Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Ashwin Pulungan

Semoga negara Indonesia tetap dalam format NKRI menjadi negara makmur, adil dan rakyatnya sejahtera selaras selengkapnya

Kita Dibohongi tentang Sebab Peningkatan Jumlah BBM Bersubsidi

OPINI | 16 April 2013 | 16:17 Dibaca: 2253   Komentar: 45   11

Sering kita disajikan berita tentang BBM didalam negeri bahwa konsumsi BBM semakin bertambah besar pada tahun-tahun berikutnya. Lalu para pakar energi dan pihak pemerintah selalu memberi argumentasi yang seolah-olah sangat benar padahal tidak sepenuhnya benar bahwa penyebab dasar peningkatan konsumsi BBM adalah hanya semata : “bertambahnya jumlah kendaraan baik roda empat dan roda dua dan banyaknya kendaraan boros energi yang masih beroperasi, penyalah gunaan peruntukan BBM bersubsidi bagi pabrikasi”.

Bertambahnya kendaraan roda empat dan roda dua, disebabkan tidak baik dan tidak nyamannya fasilitas umum sarana dan prasarana angkutan umum di Indonesia. Dalam hal ini pemerintah gagal membangun serta menata kenyamanan transportasi umum bagi masyarakat. Begitu juga dengan penyalah gunaan peruntukan BBM bersubsidi karena tidak adanya pengawasan yang ketat serta penegakan hukum yang tegas dan benar dari pemerintah untuk menindak penyelewengan peruntukan BBM bersubsidi sehingga manipulasi peruntukan BBM selalu mulus berjalan kontinyu.

Konsumsi BBM bersubsidi di Indonesia pada awal 2012 berada pada 44,04 juta kiloliter sampai akhir tahun 2012 telah mencapai 45,27 juta kiloliter : Premium 28,28 juta kiloliter, Solar 15,78 juta kiloliter, Minyak tanah  1,21 juta kiloliter.

Menurut Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Umi Asngadah volume konsumsi BBM bersubsidi pada 2013 diperkirakan akan mencapai 49,65 juta kiloliter (Premium 31,46 juta kiloliter, Solar 16,99 juta kiloliter, Minyak tanah  1,20 juta kiloliter), padahal kuota BBM bersubsidi yang telah disepakati pemerintah hanya 46,01 juta kiloliter. Diperkirakan ada defisit BBM sejumlah 3,64 juta kiloliter pada 2013.

13661036321042984483

Sebab Peningkatan Jumlah BBM Bersubsidi.

1. Jalan yang macet dan berlobang-lobang membuat konsumen BBM menambah 40% BBM yang diisi ke tangki kendaraan.

Jika kita melakukan perjalanan memakai kendaraan apakah itu roda empat dan roda dua, dalam mengisi tangki BBM kendaraan kita, selalu melebihkan sebanyak antara 40% - 60% lebih banyak dari BBM yang kita isi. Hal ini kita lakukan karena kita memperhitungkan kemungkinan terjadinya kemacetan lalulintas dijalan raya serta banyaknya jalan yang berlubang-lubang disuatu perkotaan maupun jalur jalan luar kota. Jika kita membeli 100 liter BBM untuk jarak tertentu, maka kita akan lebihkan sebanyak rata-rata minimal 50% jadi yang kita isi pada saat mengisi BBM di SPBU adalah 150 liter BBM.

2. Kebocoran yang dilakukan aparat Pertamina dalam setiap perjalanan BBM dalam angkutan laut kapal tanker menuju berbagai pulau diluar pulau Jawa, diperhitungkan kebocoran manipulasi BBM untuk setiap pengiriman kapal laut oleh mafia BBM adalah sebesar antara 30% - 40%.

Pengawasan yang dilakukan oleh Pertamina sendiri serta pengawasan oleh aparat terkait selalu tidak berjalan efektif untuk memantau kemungkinan kuat adanya manipulasi kebocoran BBM dalam setiap pengangkutan antar pulau. Karena pengawasan yang tidak berjalan baik, maka perbuatan manipulasi/pencurian BBM ditengah laut selalu terjadi. Apalagi adanya disparitas harga BBM bersubsidi yang cukup tinggi dengan harga BBM yang ada pada Negara tetangga Indonesia. Kemungkinan kuat permainan, pencurian dan manipulasi BBM bersubsidi ini, terkait dengan berbagai intansi pengamanan terkait dan kelompok tertentu dalam mafia BBM di Indonesia.

3. Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor keluarga sebagai dampak tidak adanya transportasi umum yang nyaman yang bisa dibangun oleh pemerintah. Hal ini memperparah kondisi kemacetan disetiap jalan raya pada kota-kota besar di Indonesia. Diperhitungkan konsumsi BBM bersubsidi bertambah pada kisaran 30%.

Selama ini pemerintah pusat dan daerah tidak mampu untuk membangun fasilitas yang memadai serta nyaman untuk tranportasi umum bagi seluruh masyarakat perkotaan. Akibatnya, masyarakat terpaksa membeli kendaraan pribadi baik roda empat dan roda dua dan hal ini terjadi diseluruh masyarakat perkotaan di Indonesia. Dampaknya adalah semerawutnya jalan raya atas berbaurnya lalulintas kendaraan aneka roda dalam satu ruas jalan (sedan, truck aneka bobot, sepeda motor berbaur) sehingga kemacetan tidak bisa dihindarkan.

4. Cara pembelian impor BBM dari luar negeri harus melalui calo BBM yang bermarkas di Singapura bernama PT. Petral sebagai anak perusahaan PT. Pertamina sehingga harga BBM bersubsidi menjadi mahal di konsumen masyarakat Indonesia. (Politilisasi BBM bersubsidi dengan pihak asing = banyak pengamat energi mengatakan sebagai Mafia BBM)

Sebenarnya Pemerintahlah yang membuat kemacetan dijalan raya, pemerintah pulalah yang membuat tingginya konsumerisme bagi kendaraan transport keluarga sehingga konsumsi BBM bersubsidi semakin hari semakin meningkat. Kalau demikian, mengapa beban subsidi BBM di bebankan terus kepada rakyat ? Tidakkah pertambahan konsumsi BBM bersubsidi disebabkan atas ketidak mampuan pemerintah pusat dan daerah menata serta membangun sarana dan prasarana tranportasi yang nyaman bagi seluruh warga masyarakat Indonesia sehingga bisa memperkecil konsumerisme terhadap kendaraan pribadi. Jelas disini, kehendak pemerintah untuk menghapus subsidi BBM adalah merupakan tekanan dari pihak asing sehingga SPBU asing kembali bisa beroperasi lagi di Indonesia. (Ashwin Pulungan)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 5 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Jangan Bikin Stress Suami, Apalagi Suami …

Ifani | 10 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tokoh ISIS Perintahkan: “Eksekusi …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Pesawat Terbesar Dunia Airbus A380 Hadir …

Muhamad Kamaluddin | 7 jam lalu

Aceh dan Mimpi yang Belum Berhenti …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Untuk Pengarang Pemula yang Mabuk Gaya …

Revo Samantha | 8 jam lalu

Forever Love …

Bapake Azka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: