Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Tri Budiarto

mahasiswa agribisnis ipb sekaligus penghuni Asrama Sylvapinus IPB selaku hubungan Luar dan Alumni. takut berfikir normal. selengkapnya

PERANAN MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN DALAM MENINGKATKAN MINAT MAHASISWA UNTUK BERWIRAUSAHA

REP | 22 April 2012 | 21:36 Dibaca: 4787   Komentar: 0   0

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut PBB, suatu negara mampu untuk berkembang secara mandiri apabila jumlah wirausahawan di negara tersebut minimal 2 persen dari total jumlah penduduk. Saat ini, jumlah wirausahawan di Indonesia hanya sebesar 0,24 persen dari jumlah penduduk Indonesia sebesar 238 juta jiwa. Jumlah tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah wirausaha di beberapa negara luaryang tingkat perekonomiannya lebih tinggi, seperti Amerika Serikat yang memiliki wirausaha sejumlah 4 persen dari total penduduknya, Singapura yang jumlah wirausahanya sebesar 7 persen dari jumlah penduduknya, dan Malaysia yang jumlah wirausahanya mencapai 5 persen dari jumlah penduduknya.

Berbagai strategi diterapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan jumlah wirausahawan di Indonesia, salah satunya ialah dengan memasukkan mata kuliah Kewirausahaan ke dalam kurikulum pendidikan, khususnya pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan salah satu institusi pendidikan yang ikut menerapkan kurikulum tersebut dimana mata kuliah Kewirausahaan tersebut mulai diajarkan sejak mahasiswa di Tingkat Persiapan Bersama (TPB).

Adanya mata kuliah Kewirausahaan dimaksudkan untuk menambah wawasan mahasiswa terhadap dunia kewirausahaan serta memotivasi mereka untuk ikut terlibat langsung dalam dunia wirausaha sebagai wirausahawan muda yang tangguh, sehingga mereka dapat ikut berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian negara Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Adanya mata kuliah Kewirausahaan di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB mampu memotivasi dan memberi bekal yang cukup bagi mahasiswa untuk mulai berwirausaha, namun mata kuliah ini juga dipandang sebelah mata oleh sebagian mahasiswa dikarenakan mudah untuk memperoleh nilai yang baik tanpa perlu menerapkannya secara langsung.

1.3 Tujuan

Mengetahui sejauh mana pengaruh diberikannya mata kuliah Kewirausahaan dalam meningkatkan minat mahasiswa dalam berwirausaha.

1.4 Tinjauan Pustaka

Ciputra (2009) memaparkan beberapa faktor yang menjadi latar belakang mengapa diperlukan pendidikan kewirausahaan:

1. Pada umumnya generasi muda Indonesia tidak dibesarkan dalam budaya wirausaha,

2. Terlalu banyak pencari kerja namun sedikit pencipta kerja,

3. Kewajiban untuk mendidik dan melatih generasi muda untuk memiliki kemampuan menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri,

4. Kekayaan alam Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan,

5. Peningkatan kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.

Persepsi yang sudah terlanjur ada dalam masyarakat Indonesia adalah menjadi pekerja, bukan menciptakan pekerjaan. Untuk itu perlu ada upaya merubah mind set masyarakat kita dari mencari kerja menjadi menciptakan pekerjaan.

PEMBAHASAN

Istilah wirausaha diperkenalkan oleh Prof. Dr. Suparman Sumahamijaya pada tahun 1975 dengan menjabarkan dalam istilah aslinya yaitu entrepreneur, dalam arti mereka yang memulai usaha baru., menanggung segala resiko, dan mendapatkan keuntungan.

Kata “Wirausaha” merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris entrepreneur, yang artinya adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat dan menilai kesempatan peluang bisnis. J. B. Say menggambarkan pengusaha sebagai orang yang mampu memindahkan sumber-sumber ekonomi dari tingkat produktivitas rendah ke tingkat produktivitas tinggi karena mampu menghasilkan produk yang lebih banyak.

Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Menurut dari segi etimologi (asal usul kata ). Wira, artinya pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, gagah berani, berjiwa besar, dan berwatak agung. Usaha, artinya perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi, wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Wirausaha dapat mengumpulkan sumber daya yang di butuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya, dan mengambil tindakan yang tepat guna untuk memastikan keberhasilan usahanya. Wirausaha ini bukan faktor keturunan atau bakat, tetapi sesuatu yang dapat dipelajari dan dikembangkan.

Dalam kewirausahaan perlu adanya pengembangan usaha, yang dimana dapat membantu para wirausahawan untuk mendapatkan ide dalam pembuatan barang-barang yang akan dijadikan produk yang akan dijual. Dalam proses pengembangan usaha ini diperlukannya jiwa seseorang wirausaha yang soft skill yang artinya  adanya ketekunan berani mengambil resiko, terampil, tidak mudah putus asa, mempunyai kemauan terus belajar, memberi pelayanan yang terbaik kepada konsumen, bersikap ramah terhadap konsumen, sabar, pandai mengelola dan berdo’a.

Saat ini negara Indonesia sedang dihadapkan pada masa dimana sistem perekonomian negara masih belum stabil, salah satunya dikarenakan ketahanan sektor riil yang masih lemah. Sektor riil itu sendiri merupakan bagian perekonomian yang berhubungan langsung dengan geliat usaha dan bisnis. Hal inilah yang pemerintah coba untuk menstimulasi kebijakan perekonomian agar geliat ekonomi di sektor riil tersebut lebih dinamis, salah satu kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah ialah dengan menggalakkan peningkatan jumlah wirausaha di Indonesia agar negara ini mampu berkembang secara mandiri dengan mencapai jumlah wirausaha sebesar 2 persen dari total jumlah penduduknya.

Bukti nyata kebijakan pemerintah ini adalah dengan memasukkan mata kuliah Kewirausahaan dalam kurikulum pembelajaran, khususnya di tingkat perguruan tinggi negeri, dimana tingkatan ini merupakan tahap akhir sebelum para mahasiswa memasuki dunia kerja yang sebenarnya. Banyaknya pengangguran serta kurangnya minat berwirausaha menjadi autokritik terhadap peran dari perguruan tinggi. perguruan tinggi memiliki peran yang besar dan memiliki peluang untuk menanamkan sikap mental kewirausahaan sehingga lulusannya tidak hanya ahli pada suatu bidang akademi namun juga mampu melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang siap menjadi pahlawan ekonomi.

Selama ini muncul kritik bahwa perguruan tinggi hanya memberikan ilmu dan keterampilan tertentu untuk diaplikasikan di sebuah perusahaan yang sudah mapan. Perguruan tinggi mendidik mahasiswanya untuk menjadi pencari kerja, lolos seleksi dan wawancara serta bekerja dengan baik di perusahaan besar dan mendapatkan karir puncak di perusahaan tersebut. ketika daya serap perusahaan itu sudah tidak mencukupi untuk menampung seluruh lulusan perguruan tinggi maka pengangguran tidak bisa terelakkan karena para lulusan tidak memiliki pengetahuan untuk menciptakan lapangan kerja baru. mahasiswa hanya bisa menciptakan inovasi-inovasi baru atau pengembangan sebuah produk, namun belum mampu menjadikannya bernilai secara ekonomi dan bisa dijual di pasar dalam bentuk produk-produk yang kreatif yang diminati oleh konsumen.

Menjawab tantangan tersebut, Institut Pertanian Bogor (IPB) memberi solusi dengan ikut menerapkan kurikulum pembelajaran kewirausahaan tersebut di Tingkat persiapan Bersama (TPB), dimana metode yang digunakan adalah berupa pemberian materi untuk pembekalan serta memotivasi mahasiswa agar terjun ke dunia kewirausahaan, serta di akhir kuliah diberikan tugas untuk observasi lapangan terhadap kegiatan-kegiatan wirausaha yang telah berlangsung di masyarakat saat ini. Hal itu dimaksudkan agar mahasiswa bisa melihat dan mengetahui secara langsung dinamika dalam dunia wirausaha. Rangkaian kegiatan ini merupakan pengejawantahan dari pilar pendidikan IPB, diantaranya: academic profesionalism, social awareness, environmental concern, entrepeneurship, dan moral and ethics. Terlihat disini bahwa kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi salah satu pilar pendidikan di IPB, ini berarti kewirausahaan menjadi bagian penting pola pendidikan yang diberikan di IPB (Maryono, dkk. 2011).

Pamberlakuan mata kuliah kewirausahaan di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) dimaksudkan agar para mahasiswa lebih mudah terangsang jiwa kewirausahaannya dikarenakan di TPB ini mereka belum terlalu sibuk dengan aktivitas akademik dan keorganisasian. Membekasnya mata kuliah yang berimplikasi pada pembangunan karakter ini merupakan fokus utama IPB sebagai salah satu universitas terkemuka di Indonesia. IPB tidak ingin dicap sebagai universitas yang hanya mampu mencetak para pegawai bayaran atau pengangguran terdidik saja. Selain itu peran alumni bagi pengembangan masyarakat hendaknya tidak saja hanya terwujud dalam aktivitas penelitian dan riset namun juga ditunjang oleh pemberdayaan ekonomi berupa penciptaan lapangan pekerjaan melalui aktivitas berwirausaha.

Mata kuliah Kewirusahaan menurut penilaian sebagian besar mahasiswa merupakan mata kuliah favorit. Hal ini dikarenakan materi kuliahnya yang mudah dipahami oleh para mahasiswa. Selain itu tugas yang diberikan oleh dosen di akhir kegiatan pembelajaran berupa observasi lapangan tidaklah terlalu memberatkan mahasiswa. Materi kuliah yang dapat segera diterapkan pada kegiatan mahasiswa diluar kegiatan akademik merupakan faktor menarik lainnya dimana mahasiswa menjadi lebih termotivasi untuk terjun langsung ke dunia bisnis sambil mereka belajar menuntut ilmu.

Ada kalanya bagi sebagian kecil mahasiswa mata kuliah Kewirusahaan hanya digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan nilai bagus. Sekedar untuk memperoleh predikat mutu A pada mata kuliah ini, mahasiswa tidak perlu dihadapkan dengan ujian akhir evaluasi secara tertulis dan cukup dengan menyelesaikan tugas terstruktur yang diberikan saat kuliah, serta riwayat kehadiran yang penuh akan menghantarkan mereka pada predikat nilai mutu A dengan bobot Sistem Kredit Semester(SKS) sebesar satu SKS.

Namun tak dapat dipungkir juga bahwa mata kuliah ini berguna juga bagi mahasiswa. Mahasiswa yang berkarakter mandiri akan tidak sabar untuk segera menerapka ilmu kewirusahaan ini dalam dunia sehari-hari. Maka muncullah berbagai usaha yang dikelola dan didirikan baik itu secara langsung ataupun tidak langsung oleh para mahasiswa IPB.

Geliat usaha mahasiswa atas aplikasi ilmu mata kuliah Kewirusahaan dapat kita lihat disekitar kampus IPB Darmaga,Bogor. Berbagai usaha dari usaha yang bergerak dibidang pelayanan dan jasa seperti jasa laundry, jasa pengadaan barang seperti kios rumah makan yang dikelola mahasiswa ,ataupun usaha yang bergerak di bidang jasa dan barang sepeti jasa catering. Bersama mereka bersaing dalam merebut hati konsumen dengam memberi pelayanan terbaik bagi para pelangganya. Akibatnya terdapat usaha yang bersaing secara jujur maupun yang bersaing dengan cara yang kotor dan tidak sportif menggunakan trik dan tipu muslihat untuk menjatuhkan saingan usahanya.

Keberadaan para pengusaha muda juga ditanggapi negatif oleh beberapa kalangan. Mereka beranggapan para mahasiswa wirausaha ini tidak fokus dalam belajar. Mereka takut dengan ketidakfokusan itu membuat mahasiswa terlalu asik berusaha dan melupakan tugas utamanya untuk menuntut ilmu. Akibatnya selanjutnya adalah nilai yang hancur, waktu kelulusan yang tertunda lama hingga dikeluarkannya mereka dari bangku kuliah karena akumulasi atas keburukan-keburukan di bidang akademik. Ketakutan seperti itu sepertinya tak perlu terjadi apabila mahasiwa wirausaha menyadari peran mereka baik itu sebagai mahasiwa maupun sebagai wirausaha lalu membagi porsi keduanya secara seimbang. Justru geliat dunia usaha oleh mahasiswa yang seperti ini yang perlu dipelihara, karena dengan menjadi wirausaha secara tak langsung mereka telah menjadi pahlawan bangsa karena mengurangi jumlah pengangguran dan pemberdayaaan masyarakat

Umumnya usaha mahasiswa dapat dikategorikan sebagai usaha mikro dan kecil menengah. Hal itu dicirikan dengan penggunaan modal usaha yang masih relatif kecil untuk menjalankan usaha mereka. Kurangnya modal, keterbatasan dalam akses kredit, masih kurangnya ilmu dan pengalaman untuk bergelut langsung dalam kerasnya dunia bisnis adalah beberapa hal yang kami identifikasi sebagai faktor pengekal tidak berkembangnya usaha mereka.

Menanggapi besarnya antusias mahasiswa dalam berwirausaha berbagai pihak pun mulai tergerak untuk memberikan bantuan. Bantuan permodalan dapat diakses melalui kredit usaha kecil dan mikro oleh lembaga-lembaga perbankan. Ada juga bantuan pemerintah dalam permodalan melalui berbagai perlombaan rancangan bisnis (business plan), yang mana hadiah dari lomba ini bisa digunakan sebagai salah satu sumber modal untuk mengembangkan usaha mereka. strategi seperti inilah yang kemudian diikuti juga oleh instansi, organisasi ,maupun lembaga lainya untuk mengadakan kompetisi yang sama.

Secara kasat mata mungkn peran wirausaha yang berasal dari kalangan mahasiswa ini belum terlihat nyata dalam perekonomian mereka, namun hal itu untuk jangka waktu yang pendek saja. Selanjutnya setelah metode ataupun teknologi yang dapat digunakan untuk mengefisiensikan telah ditemukan dan digunakan barulah terasa, dengan catatan usaha mereka berkembang pesat dan mampu menjadi salah satu segi fundamental penyokong perekonomian negara.

Hal-hal seperti inilah yang diinginkan oleh pemerintah, yakni bertambahnya jumlah wirausaha yang berasal dari kaum muda karena pemberlakuan kurikulum mata kuliah kewirausaan di tingkat perguruan tinggi akan membawa dampak yang baik bagi kemantapan perekonomian negara indonesia. Perpaduan antara dunia pendidikan dan dunia usaha bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk disatukan, sebenarnya inilah kondisi ideal yang selama ini kita harapkan. Institusi pendidikan tidak melulu mengucilkan diri pada dunianya sendiri dan mengabaikan kemantapan perekonomian negara Indonesia maupun kehidupan masyarakatnya, namun juga sumbangsih seperti itulah yang seyogyanya ada dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pengurangan jumlah pengangguran dengan munculnya usaha-usaha baru oleh para mahasiswa.

SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan

Pemberian mata kuliah kewirausahaan memberikan dampak positif terhadap perkembangan minat mahasiswa dalam menggeluti dunia wirausaha. Adanya peningkatan minat mahasiswa dalam pengembangan dunia wirausaha mengurangai jumlah pengangguran dan secara tidak langsung menambah penghasilan Negara melalui pajak. Jika usaha peningkatan jumlah wirausaha muda terus ditingkatkan maka bukan tidak mungkin Indonesia dapat terbebas dari krisis yang sekarang sedang membelit perekonomian.

3.2 Saran

Adanya perkembangan usaha oleh mahasiswa saat ini memeng belum banyak dirasakan oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan oleh jumlah pengusaha baru tersebut masih relative sedikit dan belum berkembang secara signifikan ke arah industry. Namun jika ada pengembangan dari pihak pengusaha baru dan pemerintah secara berkesinambungan maka hal ini dapat dicapai. Pengembangan dari pihak pengusaha baru adalah menambah inovasi-inovasi dalam menjalankan usahanya. Inovasi tersebut hendaknya dibuat sekreatif mungkin untuk menarik konsumen. Sedangkan dari pihak pemerintah, hendaknya memberikan dana pinjaman yang dapat digunakan untuk modal usaha dengan bunga rendah sehingga tidak membebani pengusaha baru. Jika hal ini bisa terlaksana dengan baik maka dunia wirausaha di Indonesia akan lebih berkembang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selayang Pandang Tentang Demonstrasi …

Fera Nuraini | | 01 October 2014 | 20:57

Siswa Korea Tertarik “Sambal” Indonesia …

Ony Jamhari | | 02 October 2014 | 09:39

Belajar Mandiri dari Pola Didik Orangtua di …

Weedy Koshino | | 02 October 2014 | 09:53

Obat Galau Jurusan Kuliah …

Bening Tirta Muhamm... | | 02 October 2014 | 09:54

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:44


TRENDING ARTICLES

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 6 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 8 jam lalu

MK Harus Bertanggung Jawab Atas Kericuhan …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Sepedaku Dicolong Maling Bule …

Ardi Dan Bunda Susy | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 7 jam lalu

Korte Verklaring; Konsesus Uleebalang dengan …

Arjuna Zubir | 7 jam lalu

Djohar Arifin: Jika Lolos ke PD U-20, Timnas …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Wangi Kopi NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | 7 jam lalu

Belajar dari Pak Tani dengan Sawahnya di …

Karresa Karyanto | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: