa berlaku 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan. Selama jangka waktu tersebut nasabah akan mendapatkan cashback/ bonus sekitar 1.5% hingga 2.5% per bulannya. Setelah jatuh tempo, nasabah diberi tiga pilihan : melanjutkan kontrak dengan penyesuaian harga emas yang berlaku, mengembalikan emas dan mendapatkan dananya kembali atau mengambil emasnya (dana menjadi hak perusahaan). Fakta bahwa emas dijual dengan harga premium sekitar 25-30% di atas harga pasar, saya anggap wajar saja toh diakhir periode 100% dana yang disetor bisa ditarik kembali. Jika kita ingin harga emas sesuai harga pasaran, coba beli saja ke toko emas dan kemudian minta diberikan cashbak 1.5%-2.5% per bulan ke toko emas,dijamin pemilik toko akan menganggap kita orang gila. Karena waktu itu baru GTIS perusahaan yang bergerak seperti ini maka fakta bahwa emas baru didapat 3 hari setelah dana disetor dan kemudian saat pencairan uang baru bisa didapat 5 hari setelah menyerahkan emas kembali – saya anggap suatu kondisi tanpa pilihan. Hingga kemudian mulai marak perusahaan-perusahaan sejenis yang lebih elegan dalam bertransaki…ada uang, ada emas dalam hari yang sama., demikian juga saat emas dikembalikan, uang segera dibayarkan dalam hari yang sama…bahkan nasabah bisa duduk menunggu realisasi pembayaran di kantor. Fakta ini saya kemukakan dalam internal miting dengan harapan GTIS melakukan modus operandi yang sama, usulan saya tidak diterima dengan berbagai alasan. Belakangan seorang pengelola perusahaan sejenis di tempat lain mengatakan bahwa hal tersebut membuktikan bahwa Michael Ong tidak memiliki dana sendiri – dia memainkan dana nasabah. Saat nasabah membeli emas, Michael Ong mempergunakan tenggat waktu tiga hari untuk mendapatkan emas dengan harga diskon terbaik demikian juga sebaliknya, saat nasabah mengembalikan emas. Michael Ong akan melempar emas tersebut ke pasar dan setelah emas laku, dia akan mengembalikan dana ke nasabah.

Yang berbahaya adalah skema investasi lain yang ditawarkan dan ternyata juga dilakukan oleh Rayhan Jewellery. Skema Investasi non fisik, nasabah menyetorkan dananya dan mendapatkan secarik kertas konfirmasi tanpa memegang emas. Sebagai imbalannya 4 -5.4% perbulan cash back. Awalnya produk ini tidak ada peminatnya karena orang juga paham dengan jargon “high return high risk”.

Di bawah Pengawasan Ketat Bank Indonesia

1362447398673309315

dari fanpage FB GTIS

Hingga suatu hari seorang senior manager menemukan formula gadai emas. Dengan memanfaatkan fasilitas Bank Syariah Mandiri capem Tanjung Duren. Prinsipnya seperti orang kredit mobil, menyetorkan separuh dari total dana – separuh lagi dibayarkan oleh BSM. Sebagai akibatnya nasabah akan mendapatkan return dua kali lipat dari dana milik sendiri (sekitar 4% perbulan). Dengan program ini GTIS mengalami pertumbuhan luar biasa, nasabah berbondong-bondong bertransaksi gadai emas – satu nama bisa gadai hingg puluhan kg -dalam tiga bulan beberapa ton emas terjual. Dan dana beberapa triliun langsung masuk ke GTIS. Bank Indonesia dan manajemen BSM segera mengendus pertumbuhan fantastis ini, akibatnya GTIS diminta menyediakan laporan keuangan yang tak bisa dipenuhinya. Bahkan beberapa senior manager menutupi ketidakmampuan GTIS menyediakan laporan keuangan dengan perkataan “ loh kok mereka mau tau isi perut perusahaan?”. Argumen yang aneh menurut saya karena tanpa fasilitas dari BSM, tidak mungkin GTIS bisa tumbuh hingga trilyunan dan wajar saja BSM meminta pertanggung jawaban dari GTIS. Akibatnya Bank Indonesia menerbitkan peraturan pembatasan gadai emas yang berlaku secara nasional dimana tiap orang hanya berhak melakukan gadai hingga 250juta saja. BSM sendiri tidak mau memperpanjang transaksi gadai GTIS. Dan BI juga secara konsisten mengawasi GTIS, tiap kali GTIS membuat kerjasama dengan bank syariah maka direktur bank tersebut akan mendapat telpon sakti dari BI yang mencegah kolaborasi dengan GTIS.

Banyak nasabah gigit jari karena sudah terbiasa dengan dana terbatas menangguk pendapatan tinggi, akibatnya mereka mulai melirik skema non fisik. Sebab disaat yang sama, kepercayaan juga sudah tinggi kepada GTIS. Mulailah mereka membeli produk investasi non fisik, seorang nasabah bahkan memberikan sertifikat rumahnya kepada agen agar dicarikan pinjaman bank. Ternyata bank bersedia memberikan pinjaman hingga Rp. 4.5 Milyar. Dana tersebut langsung ditempatkan dalam investasi non fisik di GTIS, dengan suku bunga KPR yang harus dibayar 8%/ tahun, sementara dengan cash back sebesar 64.8%/ tahun maka pendapatan bersihnya 56.8%/ tahun, sungguh fantastis.

Dari aplikasi yang masuk di meja pelayanan, sebagian besar adalah penempatan non fisik. Dan ternyata memang komposisi antara penempatan fisik dan non fisik mencapai 40% : 60%. Ini berarti nasabah telah memilih investasi dengan resiko tinggi. Di lain pihak, sang pengelola investasi sejenis di tempat lain mengatakan bahwa stok emas batangan sebenarnya merupakan cadangan dana bagi perusahaan, manakala perusahaan membutuhkan dana tinggal menjual stok emas mereka. Uang tanpa emas bisa membuat manajemen dan owner jadi gelap mata. Dan memang itulah yang saya lihat dilakukan Michael Ong yang mulai berbelanja kuda pacu, mobil balap Ferrari dan kapal pesiar.

Mengikat Kaki MUI dan Marzukie Ali

13624476031293639106

masuk Islam - Fanpage FB GTIS

Ditengah kesibukan aktifitas, para agen dikejutkan dengan beberapa perkembangan baru. GTIS mendapatkan sertifikat berbisnis syariah dari MUI dan lebih dari itu MUI juga mengambil posisi sebagai 10% pemegang saham sementara itu Marzuki Alie 15%. Brosur dan company profile baru diterbitkan dengan foto Marzuki Alie, KH Maruf Amin dan Michael Ong. Belum cukup itu, baliho besar bergamabar sama dikerek di atas atap kantor pusat Pluit. Setelah itu Michael Ong sibuk wara-wiri berjaket biru. Semua ini menimbulkan pertanyaan para agen yang akhirnya dipertemukan dengan KH Maruf Amin sang ketua MUI yang membenarkan bahwa GTIS beroperasi secara syariah dan MUI memiliki saham di GTIS. Beberapa pertanyaan yang meragukan ke “syar’I” an GTIS ditepis oleh KH Maruf Amin. Dan memang operasional GTIS mengalami perubahan. Muncul cap perusahan dan tandatangan manajem dalam setiap Invoice non fisik yang tadinya tidak pernah ada walaupun selalu diprotes agen dan dipertanyakan nasabah karena tidak memberikan ikatan hukum yang kuat. Semua staf front liner berganti baju dengan berjilbab. Di saat ini, Marzukie Alie selalu membantah keterlibatannya dengan GTIS, namun sayang bantahannya tak pernah dilakukannya saat GTIS sedang berjaya.

Kondisi ini ditambah dengan telah berhentinya program gadai BSM membuat nasabah serta agen makin gencar melirik pada penempatan dengan skema non fisik. Omset GTIS mulai naik kembali dan kepala Michael Ong makin memuai. Mulailah dia membeli berbagai luxury assets semacam enam buah mobil Ferarri, kuda pacu yang konon selusin, sebuah kapal pesiar. Hal inilah yang makin membuat saya tidak nyaman dan ternyata juga oleh beberapa agen lain. Kami mempertanyakan hal ini dan manajemen menjelaskan bahwa benda-benda itu akan disatukan dalam klub ekskelusif GTIS dimana akan diberikan privilege card bagi nasabah dan agen untuk menikmati fasilitas benda-benda mewah itu. Sementara radar saya malah berkata lain – kuda pacu, balap mobil dan kapal pesiar adalah komponen kental dalam perjudian kelas mewah. Saya menjadi tidak nyaman dan mulai mengumpulkan niat untuk keluar. Saya menghubungi nasabah saya serta menyampaikan maksud saya dengan menyertakan komitmen akan mengawal dana mereka di GTIS hingga jatuh tempo.

Awal kejatuhan GTIS terlihat dari luar.

Masih bergerak di bidang perdagangan emas dari perusahaan lain tentunya saya masih sering “berjumpa” dengan GTIS. Di perusahaan baru ternyata telah banyak agen-agen ex GTIS yang merasa ketidaknyamanan yang sama saat di GTIS. Beberapa pindah karena khawatir dengan kedekatan GTIS dengan partai berwarna biru. Mereka malah menengarai bahwa tahun 2014 GTIS bakalan hancur karena jadi sapi perah Pemilu. Saya jarang berhubungan dengan teman-teman lama di GTIS sampai sekitar dua minggu lalu teman saya itu telpon. Dia menanyakan apakah di tempat saya masih bisa memperoleh emas Antam – suatu pertanyaan yang aneh karena saya bertransaksi berkilo-kilo emas Antam tiap hari tanpa kesulitan. Kemudian saya membaca pemberitahuan di fanpage salah seorang agen besar GTIS, “berhubung Antam kewalahan dan tidak bisa melayani pembelian emas dari GTIS yang luar biasa maka selanjutnya GTIS hanya menyediakan emas dari UBS (pedagang besar emas dari Surabaya).” Saya langsung mencium ketidakberesan, mana mungkin GTIS mendominasi total produksi Antam. Sayang saat saya katakan hal itu pada teman tersebut, dia tidak menerima malah menuduh saya iri dengan perkembangan GTIS.

Tidak butuh waktu yang lama, tanggal 25 Februari kejatuhan itu tiba. Michael Ong dan kroni telah ambil langkah seribu. Konon Sabtu malam (23 Februari) pihak manajemen meminta seluruh karyawan yang masih bekerja termasuk beberapa marinir yang berjaga untuk segera meninggalkan kantor, ternyata manajemen aka kroni Michael Ong membawa stok 40 kg emas di kantor berserta hard disk yang ada. Sehingga saat Seninnya (25 Februari) karyawan masuk semua sudah kosong, mereka segera menginformasikan hal ini pada para senior manager sales yang segera mengkoordinasikan dengan MUI. MUI bergerak cepat dengan memblokir rekening bank GTIS dan mengirim tujuh senior manager ke Malaysia untuk berkoordinasi dengan Dato Azahari pemegang saham GTIS di Malaysia. MUI juga berupaya mencari investor baru dan konon sudah ada kesepakatan strategis dengan investor baru. Di Jakarta para agen bahu membahu hingga menginap di kantor pusat GTIS mengembalikan data perusahaan yang ternyata telah diback up oleh karyawan bagian akunting.

Berapa angka omset GTIS?

Beberapa media massa mengabarkan bahwa kerugian GTIS sebesar 10 Trilyun bahkan Kompas edisi Sabtu, 2 Maret 2013 menyebut angka fantastis 45 Trilyun. Saya rasa angka 45 T itu suatu angka yang lebay dan tidak mungkin. Angka 45 T umumnya merupakan asset suatu bank swasta tingkat menengah dimana untuk mencapai asset sebesar itu harus diback up infra struktur canggih dan sekitar 100an kantor cabang. Rata-rata perusahaan investasi emas tidak memiliki backup seperti itu. Bahkan angka 10 Trilyun juga merupakan suatu angka yang tidak mungkin menurut pendapat saya. GTIS mencapai peak performance saat berkolaborasi dengan Bank Syariah Mandiri dengan angka penjualan lima ton (sekitar Rp.3.5 Trilyun) Saat BSM tidak mau memperpanjang gadai emas GTIS maka dengan sendiri total omset akan turun hingga 50% - penurunan angka ini bisa dilacak dalam laporan turunnya performance kredit bank syariah secara nasional sekitar 35%.

Nah penurunan omset GTIS hingga 50% itu masih ditambah dengan “penggembosan” dari dalam dengan eksodusnya agen yang tidak nyaman di GTIS ke perusahaan sejenis dan tentunya dengan membawa nasabah-nasabahnya. Hal ini jelas terlihat dari ancaman-ancaman pada para mantan agen, saya katakan pada teman yang masih menjadi agen GTIS “gak mungkin GTIS mengeluarkan ancaman jika angka eksodus tidak signifikan.”

Belakangan pihak MUI melalui KH Amidhan sudah mengeluarkan pernyataan bahwa total penjualan GTIS yang masih eksis sebesar 1.2 Ton yang artinya sekitar 840 Milyar (hitungan MUI Rp. 600 Milyar berdasarkan harga dasar emas sementara saya menghitung berdasarkan harga jual ke nasabah). Dana yang dilarikan Michael Ong dan kroni sebesar Rp. 14 Milyar dibagikan pada sembilan nama.

Tanggal 04 Maret lalu telah diselenggarakan RUPS dimana telah dibentuk dewan direksi yang baru dan masuk investor baru yang akan menentukan langkah GTIS selanjutnya, saya cukup optimis akan ada jalan keluar yang baik bagi semua pihak.

Sembari berpikir sebenarnya apa yang ada di benak Michael Ong. Sebab angka yang dibawa lari ternyata bukan angka yang signifikan, Rp. 14 Milyar dibagi pada sembilan nama plus 40 kg emas …is it worthed Mr Ong?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Film Hollywood Terbaru ‘ Interstellar …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Selfie Produk: Narsisme membangun Branding …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Masa Kecil yang Berkesan di Lingkungan …

Amirsyah | 8 jam lalu

Kisruh Parlemen, Presiden Perlu Segera …

Stephanus Jakaria | 8 jam lalu

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: