Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Fatkhul Muin

Sepuluh tahun lalu berkecimpung memburu dan menulis berita namun saat ini berwiraswasta dan mengembangkan ekonomi selengkapnya

” Arum Manis ” Jajanan Lama yang Masih Bertahan

REP | 05 June 2011 | 10:10 Dibaca: 1431   Komentar: 1   0

Mbah Suwar melayani pelanggannya
Jepara – Tahun 1980 jajanan ini amat populer dikalangan anak-anak , orang mengenalnya sebagai ” Arum Manis ” mungkin karena baunya harum dan rasanya manis . Di tahun-tahun itu jajanan ini sangat lekat dengan anak-anak selain penjualnya yang ramah –ramah , juga harganya sangat terjangkau oleh uang jajan mereka . Penjual ” Arum Manis ” dulu tidak menggunakan alat transportasi seperti sekarang , namun dua kotaknya dipikul ke sana kemari . Yang satu merupakan mesin atau alat untuk membuat arum manis , sedangkan kotak yang satu lagi berisi perbekalan dan juga bahan untuk membuat arum manis.

Mesinnya sederhana sekali berujud plat aluminium melingkar tempat jatuhnya arum manis dan ditengahnya berujud kaleng berputar yang berisi gula yang dipanaskan dengan lampu berbahan bakar spiritus. Gula yang dicampur pewarna kemudian diisikan pada atas kaleng yang diatur sedemikian rupa sehingga ketika dipanaskan gula itu berubah menjadi mirip awan tipis yang semakin lama semakin banyak . Gula seperti awan itulah yang kemudian dikenal sebagai arum manis yang kemudian dimasukkan di dalam plastik-plastik kemudian dijajar rapi di tempat yang disediakan dengan penjepit khusus
.
” Penjual arum manis sekarang jarang , selain harga gula yang mahal juga kalah dengan makanan model baru . Satu plastik kecil ini saya jual Rp 500,- kalau 2 plastik ya Rp 1.000,- . Oleh karena jarang yang jualan arum manis saya mencoba jualan kembali ”, tutur mbah Suwar (65) warga desa Karangrandu Pecangaan Jepara yang mangkal di depan sebuah sekolah TK
.
Mbah Suwar yang akrab dengan anak-anak ini mengatakan, sebelum berjualan ” Arum manis ” ia berjualan bakso ojek , permen dan roti , agar jualannya bertambah laku iapun berjualan Arum manis . Dulu teringat ketika mudanya jajanan ” Arum Manis ” cukup populer di sekolahan- sekolahan , sehingga dulu satu sekolah yang jualan arum manis tidak hanya seorang saja . Setiap istirahat tiba janan ini pasti menjadi rebutan anak-anak sekolah , namun seiring dengan kemajuan maka makanan untuk anak-anak semakin bertambah dan jajanan ” Arum Manis ” ini semakin tergeser. Adanya jajanan ” Arum Manis ” ini sekarang dapat kita jumpai di pasar-pasar malam atau keramaian lain . Namun harganya sekarang cukup mahal setiap plastik besar Rp 5.000,- - Rp 7.500,-.

” Kalau dijual seperti di keramaian itu untung saya pasti besar , namun di sekolahan paling mahal Rp 1.000,- saja itupun jarang yang beli karena jajan mereka tidak banyak . Maklum orang desa ” tambah Mbah Suwar.

Mbah Suwar membuat ” Arum Manis”
Menurut Mbah Suwar berjualan ” Arum Manis” ini untungnya cukup lumayan , gula 1 Kg saja jadi ” Arum Manis ” puluhan plastik , namun ya harus sabar melayani anak-anak . Ketika sedang pelajaran ia tidak membuat dahulu karena jika menunggu lama ” Arum Manisnya ” akan kempes kurang menarik. Jika waktu istirahat tiba iapun terus membuat ” Arum manis” dengan cara memutar mesin sederhana itu seraya memasukkan gula yang dipanasi dengan lampu spiritus. Mengapa lampu spiritus ? , kalau memakai lampu minyak selain menimbulkan asap hitam juga bau minyak ikut terasa di ” Arum Manis”

Karena jamannya telah berubah dulu penjual ”Arum Manis” memikul kotak kesana kemari , namun Mbah Suwar sekarang menggunakan sepeda motor untuk mengangkut kotak mesin pembuat ” Arum manis”. Dari rumahnya yang berjarak 10 – 15 km dari tempatnya mangkal Mbah Suwar berangkat dan pulang menggunakan motor bebek tuanya . Ayo siapa yang ikut jejak Mbah Suwar jualan ” Arum Manis ” , jajanan lama yang masih bertahan. (FM)
Fatkhul Muin
Pengelola Blog : Pusat Informasi Masyarakat Pesisir (http: www.for-Mass.Blogspot.com)
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 4 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 4 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 5 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 11 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Tipe-tipe Tamu Undangan Pernikahan …

Hanindya Wardhani | 8 jam lalu

Maraknya Pelecahan Seksual Terhadap Anak di …

Widia Wati | 8 jam lalu

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | 8 jam lalu

So-SIAL Media: Interaksi tanpa Intonasi …

Zulkifli Taher | 8 jam lalu

Inovasi, Kunci Indonesia Jaya …

Anugrah Balwa | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: