Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Dewips

Hanya seorang gadis biasa.. Mau copy-paste atau menyadur artikel dan foto? Boleh saja tapi please! tetap selengkapnya

Mengintip Konsep Pasar Tradisional ala Swiss

HL | 15 November 2012 | 05:12 Dibaca: 1516   Komentar: 22   9

Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli disana pula terjadi proses jual beli, tawar menawar serta komunikasi sosial antar warga. Menilik konsep pasar yang diterapkan diseluruh Dunia tentu masing-masing negara memiliki konsep yang berbeda-beda. Eropa adalah salah satu Benua yang boleh bangga dengan konsep pasar tradisionalnya yang tertib, bersih dan menarik untuk dikunjungi para wisatawan domestik maupun asing.

Didalam mengatur para pedagang pasar agar mematuhi aturan pun saya rasa tidak sesulit yang dibayangkan, karena ketegasan pemerintah yang bisa dikatakan keras juga membuat mereka berfikir 1000 kali untuk melanggar aturan. Selain itu sistem pendaftaran dan pembayaran lapak berjualan juga dilakukan dengan birokrasi yang tidak rumit bahkan terkesan sangat simpel karena pedagang dapat mendaftar via website pemerintah kota yang mengurusi masalah pasar. Biaya yang dikenakan pun tidak terlalu mahal yaitu sekitar 20 Swiss Frank atau sekitar 200 ribu rupiah khusus di area-area tertentu di kota tempat saya tinggal yaitu di Basel untuk sekali membuka lapak dalam sehari saja. Tentu harga tersebut sudah dipertimbangkan terlebih dahulu oleh pakar ekonomi di kota setempat.

13529308901350157190

Pasar Sayuran dan Buah Tradisional (Penjualnya juga orang Asia)

Titik-titik lapak untuk berjualan pun sebelumnya sudah diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat menumpuk dan berantakan maka pemerintah kota menyebarkan para pedagang pasar tersebut di beberapa titik pusat keramaian, namun tidak persis di tengah kota yang dapat mengganggu berlangsungnya aktivitas warga. Tetapi lebih diarahkan di dekat kantor pemerintahan maupun swasta khusus untuk pasar yang menjual makanan dan minuman. Serta pasar yang khusus menjual kebutuhan pokok sehari-hari dipusatkan di dekat pusat perbelanjaan, sehingga mudah dijangkau oleh warga.

Menariknya pasar tradisional tersebut tidak diadakan setiap hari namun hanya pada hari-hari tertentu saja, yaitu pada hari rabu dan hari jumat pada minggu kesatu dan ketiga setiap bulannya. Dan para calon pedagang diwajibkan mendaftar satu minggu sebelum berjualan atau tepatnya pada hari selasa. Para pedagang pasar ini kebanyakan datang dari desa dengan membawa hasil tani maupun ternak mereka dengan kendaraan pribadi, para pembantu mereka pun datang dari orang-orang dekat antara lain keluarga atau sanak saudara. Jadi bisa dikatakan usaha mereka lebih kepada usaha keluarga.

Kurang lebih seperti itulah hasil intipan saya tentang konsep pasar tradisional di Swiss khususnya di kota Basel. Menurut saya apa yang dikatakan om Jokowow pada masa kampanye beliau tentang pasar tradisional merupakan hal yang harus dikembangkan adalah benar adanya. Mengapa? Ya, seperti apa yang dikatakan beliau, Pasar tradisional akan secara langsung mensejahterakan kehidupan ekonomi masyarakat. Hanya saja masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam menerapkan konsep Pasar di Indonesia khususnya di Jakarta, agar image pasar yang becek dan bau tersebut dapat dirubah menjadi pasar yang bersih dan nyaman untuk para pengunjung dalam hal ini ibu-ibu yang gemar berbelanja di Pasar.

1352931013611372428

Imbiss : Warung makanan cepat saji ala italia atau turki tergantung jenis imbissnya

Ya itulah PR besar untuk Pemkot DKI, harapan saya sebagai warga DKI, peran rakyat Jakarta juga sangat penting disini, karena kegemaran orang kita berbelanja di Mall itu harus dirubah mainsetnya agar tertarik kembali belanja di pasar tradisional tapi bukan berarti dilarang belanja di Mall. Ya tak apalah menjadikan Mall sebagai tempat rekreasi keluarga yang murah dalam hal ini hanya sebagai tempat cuci mata saja, tapi untuk belanja kebutuhan sehari-hari lebih utamakan ke Pasar Tradisional dalam rangka ikut serta membantu perekonomian sesama warga.

Salam Perubahan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Taufik Mihardja dalam Sepenggal Kenangan …

Pepih Nugraha | | 27 August 2014 | 22:34

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 5 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 7 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: