Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Alfonsa Wayap

I Love Journalis

Menggali Potensi untuk Berwiraswasta

REP | 06 January 2012 | 19:01 Dibaca: 206   Komentar: 0   0

Lembaga ini hadir untuk memfasilitasi pengembangan potensi masyarakat di seluruh Tanah Papua, khususnya di Kabupaten Jayawijaya, Papua.

KEDAI kecil itu terletak agak menjorok namun dari balik kedai terbungkus berjuta potensi yang dapat membentuk mentalitas berbisnis bagi anak-anak Papua. Hal itu terbukti melalui sejumlah hal yang telah dibuat oleh pengelola Yayasan Oikonomos yang merintis berbagai kegiatan usaha skala kecil untuk menumbuhkan semangat dan mentalitas bisnis. Salah satunya adalah Kedai kecil ini.

Kedai itu ditunggui oleh beberapa gadis berkulit hitam. Sekilas mereka tampak cantik, karena dandanannya pun disesuaikan dengan kulitnya. Pagi itu keduanya terlihat sibuk melayani para tamu yang mengunjungi kedainya. “silakan dinikmati”, ujar gadis itu.

Sesaat kemudian datanglah Urbanus Kosay. Ia koordinator usaha Oi-Kios sebuah unit usaha yang dikelola Yayasan Oikonomos di Wamena. Dari Urbanus, TSPP kemudian mendapatkan informasi tentang usaha-usaha yang dilakukan lembaga ini dalam kaitannya dengan pengembangan ekonomi skala kecil.

Seperti diceritakan Urbanus Kosay, keberadaan unit usaha Oi-Kios ini telah dirintis sejak 2003, dan cukup memberi dampak positif bagi kemajuan dan perkembangan mental bisnis di masyarakat di kota Wamena, terutama warga asli.

Tujuannya untuk pemberdayaan ekonomi bagi putra-putri Papua yang ada di daerah Pegunungan Tengah. Hal ini baik karena dari aspek potensi alam, banyak hal yang memiliki nilai ekonomi, khususnya sumberdaya alam. “Ini merupakan modal utama dalam menjalankan sebuah usaha”, ujar Kosay.

Namun untuk mengelolanya, dibutuhkan pengetahuan, wawasan, dan kemampuan mengelola manajemen. Hal itu untuk menopang kelangsungan bisnis yang sedang dirintis. Sehingga tidak lagi mengulangi kegagalan-kegagalan yang terjadi dalam kaitannya dengan merintis bisnis bagi pengusaha lokal.

Menurut Urbanus Kosay, sebuah usaha yang dirintis pengusaha lokal Papua, senantiasa disebabkan oleh kurangnya pengalaman, dan pengetahuan tentang berbisnis. Tidak memiliki konsep yang baik dan jelas tentang berbisnis. Disamping itu tidak punya pengalaman, kurang memperhatikan etika, dan tidak sabar untuk merintis usaha. Akibatnya, selalu gagal. .

Terdorong oleh niat untuk menumbuhkan dan peningkatkan mental bisnis di kalangan orang asli Papua di pedalaman, maka Yayasan Oikonoms hadir untuk menjembatani kesenjangan ini dengan memberikan pelatihan dan magang kecil-kecilan untuk menerapkan semangat berbisnis. Dampaknya, cukup fantastis sebab tumbuh subur semangat dan kemauan berusaha bagi anak-anak asli Pegunungan Tengah. Salah satu buktinya, Kedai Kopi di Bandara Wamena yang dikelola anak-anak asli Papua dibawa binaan Yayasan Oikonomos.

Menurut Urbanus Kosay, keberhasilan seorang pengusaha lokal sangat ditentukan oleh sikap, strategi, pola distribusi, promosi dan pola penerapan disiplin serta kemauan berusaha. “Hal ini menjadi indikator yang cukup penting sebagai penentu keberhasilan usaha dan pengambilan keputusan”, tegasnya.

Untuk mencapai keberhasilan sangat ditentukan juga oleh faktor-faktor lain, yang harus diperhatikan sehingga hal ini membutuhkan kejelian. Salah satu faktor yang membuat usaha orang Papua hancur adalah sikap memberi pinajaman atau utang. Sikap ini dalam kebiasaan masyarakat kita disebuat “bon”. “Bon menjadi simbol “kasih” namun dibalik bon itu yang biasa bikin orang gagal dalam usaha.

Biasanya, kata Kosay, salah satu sikap yang membunuh usaha adalah sikap memberi pinjaman tadi “bon”. Sikap ini memang dari aspek bisnis sangat merugikan dan dianggap sebagai pembunuh nomor satu usaha, apalagi usaha kecil yang sedang dirintis.

Makanya seperti yang ditulis oleh Heidi Scheunemann  dalam bukunya Menjadi Pengusaha Papua yang sukses” sebenarnya tidak dilakukan dengan hal-hal yang besar dan rumit.

Heidi menawarkan konsep berusaha yang sederhana dan sangat mudah dilakukan. dalam bukunya itu berbagai pendekatan dan langkah-langkah praktis ditawarkan disana, termasuk bagaimana mencatata aliran uang yang masuk per hari, per minggu, dan bulan, sampai dengan aliran uang sepanjang satu tahun.

kini buku yang ditulis itu menjadi acuan mereka ketika mengukuti pelatihan di Yayasan Oiconomos. Diakui dirinya bahwa ia merupakan produk hasil binaan Yayasan Oikonomos yang berhasil membuka kedai kopi di Bandara Wamena.

Saat ini ada beberapa program yang dijalankan seperti, Kios sovenir khas Baliem, warung makan, rental, warnet, Foto copy, produksi kue Penginapan, bengkel  sensor, dan las. Semua berada di Kota Wamena dan letaknya hanya 10 meter dari bandara Wamena. Dari sekian usaha dikelolah anak-anak baliem.

Sebelum terjun langsung mereka diberikan pengetahuan bagaimana menghitung laba-rugi mengunakan pembukuan, kas harian, mingguan dan bulanan.

Kejelian menangkap peluang bisnis di lingkungan tempat tinggal merupakan tujuan pembentukan mentalitas berbisnis. Karena sebuah bisnis dapat dimulai ketika sipperintis usaha mampu membaca peluang yang tersedia.

Rata-rata anak-anak yang sempat mengikuti pelatihan di Oikonomos akan diberi kesempatan untuk magang di Oi-Kios. Disinilah mereka melakukan praktek ilmu bisnis yang dipelajari selama waktu tertentu. Umumnya para peserta yang mengikuti pelatihan tersebut adalah mereka yang putus sekolah, disini mereka dibimbing dan dibina agar tidak menambah barisan panjang para penganguran.

Dalam pelatihan,  sistem yang diterapkan adalah teori yang sederhana dibarengi dengan praktek bisnis yang sifatnya sangat praktis dengan asumsi bahwa mereka mampu menjalankan usaha secara individu yang terus dikontrol oleh koordinator sampai mereka benar-benar mandiri dalam berbisnis.

Sementara itu, dua remaja putri,  Rosalinda Wenda dan Wanis Wanimbo, keduanya sedang praktek, giliran menjaga kios satu atap dengan kedai kopi. Saat ditanyai Ros, mengatakan”setelah dari sini saya sudah siap  buka kios dengan menerapkan pencatatan Pembukuan Kas Arus harian menurut saya penting sebab kalau tidak kita tidak bisa tahu kerugian atau untungnya dimana,”ujar wanita yang magang sejak 2010 hingga kini. Begitupula dengan Wanis. Salah satu program pengembangan yang dinamakan “Program sayap-sayap” yang artinya program ini di kembangkan tidak hanya di Kota Wamena. Di beberapa kabupaten pemekaran seperti, Kobakma Ibu kota Kabupaten Mamberamo Tengah, Apalapsili, Welarek sebelum masuk ke daerah tertentu perlu diidentifikasi potensi daerah tersebut. Menyusun strategi bagaimana bisa masuk kedaerah tersebut, memberikan pemahaman melalui “seminar kesadaran” sehari dengan melibatkan masyarakat, RT, RW, Majelis sebagai jembatan pemberian pemahaman

yang lebih dengan pendekatan bahasa setempat untuk memikat kesadaran masyarakat akan pentingnya pengembangan ekonomi bisnis. Kegiatan ekonomi menunjukan perputaran uang dan barang dengan motif ekonomi yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan ekonomi.

Memang tidak mudah membalik telapak tangan,”Mengubah opini masyarakat membutuhkan waktu, kesabaran diselilingi tindakan nyata. Menurut Urbanus, beberapa tahun terakhir banyak uang mengalir ke kampung-kampung dan itu baik. Hanya saja, potensi ekonomi itu dapat menimbulkan sikap malas bekerja, memanfaatkan tanah sebagi ladang bisnis.

Karena itu program yang dijalankan Yayasan Oiconomos menurut urbanus perlahan-lahan dapat mengubah pola hidup bergantung pada bantuan pemerintah, bagaimana memanfaatkan potensi alam menjadi sumber pendapatan.

Dia yakin suatu saat orang-orang yang dibina, pasti akan mandiri. Seperti di Kobakma, sebagian masyarakat sudah mulai usaha dan ada yang sudah bisa memasarkan hasilnya ke pasar.

Kobakma, ibukota Kabupaten Mambramo Tengah, memiliki potensi di bidang agraris yang dikelola dan menghasilkan ikan, kacang  tanah, wortel, pisang, sagu dan sayuran, tumbuh di atas tanah subur tanpa pestisida.

Untuk pemasarannya sering terkendala transportasi. Satu-satunya lewat transportasi udara. Kendala ini, juga menjadi perhatian Oiconomos. Satu pesawat jenis Cesna milik Oiconomos yang dikelolah Yajasi. Seminggu sekali Oiconomos mendapat jatah penerbangan dua kali.

Waktu itulah digunakan Pos-pos tempat masyarakat menampung hasil kebun dan dari situ diangkut ke kota wamena untuk segerah dipasarkan.Setelah laku terjual, untung dan ruginya dikalkulasikan.

Dimasukkan dalam sebuah daftar, lalu dikirim kembali ke masyarakat dan biasanya masyarakat  meminta hasil (uang) tersebut dibelanjakan dalam bentuk barang kios seperti; sembako yang nantinya dijual kembali sekaligus dicantumkan catatan bukti pembelanjaan guna menjaga kepercayaan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Harusnya Nominal Subsidi Tetap 1500 Perak, …

Dhita A | | 28 November 2014 | 13:34

Terpana Danau Duma …

Lukman Salendra | | 28 November 2014 | 12:25

Senangnya Terpilih Menjadi Host Moderator …

Edrida Pulungan | | 28 November 2014 | 13:43

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46



HIGHLIGHT

Perkembangan Pandangan “Kiri” …

Bobby Rizky Irawan | 8 jam lalu

PreJebul: Rumah …

Kampretos | 8 jam lalu

Madura Touring …

Poernamasyae | 8 jam lalu

Impian Saya, Ayah Memberdayakan Diri …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Memilih Kendaraan Pengantin yang Sederhana …

Mas Ukik | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: