Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Khairil Anas

berkelana mengumpulkan kisah,menyampaikan cerita, mengabarkan berita

Penjual Obat Keliling, Riwayatmu Kini

REP | 13 May 2012 | 07:30 Dibaca: 460   Komentar: 4   0

13368687491761228256“Mohon dengan segala hormat, siapa saja yang memiliki ilmu di luar sana, jangan mengganggu, ini bukan ajang pamer ilmu, bukan pamer kekuatan, saya datang sekedar ingin menunjukkan sebuah keajaiban,…awas…!! Wusssh…wuuuusssscchhhh….wusssskkkhhhh…!”

Itu kutipan kalimat yang umum diucapkan oleh setiap penjual obat keliling yang memanfaatkan keramaian di pinggir-pinggir jalan desa atau pasar tradisional dalam menawarkan berbagai macam obatnya, mulai dari obat kuat, penambah stamina, ramuan kekebalan tubuh, pesugihan sampai ramuan untuk memikat lawan jenis.

Dulu, sebelum pemerintah kota Makassar merevitalisasi lapangan Karebosi, setiap sore menjelang magrib di lapangan kebanggan warga Makassar itu, kita bisa dengan leluasa menyaksikan pertunjukan dan beraneka jenis suguhan atraksi sejumlah penjual obat. Namun saat ini, kita sulit menemukan lagi aksi akrobatik para penjual obat keliling. Mereka tergerus oleh roda kemajuan kota yang semakin laju berlari menuju kota dunia dan modern. Pemerintah Kota sepertinya tidak peduli nasib mereka meskipun Persatuan Penjual Obat (PPO) telah mengajukan tuntutan agar walikota menyiapkan relokasi bagi mereka. Mungkin pemerintah kota menganggap profesi sebagai penjual obat tidak sesuai dengan konsep kota dunia.

“Maaf-maaf kate saudare-saudare, jangan ente-ente menghina dan jangan merendahkan, bagi laki-laki yang merendahkan siap-siaplah menanggung derita, dan bagi perempuan yang menghina, bise ane buat dia menari telanjang di depan keramaian ini,ha ha ha…jangan salahkan ane kalau wanita itu lalu memaksa ane menjadikannya istri. umur ane baru dua puluh tujuh tahun, tapi jangan lihat umur saudara-saudara, isteri ane sudah dua…”

Boleh jadi kutipannya tidak benar-benar persis, tetapi sekedar mencoba merangkum serpihan-serpihan ingatan penulis yang ketika itu masih duduk di bangku SMA dan termasuk orang yang ketika pulang sekolah senang mampir menonton atraksi penjual obat yang unjuk kebolehan di pasar Sentral-Makassar (sekarang Makassar Mall).Dengan pakaian yang mencolok, bahkan sesekali memakai pakaian adat tradisional suku tertentu,mereka mengaku berasal dari luar Sulawesi selatan untuk lebih meyakinkan penonton.

Kenangan masa lalu itu tiba-tiba muncul, ketika di suatu hari tanpa sengaja, selagi pulang dari berjalan-jalan mendapati kerumunan orang di sekitar areal pasar Panakkukang-Makassar. Mereka rupanya sedang menonton atraksi seorang penjual obat yang menyebut diri Pak Daeng. Seorang asistennya nampak sedang memegang dua ekor ular sawah yang cukup besar.

“Ular ini akan saya potong lehernya, ini bukan sulap, bukan pula sihir, ular terpotong kepala sambung kembali…wushhh…awas! Tolong pegang barangnya masing-masing, jangan sampai saya keliru membaca mantera, maksud hati ingin memotong kepala ular, kepala ular bapak-bapak yang terpotong”katanya ditengah kerumunan ditimpali tawa penonton.

Lelaki setengah baya itu nampaknya sudah berpengalaman dan ahli menyihir penonton, berkali-kali penonton bertepuk tangan menyaksikan atraksi yang disuguhkannya, mungkin juga dia telah khatam ilmu retorika. Sesekali tangan kanannya seperti menggenggam udara sekitar yang diembuskan dan dihirup lagi berulang-ulang, sementara tangan kanannya memegang mikrofon. Aktingnya menghanyutkan.

Selain menguasai medan, dia juga tahu betul mendayagunakan mikrofon dan spiker corong. Suara badai, ombak, dan halilintar dia keluarkan dari mulutnya pada saat yang tepat, termasuk menjelang dan setelah melafalkan mantera.”wuuussshhh, wwkhhuusshh, awas, Pak! Kasi jalan sedikit, sesosok arwah mau lewat,” serunya kepada seorang penonton.

Pak Daeng menyuguhkan sejumlah atraksi dan penonton semakin banyak yang berkumpul, sebuah usaha yang membuahkan hasil, atraksi itu memang dimaksudkan untuk menarik lebih banyak penonton mendekat, “Saudara-saudara, mari kemari, yang jauh segera mendekat, yang dekat supaya merapat,” tahap demi tahap setiap pertunjukan itu dibuat dramatis diselingi cerita mirip pesulap.

“Saudara yang pegang helm putih, mari masuk kemari, iya berdiri di tengah situ,Pak!” perintah Pak Daeng kepada seorang penonton yang segera berdiri di tengah kerumunan. “Helm Bapak akan saya pegang, untuk saya kirim ke rumah Bapak. Silakan nanti Bapak pulang dan helmnya sudah ada di rumah,”katanya melanjutkan.

Sementara asisten menempatkan helm putih itu dalam sebuah selubung kain mirip bilik TPS, tidak lupa Pak Daeng memperingatkan kepada para penonton yang merekam adegan dari awal sampai akhir melalui kamera ponsel, bahwa sesampai di rumah, gambar yang mereka rekam akan terhapus secara ghaib. Sebuah peringatan yang masuk akal, karena pertunjukan yang memakan waktu berjam-jam tentu akan membuat semua baterai piranti genggam kehabisan daya bila digunakan untuk merekam semua adegan dari awal sampai akhir.

Bagaimana tentang helm putih yang ada dalam bilik itu? Sabar, Pak Daeng mencoba mengalihkan perhatian penonton dengan bercerita tentang aneka penyakit yang akan sirna setelah minum obat yang dibawanya. Kencing batu sampai lumpuh akibat stroke akan tersembuhkan. Jika tidak terbukti?

“Biarlah dua tangan saya menjadi satu!”katanya meyakinkan, dan tanpa sadar orang-orangpun hanya bisa terpesona.

Asisten menunjukkan piring berisi kapsul kehijauan. Pak Daeng katakan, jika di antara hadirin ada yang dari BPOM maka dia akan buktikan bahwa yang dibawanya adalah obat. Siang menjelang Dhuhur, kapsul yang ditawarkan habis dibeli penonton. Beberapa orang mulai meninggalkan kerumunan. Satu per satu orang mulai membubarkan dan nampaknya telah lupa dengan helm putih di dalam selubung kain hitam, sampai tulisan ini dimuat, penulis tidak berhasil mendapatkan testimoni apakah helm yang raib dalam bilik kecil itu sudah tiba di rumah pemiliknya.

Tapi terlepas dari itu, kita mengakui bahwa atraksi yang disuguhkan cukup menghibur dan menyenangkan. Sudah lama penulis tidak menonton atraksi seperti itu. Satu hal yang unik dari para penjual obat keliling ini adalah system pemasarannya. Di tengah maraknya system pemasaran modern semisal Multi Level Marketing (MLM) atau pemasaran on line melalui internet saat ini, ternyata para penjual obat ini masih tegar bertahan dengan system pemasaran yang tradisional, namun terbukti cukup efektif.

“Iya kami sekedar menawarkan obat, sambil menghibur warga,” kata Pak Daeng saat kami temui  setelah penonton bubar.

=============

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: