Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Masdarudin

"Don Ahmad" "Merasa, Maka Menjadi" "Menang Tanpa Mengalahkan"

Asyik Juga Mendiskusikan Program Investasi Sedekah

OPINI | 19 March 2013 | 04:52 Dibaca: 490   Komentar: 0   0

Ketika amal kita oleh Tuhan sudah dibalas di dunia, di akhirat kita dapat bagian apa? Itulah inti pertanyaan sahabat kita Gaga kepada Sumarhadi dari tanggapan tulisan di kompasiana tentang Program Investasi Sedekah. Saya yang cukup intensif mendiskusikan dengan teman-teman dan mensosialisasikan program tersebut dengan gigih, benar-benar gelagapan dengan skak ster yang ditujukan ke Sumarhadi tersebut.

Benarkah keadilam Tuhan dalam membalas amal ibadah hambanya seperti anggapan penulis komentar itu? Dalam cerita sufi tentang sabar yang pernah saya dengar memang persis seperti itu. Kisahnya begini: seorang ahli zikir dan ibadah yang sangat tekun pernah mengeluh dan mempertanyakan keadilan Tuhan. “Hamba sudah mengabdikan diri dengan tulus dan ikhlas, tapi mengapa Engkau membiarkan hamba dalam kondisi yang serba kekurangan? Sedang orang lain yang tidak setaat aku dalam beribadah kepadaMu, Engkau berikan mereka kehidupan yang bergelimang kemewahan?”  katanya dalam hati seakan menggugat keadilan Tuhan.

Suatu waktu, keluh kesahnya disampaikan kepada Tuhan dalam ratap dan do’a. Seketika itu juga ia mengalami kondisi teofanik, kondisi spritual yang sangat unik tentang kebersamaannya dengan Tuhan, jiwa dan ruh hamba tersebut bersatu dengan Tuhannya. Ketika itu, segala yang diucapkan dikabulkan Tuhan. Emas dan berlian yang dipanjatkan dalam ratap dan do’a diberikan semua kepadanya. “Inilah emas berlian yang kamu minta, sebagai balasan dari amal ibadah yang engkau lakukan selama ini, tetapi engkau tidak akan mendapatkan itu lagi ketika di akhirat nanti”, kata Tuhan.

- Mengapa begitu?

+Bukankah engkau yang meminta untuk dapat menikmatinya di dunia ini, dan engkau tidak sabar menunggu kehidupan akhirat itu tiba?

Dengan gemetaran hamba sufi itu menjawab,

- Jika demikian, biarlah hamba bersabar dalam kesusahan di dunia yang pana ini, Tuhan. Hamba ikhlas, dan hamba tidak mahu membawa pulang emas berlian tersebut. Hamba ingin menikmatinya di kehidupan akhirat yang abadi. Seketika itu sang hamba tersadar  dan langsung menangis memohon ampun kepda Tuhan atas kelancangannya mempertanyakan keadilan Tuhan.

Benar, agama mengajarkan, bahwa dunia adalah perjalanan yang sangat sementara bila dibandingkan dengan kehidupan yang abadi di akhirat nanti. Para pencari Tuhan yang menjalani kehidupan spritual sangat menghindari dunia. Mereka menghayati Sabda Nabi yang mengatakan: dunia adalah akar masalah timbulnya kejahatan. Karena itu mereka menjauhi dunia. Dalam do’a mereka meminta kepada Tuhan agar dunia dijadikan pahit rasanya bagi mereka

Sebagaimana kita telah ketahui, bahwa agama mengajarkan kepada kita untuk mengambil bagian kita di dunia seperlunya saja. Sesuatu yang di luar keperluan adalah serakah dan mubazir. Para sufi sejati menjalaninya dengan sangat ketat. Jalan yang di tempuh oleh para sufi adalah jalan yang benar. Mereka mengambil bagiannya di dunia sebatas yang diperlukan untuk bekal menjalankan ibadah dan memuji Tuhannya.

Bagi kita, substansi ajaran sufi seperti di atas harus menjadi paradigma dalam memandang dunia ini. Maknanya, seluruh hidup kita seutuhnya kita dedikasikan kepada Yang di Atas. Aktifitas yang kita lakukan sepanjang hayat hanyalah untuk mendekatkan diri kita kepadaNya. Itulah hakikat penciptaan manusia di muka bumi ini. Karena sebanyak apapun harta benda yang kita kumpulkan hanyalah titipan yang sementara. Tuhan menitipkannya lewat kita untuk sarana beribadah kepadaNya. Apapun yang ada pada kita, dedikasikanlah untuk Tuhan. Ketika hal itu tidak kita lakukan maka kita akan menjadi hamba Allah yang terkeluar dari hakikat penciptaan, Kita digolongkan orangnorang yang mengingkari hakikat pencptaan diri kita sendiri. Na’uzubillahi ‘an zalik.

Saya ulangi, kita semua juga mesti demikian, ketika maqam sepritual kita sudah sampai kepada puncak hakikat sebagai mana sang sufi di atas, maka berdosa dan merugilah kita mengambil bahagian yang Tuhan persiapkan di akhirat nanti, kita ambil dan kita nikmati di dunia ini.

Inti dari kisah sufi diatas, telah menjadi cri dan sifat khas mereka: tidak butuh dunia. Karena dunia adalah racun yang,pahit bagi mereka. Mereka mengambil bagiannya hanya sebatas keperluan untuk beribadah. Seperti Rabi’ah al-Adwiyah yang menolak lamaran setiap laki-laki, termasuk Hasan al-basyri. Bukan karena dia sombong atau memilih, tapi karena kecintaan dan kerinduan kepada Tuhannya telah mengalahkan dan menafikan keberadaan dunia serta isinya. Rasa rindu dan cinta yang begitu dalam kepada Tuhan hanya bisa dirasakan oleh pelaku spritual yang sudah sampai di maqam tersebut.

Banyak tokoh sufi yang mengalami peristiwa teofanik yang sama dengan Rabi’ah dan tokoh dalam kisah di atas, seperti al-halllaj, Ibnu Arabi dan -di Indonesia- Syaikh Siti Jenar. Semua tokoh sufi yang kita sebutkan itu memilih kematian daripada dunia dan seisinya. Karena bagi mereka hidup di dunia inilah  yang menghalangi kebersamaan dengan Tuhan secara penuh dan utuh.

Bagaimana dengan kita? Seandainya kita sudah sampai seperti mereka, tentunya Program Investasi Sedekah (PIS) tidak ada gunanya, karena itu hanyalah permainan duniawi yang akan memberatkan kebersamaan dengan Tuhan.

Namun, apabila kita belum sampai ke maqam mereka, apakah kita akan bergaya dan berpola hidup seperti mereka? Menurut saya, sebaiknya kita berbuat sesuai dengan maqam kita. Ketika dunia masih nikmat kita rasakan, ketika pasangan hidup masih dibutuhkan dan sangat menyenangkan, lebih bijaksana apabila kita jujur menikmati dunia yang diciptakan oleh Tuhan untuk kita. Tentunya dengan niat untuk menjalankan perintah Tuhan dan meneladani Nabi. Sebagaimana Nabi juga beristeri dan tetap bekerja untuk hal-hal yang duniawi. Namun semua itu dilakukan dalam rangka beribadah kepada Tuhan. Kita jalani kehidupan duniawi yang memang masih manis bagi kita dengan pemaknaan ilahiyah sehingga bernilai ibadah. Seperti yang disabdakan Nabi: Dunia adalah tempat menabur benih untuk dinikmati di akhirat kelak.

Ketika para sufi yang sudah sampai, hanya mengisi kehidupannya dengan beribadah dan berzikir, karena hal itu merupakan kenikmatan baginya, maka kita jalani kehidupan dunia dengan beribadah dan bekerja secara normal, karena itu nikmat bagi kita.

Semuanya benar dan tidak ada yang salah. Para sufi menjalani hidupnya dengan sesuatu yang menyenagkan hati dan pikirannya, kita juga menjalani kehidupan kita dengan sesuatu yang menyenangkan hidup kita. Yang membedakan adalah bentuk kesenangan para ahli sufi dan manusia kebanyakan seperti kita

Artinya, kita tidak akan mampu mengukur kehidupan sufi dengan paradigma kita, sebagaimana juga para sufi tidak mahu peduli dengan kehidupan yang kita jalani,

Yang salah adalah, ketika manusia biasa, yang masih menikmati kehidupan dunia tapi berparadigma kaum sufi yang maqamnya sudah sampai. Kalau dibuat analogi sederhana, seumpama kita mengukur panjang jalan dengan menggunakan timbangan beras. Ya tidak pernah ketemu.

Jadi Program Investasi Sedekah ini dibuat untuk manusia yang masih enak makan, berkeluarga dan tidur. Untuk memenuhi kehidupan dunia agar bernilai ibadah, maka kita dianjurkan untuk saling membantu dan menolong kepada sesama makhluk. Dalam bahasa agama dikenal dengan sedekah.

Sedekah itu ada yang wajib dan sunnah atau anjuran. Yang wajib adalah zakat yang prosedur dan tatacaranya sudah diatur sedemikian baik oleh para ulama. Kita tidak akan membicarakan tentang zakat di tulisan ini. Sedangkan yang sunnah atau anjuran sifatnya tidak mengikat. Tidak ada prosedur dan aturan yang mengikat. Pada yang sedekah anjuran inilah kita dapat lakukan melalui Program Investasi Sedekah (PIS)

Prosedur dan tatacara pelaksanaan sedekah model PIS ini memenuhi unaur kerahasiaan, kalau memang anda menginginkan itu. Dalil yang sering kita dengar “tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu”. Karena bersedekah melalui program PIS ini yang tahu hanyalah dirinya dan Tuhan. Yang memberi tidak menjadi sombong, karena tidak saling bertatap muka dan jumlahnya juga tidak seberapa besar, sedangkan yang menerima juga tidak terhina dan kecil hati, karena tidak diketahui oleh siapapun, kecuali dirinya dan Tuhan.

Program ini sering dipersalahkan, karena adanya imbalan yang lebih besar dalam bentuk finansial. Padahal dalam ibadah apapun, termasuk sedekah kita hanya mengharapkan balasan di akhirat nanti. Sehingga muncul pertanyaan di awal tulisan ini: ketika di dunia kita sudah dibalas dengan pemberian orang lain, di akhirat?

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan harapan mendapat balasan. Sedangkan tidak berbuat saja kita tidak dilarang untuk berharap, kan? Karena apapun pemberian, pasti akan mendapat balasan yang sama. Itulah hukum dunia. Kita memberi senyum kepada orang lain, maka orang tersebut akan membalas dengan senyuman. Ketika kita memberi marah orang lain, maka orang itu juga akan marah kepada kita. Begitu juga dengan uang. Ketika kita berikan uang kepada orang lain, maka kita akan mendapat balasan uang juga. Dan itu sudah janji Tuhan dan sering dikatakan Nabi, meskipun dengan redaksi yang berbeda.

Kembali kepada pertanyaan: apakah pahala kita masih ada di akhirat nanti? Urusan akhirat Tuhanlah yang Tahu, karena saya tidak bisa mengalami peristiwa teofanik seperti para sufi dan untuk menanyakan langsung kepada para sufi, mereka sendiri sudah tidak mahu peduli dengan yang duniawi.

Oleh karena itu, seandainya, kita tidak membutuhkan lagi bagian kita di dunia ini, alangkah lebih baiknya uang balasaan yang kita dapat, kita infaqkan untuk pembangunan infrastruktur dan hal-hal lain yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Karena kita tidak dapat berharap terlalu banyak dengan pemerintah untuk peduli dengan masyarakat, maka melalui program PIS ini, kita berharap kepada Yang di Atas  agar negeri kita menjadi lebih baik dan masyarakat hidupnya lebih sejahtera.

Tidak perlu lagi kita menjadi masyarakat pengemis yang setiap saat mengharapkan bantuan dari pemerintah, sementara pemerintah sedang sibuk dengan masalahnya sendiri.

Dan kami berharap, mari bersama kita beri dukungan dengan bergabung di program ini, agar kita  tidak lagi merepotkan pemerintah yang memang sangat repot.

Asyiiik, kan?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 11 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 19 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 19 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 22 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: