Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Moedpro

Mahmuddin Muslim, lahir di Pariaman, 22 Juli 1974. Menyelesaikan study pada fakultas ekonomi UNTAN, Aktif selengkapnya

Pertanian Organik, Sebuah Solusi

OPINI | 02 December 2010 | 05:03 Dibaca: 1255   Komentar: 0   1

Masalah klasik yang dihadapi oleh petani Indonesia adalah pengolahan lahan pertanian dengan biaya mahal tetapi menghasil produk pertanian yang dihargai murah oleh pasar. Masalah ini disebabkan, pertama, harga bibit/benih dan pupuk yang mahal, hal ini disebabkan benih/bibit yang digunakan tidak dihasilkan sendiri oleh petani tersebut. Sehingga para petani tidak memiliki daya tawar terhadap harga Bibit/Benih. Demikian juga dengan pupuk yang digunakan, merupakan hasil pabrikasi dengan metode kimiawi yang dijual dengan harga mahal pada petani Indonesia. Masalah harga yang mahal ini selalu menjadi perdebatan di banyak kalangan, mulai dari rantai distribusi yang terlalu panjang, tidak adanya peran pemerintah, atau tidak berhasilnya perusahaan pupuk milik Negara dalam memenuhi kebutuhan pupuk bagi petani Indoensia. Sayangnya, perdebatan ini menghasilkan konklusi yang membantu petani bisa memperoleh harga yang murah. Kedua, minimnya pengetahuan petani dalam pengelolaan lahan pertanian. Mulai dari pengetahuan penyiapan lahan, system hidrologi (air), pola tanam, karakter lahan, cuaca dan kecenderungan pasar produk pertanian. Ketiga, “menghilangnya” pengetahuan dan kearifan lokal dalam mengelola lahan pertanian. Pengetahuan dan kearifan lokal dalam mengelola lahan pertanian yang sudah tumbuh dan berkembang sejak dulu, secara perlahan hilang karena banyak faktor. Padahal pengetahuan dan kearifan lokal yang di “wariskan” oleh nenek moyang bangsa Indonesia tersebut, jika dikreasi maka akan sangat membantu petani dalam mengelola pertanian. Pengetahuan dan kearifan lokal tersebut berkait dengan pola tanam, cuaca, sistem hidrologi, tanah, serta pupuk yang dibutuhkan dalam usaha pertanian. Biasanya pengetahuan dan kearifan lokal ini, mengajarkan pada kita pemanfaatan secara bijak alam sekitar dalam usaha memenuhi kebutuhan manusia. Keempat, belum adanya kebijakan terpadu dari pemerintah dalam mendorong kemajuan pertanian di Indonesia. Mulai dari kebijakan bibit.benih, pupuk, sampai pada kebijakan harga pada produk pertanian.

Tak heran, nasib para petani Indonesia selalu simetris dengan kemiskinan dan kebodohan di Indonesia. Ironisnya, bahkan ketika harga produk pertanian melambung tinggi di pasaran, petani tidak pernah menikmati impact dari kenaikan harga produk tersebut. Hasil produksi petani setiap tahun hanya mencukupi untuk menutupi hutang biaya produksi dan ketika musim tanam datang, mereka membuat hutang baru lagi. Ini mungkin disebut oleh Holder sebagai siklus kekerasan/kemiskinan.

Sebagai negara yang memiliki lahan pertanian yang luas, maka sudah semestinya masalah klasik yang dialami oleh para petani harus menjadi pertanian semua kalangan. Perumusan konsep mestinya dibarengi dengan upaya-upaya kongkrit dalam memajukan pertanian sehingga memberi dampak pada para petani dengan indikator semakin baik kualitas hasil pertanian yang tentu saja akan semakin baik harga yang diterima oleh petani dan meningkatnya kesejahteraan petani. Demikian pula dengan pemerintah, kebijakan-kebijakan yang diterbitkan harus secara nyata mampu mendorong peningkatan kualitas produk pertanian. Kebijakan-kebijakan tersebut mesti diikuti dengan tindakan-tindakan yang secara nyata memberikan “proteksi dan privilage” pada petani kita.

Selain itu, perlu dilakukan transformasi secara gardual baik dalam teknologi, produksi dan kemadirian. Kemampuan untuk memanfaatkan potensi lokal harus secara terus menerus di dorong sehingga petani tidak lagi memiliki ketergantungan pada pihak-pihak yang diluar kontrol mereka. Sistem pertanian organik adalah salah satu solusi dalam memecahkan masalah klasik di dunia pertanian. Sistem pertanian organik, adalah sebuah proses pertanian yang memanfaatkan alam sekitar. Metode dan teknologinya merupkan pengetahuan dan kearifan lokal yang sudah tumbuh dan berkembang secara turun temurun. Dengan demikian sistem pertanian organik secara metode dan teknologi lebih mudah di fahami dan diterima oleh petani Indonesia. Selain biaya produksi yang murah, karena semua faktor yang dibutuhkan dalam proses pertanian dapat dengan mudah dijangkau oleh petani dan selalu tersedia setiap saat. Apalagi, harga jual hasil pertanian organik sangat tinggi di pasar dunia seiring dengan kesadaran dan semakin tumbuhnya pasar produk petanian non kimiawi.

Kenapa Pertanian Organik?

1. Lebih aman, karena bebas pestisida sintetis, hormon sintetis dan bebas MGO (transgenik)

2. Pelestarian Lingkungan (konservasi air, mempertahankan keanekaragaman hayati, menjaga keseimbangan ekosistem)

3. Efesien karena ekternal input relatif tidak ada, sarana produksi dibuat/produksi sendiri, pemanfaatan sumberdaya lokal

4. Lebih kaya nutrisi

Kandungan Kalsium (mg/100gram)

Organik Non-Organik
Tomat 23 5
Selada 71 16
Buncis 41 15

5. Mendukung pelestarian lingkungan

Prospek Pertanian Organik

Lahan Pertanian Organik di Dunia

No

Negara

Luas Lahan Organik (Juta Ha)

Prosentase (%)

1 Australia 11,30 2,4
2 Argentina 2,80 1,7
3 Italia 1,05 6,8
4 Amerika Serikat 0,93 0,2
5 Brazil 0,83 0,2
6 Uruguai 0,76 4,0
7 Jerman 0,73 4,3
8 Spanyol 0,72 2,8
9 Inggris 0,69 4,4
10 Chili 0,64 1,5

Luas Lahan Pertanian di Asia

No

Negara

Luas lahan organik (Ribu Ha)

Prosentase

(%)

1. China 298,990 0,05
2. India 76,236 0,05
3. Indonesia 40,000 0,09
4. Sri Lanka 15,215 0,65
5. Vietnam 6,475 0,06
6. Philipina 3,500 0,03

Kebijakan yang dibuat oleh beberapa negara maju mengarah pada pertanian organik. Negara maju secara gencar dan maasif melakukan kampanye terhadap penggunaan produk pertanian dan pertanian organik misalnya yang tergabung dalam IFOAM dan GAP. Selain itu, sebenarnya pemerintah Indonesia juga sudah mengarahkan pembangunan sektor pertanian ke arah pertanian organik dengan semboyan “Go Organik 2010″. Beberapa pemerintah daerah juga telah memulai untuk mengarahkan kebijakan pembangunan pertanian di daerah ke arah pertanian organik misalnya pemerintah provinsi Sumatera Barat dalam RPJM 2006-2010 (program pengembangan teknologi pertanian berkelanjutan melalui peningkatan aplikasi pertanian organik).

Peningkatan kesadaran konsumen untuk mengkonsumsi makanan yang lebih sehat dan bersih (bebas kimiawi) semakin tahun semakin meningkat. Kecenderungan ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju (eropa dan Amerika) tetapi juga di negara-negara berkembang. Dalam kontek Indonesia, semakin banyak masyarakat terutama di perkotaan, berpindah mengkonsumsi produk-produk organik. Peningkatan kesadaran konsumen akan produk yang lebih baik dan bersih dari unsur kimiawi, tentu membuat pasar produk organik semakin besar.

Selain itu, sistem pertanian organik, juga menjadi sebuah solusi yang bijak dalam mengurangi pemanasan global. karena sistem pertanian organik mengandung prinsip menjaga ekosistem. Mulai dari pengolahan tanah, penggunaan air, pupuk, pengendalian hama, budidaya dan pengolahan hasil selalu bersinergi dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

Sekarang, kita tunggu peran pemerintah secara kongkrit untuk lebih berpihak pada petani Indonesia. Misalnya, program subsidi pupuk, mungkin Pemerintah perlu memberi subsidi pada Petani organik dalam bentuk lain, misalnya subsidi pupuk untuk petani organik di berikan dalam bentuk ternak, karena semua pupuk, NPK, Nutrisi, pestisida organik dihasilkan dari ternak. Atau dengan istilah lain, ternak adalah pabrik pupuk bagi petani organik. Demikian juga kebijakan pemerintah yang lain untuk sektor pertanian, mesti lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan para petani.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Plus Minus kalau Birokrat yang Jadi …

Shendy Adam | | 02 September 2014 | 10:03

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: