Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Ariyani Na

Hidup tidak selalu harus sesuai dengan yang kita inginkan ... Follow me on twitter : @Ariyani12

Dampak Menjamurnya Mini Market hingga ke Daerah

HL | 12 December 2012 | 17:58 Dibaca: 2795   Komentar: 103   24

13553239821396198378

Ilustrasi/ Admin (shutterstock)

Tulisan ini lahir dari hasil diskusi saya dengan seorang kompasianer yang juga seorang wirausahawan di luar pulau Jawa.

Berawal dari diskusi mengenai budaya tidur siang yang berlaku didaerahnya, kemudian percakapan beralih ke jam buka dan tutup kios dan akhirnya muncul kalimat-kalimat dari rekan saya yang memunculkan ide untuk saya menulis artikel ini

“ Di sini saya mulai mengalami tekanan persaingan, warung dan toko mulai pada menjamur, supermarket mulai masuk kampung ”

“ Entah ukurannya mini atau super, yang jelas sudah menyalahi aturan yang seharusnya mereka bersaing di wilayah pertokoan pusat kota sana “

“ Entah ada lagi nggak aturan yang membatasi mereka, karena bisa menggerus. Kasihan mereka yang modal jualnya kalah bersaing, karena tradisional sifatnya.”

Persaingan usaha yang dirasakan oleh rekan saya tersebut, juga dialami pedagang-pedagang tradisional di daerah-daerah lainnya. Contohnya, di kabupaten tempat saya berasal, menjamurnya mini market membuat pedagang tradisional gulung tikar (terutama warung/kios yang menjual sembako).

Sebenarnya bila hanya ada satu atau dua minimarket yang masuk ke daerah tersebut mungkin tidak begitu berdampak pada persaingan usaha, namun lama kelamaan mini market ini mulai berdiri di setiap wilayah di daerah tersebut dan fantastisnya bukan hanya satu mini market dalam satu wilayah namun bisa 3 atau 4 mini market

Pola berdirinya mini market disetiap daerah hampir sama, bila ada satu mini market berlabel “A” maka beberapa meter dari mini market tersebut berdiri mini market berlabel “ I ”

Sejauh yang saya ketahui, untuk mendirikan sebuah mini market di suatu wilayah, harus ada ijin dari pemerintah daerah setempat, sehingga logikanya, bila Pemerintah daerah setempat peduli dengan pedagang tradisional di daerah tersebut maka Ijin mendirikan mini market seharusnya dapat dibatasi. Namun saya tidak yakin, apakah pemerintah daerah juga mampu menolak bila ada kesempatan pemasukan dana dengan mengeluarkan ijin tersebut?

Beralih sejenak dari dampak persaingan yang dirasakan oleh pedagang tradisional, saya akan mengemukakan dampak adanya mini market ini sisi sebagai konsumen :

  1. Di perkotaan, mini market ini biasanya masuk hingga ke komplek perumahan, sehingga untuk berbelanja kebutuhan harian kita tidak perlu lagi jauh-jauh ke luar komplek. Begitu juga halnya dengan di daerah, warga setempat tidak perlu ke pusat pertokoan untuk berbelanja (catatan : bila di wilayah tersebut tadinya belum ada toko atau kios ).
  2. Dengan sistem swalayan, tempat yang bersih, barang ditata dengan rapi, membuat kita lebih nyaman untuk berbelanja.
  3. Dulu sebelum ada mini market di wilayah Carita, Anyer, saat saya berlibur dan kadang terpaksa akhirnya menginap, agak susah mencari toko yang masih dibuka setelah jam 6 sore guna membeli keperluan mandi dan lain sebagainya. Namun dengan adanya mini market di da erah wisata tersebut, cukup memudahkan kita untuk berbelanja dengan harga normal (selisih harga tidak berbeda jauh dengan di kota) dan barang yang tersedia pun cukup lengkap.

Untuk dapat bertahan menghadapi menjamurnya mini market ini, maka pedagang tradisonal harus mampu mengimbangi kelebihan yang diberikan mini market kepada konsumen. Cara yang ditempuh pedagang tradisional untuk menghadapi persaingan ini berbeda-beda, diantaranya :

Menyediakan Barang Secara Lengkap

Cara yang dilakukan rekan saya untuk menyiasati kondisi persaingan ini adalah dengan berjualan apa saja, seperti supermarket kecil. Kiosnya berjualan sembako, alat-alat listrik, bahan-bahan bangunan, bahan dapur seperti rempah-rempah, ikan asin dan lain-lain.

Menurutnya, karena konsumen suka mendapatkan apa mereka cari, maka apa saja saya jual untuk melengkapinya.

Menerapkan Sistem Jemput Bola

Beberapa pedagang tradisional di daerah asal saya akhirnya memilih untuk berjualan dengan cara “kanvas” artinya berjualan dengan cara berkeliling ke kampung-kampung sambil membawa barang dengan kendaraan. Barang tersebut ditawarkan ke warung-warung yang ada dikampung, ada yang dijual secara tunai dan ada juga yang diberi tempo (utang).

Dengan sistem jemput bola ini maka para pedagang di pelosok kampung tidak perlu lagi ke kota untuk berbelanja, jadi bisa menghemat ongkos perjalanan.

Menerapkan Harga Lebih Murah

Saat ini harga masih menjadi pertimbangan utama seorang konsumen untuk memilih dimana ia akan berbelanja, tentu dengan kualitas barang yang sama. Beberapa pedagang tradisional yang saat ini mampu bertahan adalah yang berjualan dengan harga jauh lebih murah di banding dengan mini market.

Bisa menjual lebih murah tentu karena biaya operasional yang dikleuarkan oleh pedagang tradisional lebih sedikit daripada mini market dan sebagian pemasok masih banyak yang senang memasok barang ke pedagang tradisional, jadi harga mampu bersaing.

Selain dengan cara di atas, di lokasi perumahan saya, ada yang membuka usaha mirip dengan mini market yang di franchise khan itu, dan harganya pun jauh lebih murah, terutama untuk kebutuhan pokok seperti susu balita (selisih harga bisa mencapai Rp. 5.000,-/per kotak).

Saat ini mungkin baru mini market yang menyediakan kebutuhan sehari hari yang menjamur di kota besar maupun kecil, besar kemungkinan ke depan akan muncul Franchise serupa untuk kebutuhan lain. Jadi, untuk dapat bertahan menghadapi persaingan usaha, seorang wirausahawan dituntut untuk kreatif dan pintar membaca keinginan konsumen.

____

Thanks To Mas DTF untuk sharing-nya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: