Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Mualib Wijono

Lahir di Madiun Jawa Timur, lulus dari FMIPA Unair,lalu bekerja di perusahan yang memproduksi Heater, selengkapnya

Amalan Hati Orang Kaya

OPINI | 18 December 2012 | 09:31 Dibaca: 739   Komentar: 0   1

Pernahkah anda bertanya, apa sebenarnya yang dilakukan oleh seseorang sehingga mengantarkan mereka menjadi orang kaya atau sukses?. Apakah anda membayangkan mereka melakukan sesuatu yang besar, yang hebat, dimana anda tidak bisa melakukannya. Apakah anda mengira, orang kaya dan sukses itu sudah merupakan takdir mereka. Sehingga anda mengatakan mereka orang yang beruntung, mereka orang-orang yang terpilih. Kenapa anda berpendapat demikian? Apakah karena anda melihat mereka tidak bekerja sekeras anda bekerja? Apakah karena mereka sebenarnya tidak secerdas anda? Apa karena mereka tidak sepeduli anda?

Ada sebuah cerita, suatu ketika Nabi sedang duduk-duduk bersama sahabat. “ sebentar lagi akan datang calon penduduk Syurga” Nabi berkata memecah kesunyian. Lalu tidak lama berselang datang orang yang biasa-biasa saja. Pada kesempatan yang lain, ketika Nabi sedang duduk-duduk di Masjid berkata” Sebentar lagi akan datang calon penduduk surga”. Tidak lama kemudian datanglah orang yang sama seperti kejadian sebelumnya.

Ada seorang sahabat yang penasaran dengan pernyataan Nabi tersebut. “Apa yang istimewa dengan orang ini, sehingga Nabi menyatakan sebagai penduduk Syurga. Padahal orang ini dikenal tidak sesoleh dibandingkan dengan sahabat lain” gumamnya dalam hati. Karena rasa ingin tahu yang tinggi, maka sahabat tersebut berkunjung kerumah orang yang dikabarkan Nabi sebagai penduduk Syurga. “ Maaf bolehkah aku menginap dirumahmu barang semalam atau dua malam karena sekarang saya ada masalah dengan orang tuaku” kata sahabat tersebut setelah dipersilahkan masuk. “ Silahkan saja?” jawab calon penghuni Syurga. Ketika malam tiba, sahabat tersebut tidak tidak, dia mengamati apa yang dilakukan tuan rumah ketika malam hari. Ternyata dia tidak melakukan apa-apa. Apa yang dia lakukan hal-hal yang biasa-biasa saja.

Karena apa yang diinginkan sahabat yang menginap tersebut belum tercapai, maka dia memutuskan untuk menginap semalam lagi. Pada malam keduapun dia tidak melihat tuan rumah melakukan amalan-amalan yang istimewa. Akhirnya pagi harinya sahabat tersebut memutuskan untuk bertanya langsung ke tuan rumah. “ Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih, anda telah menjamu saya dengan baik. Kedua maafkan saya, saya telah berbohong kepada anda. Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan orang tua saya. Saya melakukan ini karena tidak menemukan alasan lain, bagaimana caranya agar saya dapat menginap dirumah anda. Adapun yang membuat saya ingin menginap dirumah anda adalah rasa ingin tahu saya, mengenai amalan amalan apa yang anda lakukan sehingga Nabi mengatakan anda adalah calon penghuni Syurga. Namun setelah dua malam menginap dirumah anda ternya saya tidak menemukan amalan-amalan istimewa yang anda lakukan. Bolehkah saya tahu, sejatinya anda melakukan apa sehingga anda dikabarkan sebagai calon penghuni Syurga?.

“Seperti yang anda lihat, saya tidak melakukan apa-apa”. Jawab tuan rumah. “Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan anda menerima saya. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai anda.” Kata sahabat sambil melangkah keluar.

“ eh tunggu sebentar, mungkin barangkali ini. Setiap menjelang tidur saya memohon kepada Allah untuk membersihkan hati saya. Lalu saya memaafkan setiap orang yang telah menyakiti saya diwaktu siang hari.” Kata tuan rumah setelah mengingat ingat amalan apa yang dia lakukan.

Dari cerita diatas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk menjadi orang sukses kita tidak perlu melakukan hal-hal yang besar atau istimewa. Anda cukup melakukan hal-hal yang sederhana seperti yang dilakukan oleh orang biasa-biasa saja. Namun anda lakukan dengan cara yang berbeda. Cerita diatas menunjukkan betapa pentingnya amalan hati untuk mempermudah kesuksesan. Amalan hati seperti, Jujur, tanggungjawab, semangat,peduli, melihat kata bukan hanya sekedar yang tersurat, berpikir positip, pemaaf pada diri sendiri maupun orang lain merupakan hal yang terkadang sulit terlihat dari luar. Sehingga ketika kita menemukan orang biasa-biasa saja, tidak bekerja keras dan tidak memiliki ilmu yang banyak, kita mengatakannya sebagai orang yang beruntung.

Padahal dengan bersikap demikian, kita tidak bisa mengambil pelajaran. Karena jika kita sudah mengatakan “keberuntungan” itu sudah hak Tuhan, gak bisa dinalar. Namun jika kita percaya pasti ada sebab dibalik kesuksesan yang diterima seseorang maka kita bisa mengambil pelajar.

Cerita diatas juga membuktikan bahwa meskipun anda melakukan jurus ATM ( Amati, Tiru dan Modifikasi) jika anda tidak meniru amalan hati yang dilakukan, hasil yang anda peroleh akan jauh berbeda.

Karena itu ketika, anda belajar kesuksesan pada orang yang sudah sukses, pelajarilah sampai kedalam hatinya, pandangan-pandangannya dan, sikapnya. Kemudian tata ulang amalan hati anda, maka anda akan merasakan betapa mudah sebenarnya menjadi orang sukses dan kaya itu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 6 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 9 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 11 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: