Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Ashwin Pulungan

Semoga negara Indonesia tetap dalam format NKRI menjadi negara makmur, adil dan rakyatnya sejahtera selaras selengkapnya

Kita Dibohongi tentang Sebab Peningkatan Jumlah BBM Bersubsidi

OPINI | 16 April 2013 | 16:17 Dibaca: 2261   Komentar: 45   11

Sering kita disajikan berita tentang BBM didalam negeri bahwa konsumsi BBM semakin bertambah besar pada tahun-tahun berikutnya. Lalu para pakar energi dan pihak pemerintah selalu memberi argumentasi yang seolah-olah sangat benar padahal tidak sepenuhnya benar bahwa penyebab dasar peningkatan konsumsi BBM adalah hanya semata : “bertambahnya jumlah kendaraan baik roda empat dan roda dua dan banyaknya kendaraan boros energi yang masih beroperasi, penyalah gunaan peruntukan BBM bersubsidi bagi pabrikasi”.

Bertambahnya kendaraan roda empat dan roda dua, disebabkan tidak baik dan tidak nyamannya fasilitas umum sarana dan prasarana angkutan umum di Indonesia. Dalam hal ini pemerintah gagal membangun serta menata kenyamanan transportasi umum bagi masyarakat. Begitu juga dengan penyalah gunaan peruntukan BBM bersubsidi karena tidak adanya pengawasan yang ketat serta penegakan hukum yang tegas dan benar dari pemerintah untuk menindak penyelewengan peruntukan BBM bersubsidi sehingga manipulasi peruntukan BBM selalu mulus berjalan kontinyu.

Konsumsi BBM bersubsidi di Indonesia pada awal 2012 berada pada 44,04 juta kiloliter sampai akhir tahun 2012 telah mencapai 45,27 juta kiloliter : Premium 28,28 juta kiloliter, Solar 15,78 juta kiloliter, Minyak tanah  1,21 juta kiloliter.

Menurut Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Umi Asngadah volume konsumsi BBM bersubsidi pada 2013 diperkirakan akan mencapai 49,65 juta kiloliter (Premium 31,46 juta kiloliter, Solar 16,99 juta kiloliter, Minyak tanah  1,20 juta kiloliter), padahal kuota BBM bersubsidi yang telah disepakati pemerintah hanya 46,01 juta kiloliter. Diperkirakan ada defisit BBM sejumlah 3,64 juta kiloliter pada 2013.

13661036321042984483

Sebab Peningkatan Jumlah BBM Bersubsidi.

1. Jalan yang macet dan berlobang-lobang membuat konsumen BBM menambah 40% BBM yang diisi ke tangki kendaraan.

Jika kita melakukan perjalanan memakai kendaraan apakah itu roda empat dan roda dua, dalam mengisi tangki BBM kendaraan kita, selalu melebihkan sebanyak antara 40% - 60% lebih banyak dari BBM yang kita isi. Hal ini kita lakukan karena kita memperhitungkan kemungkinan terjadinya kemacetan lalulintas dijalan raya serta banyaknya jalan yang berlubang-lubang disuatu perkotaan maupun jalur jalan luar kota. Jika kita membeli 100 liter BBM untuk jarak tertentu, maka kita akan lebihkan sebanyak rata-rata minimal 50% jadi yang kita isi pada saat mengisi BBM di SPBU adalah 150 liter BBM.

2. Kebocoran yang dilakukan aparat Pertamina dalam setiap perjalanan BBM dalam angkutan laut kapal tanker menuju berbagai pulau diluar pulau Jawa, diperhitungkan kebocoran manipulasi BBM untuk setiap pengiriman kapal laut oleh mafia BBM adalah sebesar antara 30% - 40%.

Pengawasan yang dilakukan oleh Pertamina sendiri serta pengawasan oleh aparat terkait selalu tidak berjalan efektif untuk memantau kemungkinan kuat adanya manipulasi kebocoran BBM dalam setiap pengangkutan antar pulau. Karena pengawasan yang tidak berjalan baik, maka perbuatan manipulasi/pencurian BBM ditengah laut selalu terjadi. Apalagi adanya disparitas harga BBM bersubsidi yang cukup tinggi dengan harga BBM yang ada pada Negara tetangga Indonesia. Kemungkinan kuat permainan, pencurian dan manipulasi BBM bersubsidi ini, terkait dengan berbagai intansi pengamanan terkait dan kelompok tertentu dalam mafia BBM di Indonesia.

3. Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor keluarga sebagai dampak tidak adanya transportasi umum yang nyaman yang bisa dibangun oleh pemerintah. Hal ini memperparah kondisi kemacetan disetiap jalan raya pada kota-kota besar di Indonesia. Diperhitungkan konsumsi BBM bersubsidi bertambah pada kisaran 30%.

Selama ini pemerintah pusat dan daerah tidak mampu untuk membangun fasilitas yang memadai serta nyaman untuk tranportasi umum bagi seluruh masyarakat perkotaan. Akibatnya, masyarakat terpaksa membeli kendaraan pribadi baik roda empat dan roda dua dan hal ini terjadi diseluruh masyarakat perkotaan di Indonesia. Dampaknya adalah semerawutnya jalan raya atas berbaurnya lalulintas kendaraan aneka roda dalam satu ruas jalan (sedan, truck aneka bobot, sepeda motor berbaur) sehingga kemacetan tidak bisa dihindarkan.

4. Cara pembelian impor BBM dari luar negeri harus melalui calo BBM yang bermarkas di Singapura bernama PT. Petral sebagai anak perusahaan PT. Pertamina sehingga harga BBM bersubsidi menjadi mahal di konsumen masyarakat Indonesia. (Politilisasi BBM bersubsidi dengan pihak asing = banyak pengamat energi mengatakan sebagai Mafia BBM)

Sebenarnya Pemerintahlah yang membuat kemacetan dijalan raya, pemerintah pulalah yang membuat tingginya konsumerisme bagi kendaraan transport keluarga sehingga konsumsi BBM bersubsidi semakin hari semakin meningkat. Kalau demikian, mengapa beban subsidi BBM di bebankan terus kepada rakyat ? Tidakkah pertambahan konsumsi BBM bersubsidi disebabkan atas ketidak mampuan pemerintah pusat dan daerah menata serta membangun sarana dan prasarana tranportasi yang nyaman bagi seluruh warga masyarakat Indonesia sehingga bisa memperkecil konsumerisme terhadap kendaraan pribadi. Jelas disini, kehendak pemerintah untuk menghapus subsidi BBM adalah merupakan tekanan dari pihak asing sehingga SPBU asing kembali bisa beroperasi lagi di Indonesia. (Ashwin Pulungan)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 3 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 8 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 10 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Si Belang, Si Nenek, dan Barang Bekasnya …

Ulfah Fa'izah N... | 7 jam lalu

Tips Bepergian Backpacking …

Rizal Abdillah | 7 jam lalu

Saudis Gay “Luthiy” …

Ali Uunk | 7 jam lalu

Tangisnya Danum …

Hozrin Hilmo | 7 jam lalu

Project Sophia: Memutus Benang Konflik …

Jafar G Bua | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: