Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Ferly Ferdyant

Mahasiswa Akuntansi Universitas Negeri Jakarta. Kepala Departemen Pendidikan BEM UNJ 2014.

Mencetak Akuntan Muda Indonesia yang Progresif (Profesional, Beretika, dan Kompetitif) Sejak Dini. Langkah Strategis Menuju ASEAN Economic Community 2015

OPINI | 25 March 2013 | 01:56 Dibaca: 317   Komentar: 0   0

Pendahuluan

ASEAN economic community (AEC) tahun 2015 merupakan suatu program bagi negara- negara ASEAN untuk lebih meningkatkan kualitas ekonomi khususnya perdagangan agar menjadi sebuah akses yang lebih mudah seperti menerapkan penghapusan bea masuk (Free Trade Area) untuk mewujudkan  sebuah single market. Tentunya ini membuat banyak peluang khususnya bagi Indonesia untuk lebih meningkatkan kualitas produk- produknya maupun tenaga kerjanya yang profesional dalam memasuki tantangan  ruang lingkup ASEAN community. Pemberlakuan ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di 2015 nanti, mau tak mau menuntut semua segmen profesi untuk memiliki kualitas dan daya saing tinggi, termasuk salah satunya profesi akuntan. Untuk itu peran akuntan dituntut guna meningkatkan kualitas serta kuantitasnya. Pasalnya, dengan adanya pasar bebas ASEAN tersebut eksodus akuntan dari luar negeri bakal lebih banyak lagi dan dengan cara-cara yang mudah. Dan, peningkatan kualitas serta kompetensi akuntan antara lain dapat diwujudkan dengan mencetak akuntan muda sejak saat ini dengan mencetak akuntan muda Indonesia yang Progresif (Profesional, Beretika, dan Kompetitif).

Profesional.

Akuntan dan profesionalisme bak dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Profesionalisme ini tak dapat lepas dari jati diri akuntan. Oleh karenanya, jiwa profesionalisme itu senantiasa melekat dalam pribadi seorang akuntan. Tak bisa tidak. Dimana pun ia berkarya, spesialisasi akuntansi apa yang ia selami, jiwa profesional tak dapat dikurangi, apalagi dikikis. Dan untuk menggenjot profesionalisme itu wajib terus mengasah kemampuan keakuntansian lewat Pendidikan dan Pelatihan Berkelanjutan (PPL) dan sertifikasi yang terpercaya.

Kompetensi diperoleh melalui pendidikan formal, peningkatan ketrampilan dan jam terbang akuntan tersebut. Hal ini juga tidak lepas dari pengaruh input saat memasuki perguruan tinggi. Dengan kata lain, jika sejak dini input yang dimiliki sudah bagus, kompetensi yang dimiliki akuntan akan cenderung bagus pula. Selain itu, untuk peningkatan kompetensi, akuntan juga diwajibkan untuk mengikuti pendidikan berkelanjutan.

Beretika

Etika seorang akuntan sudah seharusnya dibentuk dan dipelajari dimulai pada saat mereka duduk di dalam dunia pendidikan. Kesadaran tentang pentingnya peran dunia pendidikan dalam menciptakan sumber daya manusia yang cerdas dan bermoral. Program pendidikan akuntansi sebaiknya memberikan kerangka nilai, etika dan sikap profesional untuk melatih judgement profesional calon akuntan sehingga dapat bertindak secara etis ditengah kepentingan profesi dan masyarakat. Seperti yang kita ketahui bahwa tujuan dari pendidikan akuntansi, khususnya di Indonesia adalah untuk menghasilkan lulusan yang beretika dan bermoral tinggi. Dengan adanya akuntan yang beretika dan bermoral tinggi diharapkan tujuan dari laporan keuangan dapat dicapai, yaitu untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya. Penguatan personalitas akuntan dilakukan tidak hanya dengan memperhatikan dan mengembangkan potensi emosionalitas (EQ) tetapi juga spiritualitas (SQ). Perhatian pada EQ akan dapat mengembangkan kecerdasan hati, seperti ketangguhan, inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi dan empati. Dan perhatian terhadap SQ membuat seseorang mempunyai pemahaman tentang siapa dirinya dan apa makna segala sesuatu bagi dirinya, dan bagaimana semua itu memberikan suatu tempat di dalam dunianya kepada orang lain dan makna-makna mereka. Jadi, dalam rangka mewujudkan profesi akuntan yang beretika, berahklak, beradab, dan bijak secara utuh, tidak hanya memperhatikan dan mengembangkan potensi secara emosionalitas (EQ) tetapi juga spiritualitas (SQ).

Seorang akuntan diharapkan dapat meningkatkan aspek etikanya dan penegakan kode etik profesi baik dalam kurikulum mapupun dalam menjalankan profesinya. Dan bagi negara Indonesia, kerangka etika profesi telah dikodifikasikan ke dalam kode etik IAI.

Kompetitif

Di era globalisasi saat ini, transaksi bisnis berkembang menjadi semakin kompleks.  Era di mana tidak ada lagi batas negara dalam aktifitas ekonomi mengakibatkan setiap individu harus berupaya memposisikan diri pada peran yang tepat.  Termasuk profesi akuntan yang dituntut meningkatkan kapabilitas. profesi akuntan harus melakukan adaptasi demi masa depan professional akuntan. Akuntan harus responsif dalam melihat peluang pada turbulensi yang cepat di bidang ekonomi ini. Dan inilah tujuh poin nilai tambah penunjang akuntan kompetitif.

1. Pengalaman Praktis

Akuntan kompetitif memiliki pengalaman praktis yang membanggakan dan sudah teruji di bidang pekerjaan mereka. Akuntan kompetitif senantiasa mendapatkan penilaian dan pengakuan atas kinerjanya dari setiap institusi atau perusahaan tempat mereka berkarir, karena kualitas informasi yang mereka berikan.

2. Komitmen Good Governance

Akuntan kompetitif memiliki komitmen terhadap integritas, etika bisnis, dan nilai-nilai sosial yang berkembang di masyarakat. Mereka menghormati tata norma tersebut, dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip tersebut dalam setiap rekomendasi yang diberikan kepada manajemen. Dengan komitmen tersebut, perusahaan bisa membangun iklim good governance yang kondusif dan iklim bisnis yang sehat dalam perusahaan.

3. Referensi Keilmuan Berkualitas

Akuntan kompetitif memiliki semangat untuk meng-upgrade diri dengan keilmuan akuntansi dan wawasan terbaru terhadap perkembangan dunia bisnis, sebagai referensi dalam mengolah data, menyajikan laporan keuangan, atau memberikan rekomendasi bisnis bagi manajemen.

4. Standar Kerja Terbaik

Aktualisasi keilmuan akuntan kompetitif membuat mereka memiliki standar kerja terbaik, dan senantiasa sejajar dengan akuntan terbaik di tingkatan nasional dan internasional.

5. Jejaring Luas

Akuntan kompetitif memiliki jejaring luas. Begitu tergabung menjadi anggota IAI dan tercatat sebagai akuntan profesional, mereka akan memiliki jaringan keprofesian sekaligus jaringan bisnis yang prestisius dan menguntungkan. Dengan begitu, akuntan profesional bisa mengangkat reputasi dan memberikan citra positif untuk citra perusahaan di mata publik.

6. Leadership

Akuntan kompetitif memiliki talenta leadership skill. Bagi perusahaan yang mencari top leader ataupun suksesor untuk melanjutkan estafet kepemimpinan manajemen di bidang keuangan, maka akuntan adalah pilihan yang tepat dan pantas.

7. Decision Maker

Akuntan kompetitif memahami masalah perubahan secara detil dan lengkap karena tanggungjawab yang diembannya, sehingga mereka bisa mengambil keputusan secara cepat, akurat dan terintegrasi.  Intensitas akuntan profesional berhubungan dengan berbagai pihak dalam perusahaan menyebabkan mereka mampu berkoordinasi dan membuat akuntan profesional bisa mengkomunikasikan visi manajemen dengan tepat sasaran dan secara berkesinambungan.

Penutup

ASEAN economic community (AEC) 2015 akan terjadi, siap atau tidak siap kita sebagai mahasiswa harus menghadapi persaingan dengan akuntan tingkat ASEAN. ASEAN economic community (AEC) bisa menjadi ancaman jika kita tidak mampu bersaing dan menjadi peluang jika kita mampu bersaing. Untuk dapat mampu bersaing dan menjadi peluang, sikap profesionalisme, beretika dan juga kompetitif (Progresif) harus kita pupuk sejak dini. Peluang masih besar bila kita bersiap lebih cepat dan lebih baik. Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam ASEAN economic community (AEC) 2015 dan jangan menjadi penonton di kandang sendiri.

Hidup Akuntan Indonesia…!!! Akuntan Indonesia BISA…!!!

-Best 4th Essay Accounting - tingkat Nasional Accounting Fair Universitas Bakrie-

Ferly Ferdyant

Kepala Departemen Sosial Politik BEM FE UNJ

Kepala Divisi Propaganda Tim Aksi Pandawa FE UNJ

Dept. Pendidikan Ikatan Mahasiswa Akuntansi Indonesia (IMAI)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“TOGUA”, Logo Baru Jogja yang …

Hendra Wardhana | | 30 October 2014 | 13:35

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 3 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 6 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 9 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 9 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Ah, Dapat Tas Backpack dari Menulis …

Sugiman Waras | 7 jam lalu

Cinderella yang Dititip pada Saya Hilang …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Menpora Minta PSSI Usut Tuntas Kasus …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Tiara, Gambaran Sejuta Anak Indonesia yang …

Riuh Rendah Cerita ... | 8 jam lalu

Mengukur Intelegensi Yuk!!! …

Zainab Hikmawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: