Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Dono Pradopo

lahir di malang tahun 1965, gemar baca,memancing, memasang dan analisa politik

Kenaikan Harga BBM Penting Bagi Ekonomi

OPINI | 18 April 2013 | 22:44 Dibaca: 184   Komentar: 2   0

Surat pembaca

Kenaikan Harga BBM Penting Bagi Ekonomi

Masyarakat sangat realistis dengan kondisi ketimpangan harga antara BBM bersubsidi dengan BBM non-subsidi. Mau dilakukan imbauan apapun namanya, orang pasti milih yang termurah. Selain itu, menunda kenaikan harga BBM sama dengan mendorong penggunaan BBM bersubsidi untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan penggunaan seharusnya.  Belum berbicara penggunaan BBM yang salah, misuse atau dimanfaatkan untuk yang lain BBM yang dijual di eceran, harganya Rp 6.000 sampai Rp 7.000, orang masih mau beli. Dengan distorsi harga sebesar ini, itu juga malah mendorong hal-hal seperti itu makin marak, terus uangnya akhirnya tidak masuk ke pemerintah.

Pengamat Ekonomi Destry Damayanti menilai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi penting bagi ekonomi Indonesia karena ketimpangan harga dengan BBM non-subsidi sudah semakin besar.  Secara ekonomi kenaikan harga BBM bersubsidi itu sangat urgent, distorsi harga sudah besar sekali, yang satu Rp 9.700 (pertamax) yang satu Rp 4.500 (premium). Kebijakan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi juga dipengaruhi unsur politis karena sudah mendekati pemilihan umum 2014. Jika pemerintah terus menunda-nunda kenaikan harga BBM bersubsidi, maka perbedaan harga dengan BBM non-subsidi bisa makin besar.

Pemerintah harus berani menaikkan harga BBM bersubsidi karena dinilai dampaknya akan lebih besar ke APBN.  Apakah, mau 30 persen atau 50 persen, aksi demo dan keruwetannya pasti akan sama, tetapi dampak ke APBN lebih besar. Seandainya tidak jadi menaikkan harga, pemerintah harus memiliki kebijakan alternatif yang tegas dan konkret. Misalnya, mobil plat hitam tidak boleh pakai BBM bersubsidi. Ada yang bilang nanti kendaraan publik jadi haus ngisi bensin terus.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: