Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

“Apa yang Harus Dilakukan bila Angsuran Kredit menjadi tidak Lancar?”

OPINI | 02 July 2013 | 21:21 Dibaca: 704   Komentar: 0   1

“APA YANG HARUS DILAKUKAN BILA ANGSURAN

KREDIT MENJADI TIDAK LANCAR?

Oleh : Ali Suyanto Herli

Penulis “Buku Pintar Panduan Pengelolaan BPR dan Lembaga Keuangan Pembiayaan Mikro”, Penerbit ANDI, Mei 2013.

PERBANKAN

Saat ini fungsi perbankan dalam kehidupan manusia sudah bagaikan kebutuhan akan oksigen. Dalam segala aspek kehidupan, setiap manusia selalu menggunakan jasa-jasa perbankan di dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadinya. Misal untuk melakukan aktivitas menabung, transfer dana ke orang lain, menarik dana, membayar tagihan kartu kredit, telepon, listrik, PAM bahkan hingga modem.

Dalam perkembangannya jenis-jenis perbankan pun tumbuh menyesuaikan jaman dan kebutuhan konsumennya. Untuk konsumen kelas usaha kecil menengah (mikro), ada pilihan menggunakan BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Untuk kosumen kelas menengah ke atas dapat menggunakan jasa bank konvensional. Untuk konsumen dari golongan tertentu yang menganut paham-paham tertentu, tersedia jasa Bank Syariah.

Lembaga keuangan tidak melulu berupa perbankan, karena terdapat alternatif lain seperti Koperasi Simpan Pinjam (KSP), Pegadaian, lembaga pembiayaan atau leasing, sampai dengan lembaga modal ventura. Masing-masing mempunyai karakteristik yang sesuai dengan segmentasi nasabahnya.

KREDIT

Salah satu jasa perbankan yang paling penting adalah jasa pemberian kredit, sesuai dengan fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi antar pihak yang kelebihan dana (aktivitas funding) dengan pihak yang membutuhkan dana (aktivitas lending). Kredit bisa menjadi sesuatu yang sangat membantu kita, namun bilamana salah dalam penentuan ’setting’-nya bisa menjadi sumber masalah.

Pihak bank sendiri umumnya memastikan dahulu bahwa kredit harus jelas aspek 5 C-nya. Yaitu, Character / karakter peminjam, Capacity / kemampuan bayar ada dan jelas, Collateral / agunan nilainya cukup dan dapat diikat secara sempurna, Condition / kondisi ekonomi secara mikro dan makro, Capital / skala usaha calon peminjam atau debitur.

Tujuan kredit umumnya produktif dan konsumtif. Bila tujuannya produktif, harus dilihat juga apakah sifat kebutuhan dana kredit tersebut adalah sifatnya sementara (temporary) ataukah sifatnya jangka panjang (permanent). Bila sifatnya sementara untuk jangka pendek, struktur kredit dapat menggunakan kredit berjangka (demand loan) yang hanya membayar bunga setiap bulannya hingga tanggal jatuh tempo perjanjian kredit (PK) kita harus melunasi pokok kreditnya. Namun bila sifatnya jangka panjang, sebaiknya menggunakan kredit angsuran (installment) sehingga suatu ketika kredit itu menjadi lunas.

KREDIT NON LANCAR

Lalu bagaimana jika angsuran atau pembayaran kewajiban kepada pihak bank itu suatu ketika menjadi tidak lancar karena cashflow kita mepet atau bahakan saldo hingga minus? Karena dengan berbagai variabel dan banyaknya faktor yang mempengaruhi kondisi kas kita, hal itu sangat mungkin sekali terjadi.

Pertama-tama jangan panik. Kita harus tetap tenang menghadapi semuanya, dan segera mencari solusi bersama-sama dengan pihak bank. Umumnya jika suatu penyakit diobati di stadium awal, kemungkinan untuk pulihnya lebih besar daripada kita obati pada saat sudah stadium akut.

Handphone jangan dimatikan bila ditelpon oleh bank. Jawab saja secara jujur dan terbuka. Karena umumnya orang dalam kondisi panik dan takut, cenderung tidak mau menerima panggilan telepon pihak bank. Padahal ini justru semakin memperburuk hubungan dengan pihak bank.

Sikap kooperatif dan terbuka kepada pihak bank adalah suatu modal penting dalam upaya pencarian solusi tersebut. Hindari membawa-bawa pihak luar yang tidak berkepentingan di awal-awal negosiasi tersebut, seperti misalnya lawyer (pengacara), rekan pejabat publik, politisi, aparat hukum, wartawan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), kelompok massa tertentu, hingga pengawal seperti bodyguard yang cenderung menimbulkan prasangka kurang baik.

Kredit kita akan masuk kategori kredit non lancar. Ada 5 kolektibilitas (tingkat kelancaran pembayaran kewajiban ke bank) kredit non lancar, yaitu Lancar (tidak ada tunggakan), Memerlukan Perhataian Khusus (frekuensi menunggak 1 sampai 3 kali), Kurang Lancar (tunggakan 3 kali sampai 6 kali). Diragukan (tunggakan 6 sampai 12 kali), dan Macet (tunggakan 12 kali ke atas).

Data kredit kita yang menjadi non lancar tersebut akan masuk dalam database di Bank Indonesia (BI) sampai rentang waktu 2 tahun ke belakang. Dan umumnya setiap calon peminjam (debitur) yang mengajukan kredit di bank, pihak bank akan selalu dan wajib mengecek rekam jejak konduite calon dedbitur di perbankan nasional. Semua datanya akan muncul di Sistem Informasi debitur (SID) tersebut.

SOLUSI

Bila usaha kita masih berjalan, namun volume omset mengalami penurunan, maka umumnya pihak bank akan menawarkan upaya-upaya restrukturisasi kredit. Upaya itu terdiri dari tiga kemungkinan, yaitu Rescheduling, Restrukturing dan Reconditioning. Dalam saituasi khusus mungkin saja diambil sekaligus dua atau tiga langkah itu secara berbarengan (simultan).

Rescheduling adalah melakukan penjadwalan hutang kembali dimana tenor kredit diperpanjang sehingga beban angsuran semakin berkurang, dan jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan bayar per saat setelah omset mengalami penurunan. Restrukturing adalah upaya merubah struktur kredit, misalnya dari Kredit Berjangka menjadi kredit angsuran, dengan jumlah angsuran yang disesuaikan kemampuan bayar terkini, sehingga diharapkan suatu ketika pokok kredit akan lunas. Reconditioning adalah upaya-upaya bank untuk merubah kondisi kredit agar lebih meringankan beban angsuran, misalnya dengan menurunkan suku bunga kredit atau meniadakan kondisi persyaratan kredit (covenants).

Namun bila usaha kita sudah sama sekali bangkrut, upaya-upaya di atas tentu tidak akan efektif. Bila usaha kita sudah habis, dimana kemampuan bayar kita sudah tidak ada lagi, pihak bank akan menawarkan ide untuk melikwidasi / menjual agunan, atau bisa juga dengan penyerahan agunan secara sukarela kepada pihak bank dimana nantinya akan dibuatkan perjanjian secara notariil berbarengan dengan perjanjian penyerahan fisik agunan tersebut.

Pada saat proses penyerahan agunan secara sukarela ini, kita dapat meminta konsesi-konsesi khusus seperti pengurangan atau penghapusan jika memungkinkan di post denda dan bunga, atau bahkan jika dapat juga sebagian keringanan di saldo pokok kredit.

Agunan tersebut akan dikelola oleh pihak bank untuk dipasarkan secepatnya. Bila telah terjual, uang hasil penjualan akan digunakan untuk melunasi kredit non lancar kita. Dan bilamana masih terdapat sisa uang, maka uang itu dikembalikan kepada kita.

UPAYA HUKUM

Bilamana proses di atas tidak terjadi, maka pihak bank kemungkinan besar akan menempuh prosedur ke langkah hukum dnegan melakukan eksekusi agunan melalui kantor Pengadilan Negeri (PN) setempat atau bisa juga melaluiĀ  Kantor Penyelenggara Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).

Pihak debitur pun dapat menempuh upaya-upaya hukum juga. Namun umumnya langkah ini membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang jauh lebih mahal daripada upaya kekeluargaan di atas. Melelahkan bagi kedua belah pihak.

Jangan pernah memusuhi perbankan, karena mereka juga punya kepentingan di dalam menyelesaikan kredit non lancar kita. Perbankan bertanggung-jawab untuk tetap menjaga kualitas asset kreditnya agar tetap lancar dan atau menjadi kas kembali dalam waktu secepatnya bila kredit itu menjadi macet. Dana yang digunakan untuk memberikan kita kredit itu pada dasarnya adalah dana tabungan dan deposito dari pihak lain yang harus dikembalikan oleh bank bilamana ditarik oleh nasabahnya.

Berita baiknya, upaya hukum ini ditempuh hanya sebagai alternatif terakhir saja.

BANGKIT KEMBALI

Upaya pertama secara kekeluargaan jauh lebih baik daripada upaya kedua secara hukum tadi. Kita lihat saja, pada kemungkinan pertama hubungan antara bank dengan kita masih tetap baik walaupun kredit kita menjadi non lancar. Nama baik kita masih terjaga sebagai orang yang punya komitmen dan bertanggung-jawab penuh. Suatu ketika saat kita bangkit kembali secara bisnis dan keuangan, maka pihak bank akan tetap terbuka tangannya untuk menyambut kita, Beda dengan pilihan kedua melalui langkah hukum, masing-masing pihak akan tetap trauma untuk saling berhubungan kembali.

Menerima kenyataan hidup, sepahit apapun fakta itu, sudah menjadi satu langkah awal untuk bangkit kembali. Bila kondisi usaha kita memang sudah hancur, kita harus siap menerima kenyataan hidup itu. Jangan khawatir, setiap pagi Tuhan menyebar rejeki kepada umat manusia tanpa henti-hentinya. Jika kita mau bekerja dan niatnya baik, sebagian rejeki itu akan jatuh ke Anda. Jangan takut Anda tidak punya uang sehingga tidak mampu untuk membeli makan.

Hidup itu cuma sementara, segala kekhawatiran ini juga sementara. yang paling penting jika kita terjatuh adalah kita harus selalu bangkit kembali. Itikad baik, bersikap baik, hasilnya juga pasti baik.

Amin.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 8 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 16 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 16 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 16 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: