Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Hendrich Suksesto Cakra

seorang pengamat dan pemerhati ekonomi dan politik

BLT dan BLSM Kesalahan yang ( Mungkin ) Terulang

REP | 14 June 2013 | 03:07 Dibaca: 395   Komentar: 1   0

Pada tahun 2005 pemerintah menaikkan BBM 2 kali dan tahun 2008 juga demikian

pemerintah memberikan BLT ( BANTUAN LANGSUNG TUNAI ) sebagai kompensasi rakyat miskin

maksud baik pemerintah bisa kita terima baik tetapi kita miris bila kita membaca berita -berita berikut

Kutipan -kutipan berita ini sekedar mengingatkan kembali

JOMBANG, KOMPAS.com — Seorang laki-laki lanjut usia bernama Gondo (78) tewas saat sedang mengantre bantuan langsung tunai atau BLT di Balai Desa Denanyar, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Selasa (28/4). Korban tewas saat sedang duduk di barisan terdepan bangku plastik yang terdiri atas enam deret dengan jumlah sekitar 60 kursi yang berada di dalam sebuah ruangan itu.

Kepala Dusun Denanyar Utara, Ayub, yang pada saat kejadian tengah memantau pembagian jatah BLT menyebutkan, saat sedang duduk tiba-tiba korban terjatuh. “Ia tiba-tiba pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit,” katanya.(www.kompas.com)

tambahan lainnya yang diambil dari

sumber tulisan ini dari www.bintangsatria.wordpress.com
Muara Bungo, Jambi

Saman (52), Ketua Rukun Tetangga di Dusun Benit, Desa Sungai Mengkuang, Kecamatan Muara Bungo, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, tewas akibat ditikam warganya, Hendri alias Bujang (24), Jumat (21/10/2005) .Peristiwa pembunuhan tersebut terkait kartu kompensasi BBM (KKB) dan pembagian dana BLT untuk keluarga miskin.

* Depok, Jabar

Gara-gara stres didesak warganya yang tidak mendapatkan BLT, Nur Hasan (50), Ketua RT 02/08 Kelurahan Pancoran Mas, Depok, tewas menyedihkan akibat meminum cairan racun serangga, 21 Oktober 2005. Hasan menempuh jalan pintas dengan menenggak racun serangga. Warga yang tidak mendapat kartu mengira Hasan yang memainkan. Padahal, Hasan sudah menjelaskan bahwa kewenangannya hanya membagi.

* Karanganyer, Jateng

Seorang nenek, Kasipah (80), tewas karena keletihan antre di kantor Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Senin (17/10/2005) . Ia ini meninggal dalam perjalanan ke puskesmas setelah ambruk saat berdesak-desakan bersama ratusan warga. Sebelum meninggal korban sempat pingsan beberapa lama di tengah kerumunan warga.

* Demak, Jateng

Wadiman (70), warga Dukuh Kracek, Desa Sidomulyo, Kecamatan Dempet, Demak, Jawa Tengah, yang antre sejak pagi, tiba-tiba ambruk di depan Kantor PT Pos Indonesia Dempet, Jumat (14/10/2005). Warga membawa korban ke puskesmas terdekat tapi nyawanya tidak tertolong.

* Palembang, Sumsel

Ratusan warga antre untuk mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) sejak pagi hari, padahal BLT baru mulai dibagikan pukul 13.00 WIB, di Kantor Pos Sako dan Kantor Pos Besar Jalan Merdeka, Palembang, Sumsel, Selasa (3/1/2006). Tiga orang pingsan.

* Banjarnerga, Jateng

Tarsono (84), warga Banjarnegera, Jawa Tengah, meninggal setelah pulang mencairkan dana BBM, Sabtu (15/10/2005) * Banyuwangi, Jatim

Petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Beni Kushariawan, Senin (17/10/2005) , nyaris menjadi korban amuk massa. Massa marah karena dianggap berbelit-belit ketika memberikan penjelasan kepada warga miskin yang tidak mendapat bantuan langsung tunai (BLT).

* Banyuwangi, Jatim

Nenek Warinem (84), warga Genteng Wetan, Banyuwangi, Jawa Timur, meninggal saat antre bantuan langsung tunai (BLT), Jumat (14/10/2005) . Warinem bersama 1.400 warga antre dana BBM di kantor camat Genteng, Banyuwangi. Tiba-tiba, nenek itu pusing dan meminta Jami’iyah, tetangga yang mengantar, membawanya keluar antrean. Baru beberapa menit istirahat, ia pingsan dan meninggal.

*Yogyakarta

Daliyem Kirno (75), seorang janda miskin di Bangunrejo, Rt53/Rw12 Kricak, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Karena tidak mendapat BLT, Daliyem menghakiri hidupnya dengan terjun ke sungai. Sebelum meninggal korban sempat mengeluh dan menceritakan bahwa ia nekat terjun ke sungai karena merasa mendapat perlakuan tidak adil karena tidak mendapat dana KKB BLT. Sebelumnya, telah jatuh beberapa korban dengan penyebab karena tak kuat berdesak-desakan di tengah ratusan bahkan ribuan pengantre.

* Bojonegoro, Jatim

Saining (66), warga Bojonegoro Jawa Timur yang sampai koma setelah mengantre di kantor kecamatan.

dikutip dari berbagai tulisan di www.bintangsatria.wordpress.com

TULISAN TULISAN DI ATAS ADALAH SISI KELAM BLT .

SEHINGGA MEMBUAT BLT DIPELESETKAN BANTUAN LANGSUNG TEWAS

APAKAH BLSM ( BANTUAN LANGSUNG SEMENTARA MASYARAKAT) MENJADI BANTUAN LANGSUNG SEKETIKA MATI ?

sebenarnya kejadian kejadian di cuplikan berita di atas tidak perlu terjadi atau tidak seharusnya terjadi

andai :

1.budaya tertib antre

kalo saja antre dengan tertib , dan tidak berdesakan pasti akan aman saja

kalo saja antre dipisah antara orang tua dan yang muda pasti tidak akan terjadi

2.penerima yang sudah lansia sebaiknya menunggu di rumah saja atau ada petugas yang mengantar

ke rumah. sehingga mereka tidak perlu usah payah antre.

jadi apabila BLSM dibagikan tolonglah pemerintah belajar dari kesalahan dalam pembagian uang

kasihan rakyat miskin dan lansia demi sejumlah uang sedikit malah harus meregang nyawa.

mungkin memang setiap hal harus ada tumbal…..

oh pemerintah, jgn lah maksud baikmu menjadi bencana yang membawa maut.

sehingga BLSM tidak diplesetkan lagi dengan menjadi BANTUAN LANGSUNG SAKIT MENINGGAL

JANGAN ADA LAGI ORANG TUA SAKIT KARENA ANTRE HANYA UNTUK 150.000 SEBULAN

JANGAN ADALAGI ORANG TUA MENINGGAL KARENA HANYA UNTUK ANTRE 150000 SEBULAN

PANTASKAH NYAWA ORANG TUA KITA MELAYANG HANYA ANTRE UNTUK 5000 / HARI???

OH PAK PRESIDEN TOLONGLAH ATUR SEDEMIKIAN RUPA/ MENYELURUH AGAR MAKSUD BAIKMU MEMBAWA PAHALA BUKANNYA DOSA KRENA MEMBUAT ORANG MATI.

About these ads

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 10:12


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 10 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 18 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 20 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Di Bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 13 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 13 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 13 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 13 jam lalu

Peniti Community, Wadah Kompasianer …

Isson Khairul | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: