Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Sarwo Edy

Penjual es keliling.

Cerita Penjual Es Keliling: Jualan Kok Ndak Laris

REP | 20 September 2012 | 10:39 Dibaca: 1056   Komentar: 3   1

Ini cerita sederhana, dari kehidupan sehari-hari yang sederhana, berpola pikir sederhana, dan bertindak (kadang-kadang) sederhana pula. Cerita yang ada disekitar kami para penjual es keliling. Cerita yang barangkali sama di semua kelas, baik yang kelasnya gajah, kakap, maupun yang gurem sekalipun.

Pada pertemuan bulanan kami para penjual es keliling, ada salah satu teman yang menanyakan dengan nada protes kenapa penjualan dan penghasilan dia dibanding teman yang lainnya jauh dibawahnya. Barang yang dijual sama, waktu yang digunakan juga sama, sama-sama bekerja keras untuk menjajakan dagangan kenapa hasilnya lebih sedikit, kenapa tidak laku, apakah rejeki yang diberikan Allah hanya sedikit, atau malaikat pembagi rejekinya kelupaan tidak mampir (maaf ini bukan sara) hanya pertanyaan protes kenapa penjualan jauh dibandingkan dengan teman-teman.

Akhirnya banyak sekali jawaban dari teman-temannya, disini tidak akan dijabarkan tentang penjualan yang baik secara teoritis tapi jawaban yang sederhana ala kami penjual es keliling. Beberapa hal penting yang disampaikan rekan-rekannya adalaha sebagai berikut :

Tempat, apakah tempat penjualan atau area penjualan sudah benar? Kalau penjualan es krim tentunya akan dicari yang paling banyak peminatnya yaitu anak-anak. Pi;ihan penjualannya biasanya di PAUD, TK, SD. Selain itu di TPQ dan ditaman-taman bermain anak-anak.

Waktu, hal sebenarnya patut diperhatikan oleh para penjual. Waktu yang terbaik ketika kita berjualan di area sekolah adalah waktu istirahat dan pulang, kalau keliling di perumahan biasanya  waktu sore hari (karena waktu pagi sampai siang anak-anak masih disekolahan), waktu   di TPQ ketika sebelum pelajaran di mulai. Dan waktu-waktu terbaik ditiap-tiap wilayah (tempat) tetntunya berbeda-beda, oleh karena itu diperlukan pengamatan dan kejelian penjualnya.

Harga, biarpun agen sudah menetapkan harga resmi, kadang-kadang penjual (yang nakal) masih menaikkan harga yang sudah disepakati dengan agen, akibatnya pembeli (konsumen) kecewa tidak mau membeli produk tersebut atau tidak mau membeli dengan pedagang tersebut. Bagi para pembeli (konsumen) bayarlah es krim yang anda sukai sesuai dengan daftar harga yang tertera di armada tersebut.

Penampilan penjual, dalam hal ini adalah kebersihan dan kerapian penjual beserta armadanya (gerobag/sepedanya), hal yang menentukan apakah calo pembeli akan membeli atau tidaknya.

Keramahan, kesopanan, salam, senyum , sapa dan hal hal yang baik harus dimiliki oleh penjual untuk melayani dan memberi hal yang lebih terhadap pembeli (konsumen)

Hal-hal tersebut diatas yang dibahas oleh kami, semoga hal ini bisa bermanfaat bagi kami dan pembaca terutama yang bergerak dibidang penjualan kelilingan seperti kami.

Salam dingin.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 4 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 7 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 11 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 13 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: