Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Mengapa Neraca Perdagangan?

REP | 30 August 2013 | 15:39 Dibaca: 224   Komentar: 2   0

Faktor penting yang membuat Indonesia bisa bertahan dari krisis global tahun 2008 – 2011 adalah positifnya fundamental ekonomi Indonesia saat itu yang ditunjukkan dari surplus neraca perdagangan yang terus membaik dari 2008 sampai 2011, meskipun krisis global tersebut tetap berdampak signifikan pada turunnya surplus neraca perdagangan dibandingkan periode sebelumnya. Neraca perdagangan yang kuat membuat Indonesia mampu menahan hantaman krisis dan mencatat pertumbuhan ekonomi yg positif di tengah-tengah ketidakpastian ekonomi dunia ketika itu.

Namun melihat neraca perdagangan Indonesia tahun 2012 yang tercatat defisit sepertinya pintu perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai terbuka. Ditambah lagi rilis neraca perdagangan periode Januari s/d Juni 2013 (www.kemendag.go.id) yang kembali defisit bahkan hampir 2x lipat dibandingkan defisit tahun 2012. Catatan neraca perdagangan Indonesia periode Januari s/d Juni 2013 menunjukkan defisit 3,3 milyar US$ – hmmm kalau diRupiahkan itu berapa ya nolnya? Hehe….

Neraca perdagangan adalah catatan yang menunjukkan selisih nilai ekspor dan impor baik dari sektor migas maupun non migas. Apabila nilai ekspor lebih besar daripada impor, maka terjadilah surplus, dan sebaliknya, dengan terjadinya defisit neraca perdagangan berarti pengeluaran negara (dari hasil impor) melebihi penerimaan negara (dari hasil ekspor). Bahasa sederhananya, biaya lebih besar daripada pendapatan. Manakala biaya lebih besar daripada pendapatan, artinya Indonesia sedang dalam keadaan merugi, dan defisit neraca perdagangan sebesar 3,3 milyar US$ menunjukkan seberapa besar kerugian kita. Tidak heran pada tanggal 1 Juli 2013 pemerintah buru-buru memberlakukan peraturan tentang pengenaan tarif PPh final 1% dari omset untuk Wajib Pajak dengan omset s/d 4,8 Milyar demi menggenjot penerimaan pajak karena penerimaan dari sektor perdagangan yang terus merosot tajam – walaupun pemerintah enggan menyebutkan alasannya demikian, hehe.

Merosotnya penerimaan sektor perdagangan menyebabkan Indonesia mengalami keterbatasan dalam melakukan impor sementara di sisi lain permintaan dalam negeri sangat tinggi dan produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi tingginya permintaan. Tingginya permintaan yang tidak diimbangi kecukupan pasokan barang (demand > supply) menyebabkan terjadinya kelangkaan barang yang memicu lonjakan harga, maka terjadilah inflasi. Seorang analis asing pada tahun 2012 pernah memprediksi Rupiah di tahun 2013 nilainya akan merosot tajam melewati angka Rp10.000/US$, dan kini hal tersebut benar adanya.

Neraca perdagangan memang indikator penting perekonomian suatu Negara. Anjloknya neraca perdagangan efektif memicu anjloknya perekonomian. Sungguh menyedihkan melihat catatan impor kita yang melebihi kemampuan ekspornya. Lebih menyedihkan lagi, beras, gula, tepung, bawang, bahkan cabai dan garam pun kita masih impor! Apakah buku – buku pelajaran Sekolah Dasar saat ini masih menyebut Indonesia sebagai Negara Agraris dan Negara Maritim? Inikah jawaban manakala sumber daya alam nusantara yang berlimpah ini hanya menjadi pajangan sia-sia?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 11 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 12 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 12 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Phsycologhy Dangdut Pengaruhi Cara Pandang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

“Triple Steps Solution” Upaya …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Every Children is Special …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Pemilik Bagasi Lost 500 Juta Rupiah Itu …

Irawan | 8 jam lalu

Habibi & Kakak vs Sentimentil Sang Guru …

Daniel Oslanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: