Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Ama Muel

Saya seorang humanitarian yang tertarik melihat fenomena sehari-hari dari kacamata awam dan menarik kesimpulannya. Kesimpulan ini selengkapnya

Petani Cabe Vs Dokter Kandungan Vs Agen Tiket Online

OPINI | 22 July 2010 | 10:51 via Mobile Web Dibaca: 360   Komentar: 3   0

Daripada ngomongin infotainment di: http://m.kompasiana.com/?act=r&id=201414
, mending nyimak pengalaman saya ini:
Seminggu ini, saya sedang sirik-siriknya dengan nasib tiga orang kenalan saya di sebuah kabupaten.

Yang pertama adalah seorang petani cabe. Dia yang masih relatif muda menyewa sehektar tanah yg ditanam dengan cabe. Cara menanam cabe dipelajarinya dari NGO Help e.V. beberapa tahun yang lalu. Intinya: menggunakan plastik untuk menjaga kelembaban. Panen kali ini benar-benar membawa berkah baginya karena harga cabe sedang tinggi-tingginya di daerah saya: Rp.39 rb/ kg
Kemudian saya berhitung: dengan panen minimal 37 ton/ ha/ tahun dan harga rata-rata Rp.20rb/ kg, beliau bisa mendapat keuntungan kotor maksimal Rp. 740 jt/ tahun atau Rp. 61 jutaan per bulan. Wow, ini setara dengan penghasilan= us$ 81.318/ tahun

Yang kedua adalah seorang dokter spesialis kandungan lulusan universitas swasta (S1) dan negeri (spesialis) di sebuah ibukota propinsi. Beliau memiliki sebuah alat USG merek General electric sebagai daya tarik klinik prakteknya. Alat ini begitu presisinya, sehingga mimik wajah calon bayi terlihat, begitu juga jenis kelamin dan kelengkapan anggota badan dan detak jantung janin. Per malam beliau bisa menghasilkan penghasilan kotor Rp. 5 jt di klinik prakteknya dan minimal 2,5 jt untuk sekali operasi. Beliau bisa menghasilkan Rp 100 jt per bulan atau penghasilan= us$ 131.868/ tahun!

Yang ketiga adalah seorang agen tiket online sebagai sampingan. Sebenarnya beliau bekerja sebagai karyawan di hotel bintang 1. Saya terheran dengan kenekatannya membuka sebuah warnet berkomputer 5 unit dengan layanan satelit VSAT. Katanya, iuran bulanan 2,5 juta rupiah per bulan. ternyata, beliau mengandalkan pemesanan tiket online sebagai pemasukan utama dan kecepatan internet via satelit sangat mendukung usaha sampingannya ini. Selain, jaringan pertemanan dan relasi yang luas juga jadi modalnya. Dengan komisi Rp.20.000 x min 10 lembar tiket per hari x 3 maskapai, beliau bisa mendapat masukkan tambahan sebesar ca Rp. 15 juta per bulan atau penghasilan = us$ 19.780/ tahun

Lalu, saya jadi teringat dengan PPK kita yang sekitar us$ 4.000. wow, berapa kali lipat kah penghasilan mereka di atas PPK rakyat Indonesia? Selamat untuk mereka :-)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gundala Putra Petir Berpeluang Bergabung di …

Daniel H.t. | | 28 April 2015 | 00:44

Bagi Klub ISL/QNB, Kompetisi Ternyata Tidak …

Hery | | 28 April 2015 | 12:07

[BANJARMASIN] Jelajah Non Tunai bersama Bank …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:00

Mantan Presiden Seusil Mantan Pacar (Episode …

Alan Budiman | | 28 April 2015 | 14:06

Blog Competition: Kotaku Kota Cerdas! …

Kompasiana | | 27 April 2015 | 01:52


TRENDING ARTICLES

PSSI Dibekukan, Hary Tanoe Tetap Jalan …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

RCTI Membiarkan Afgan Di-bully? …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

Senangnya Mendengar Kompetisi Bergulir Lagi …

Mafruhin | 11 jam lalu

Pilpres 2019 Masih Megawati vs SBY …

Syaripudin Zuhri | 13 jam lalu

Soal Pelacuran Ahok Memang Terlalu Polos …

Fadli Zontor | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: