Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Arfat Assad

pedagang daging sapi, memiliki visi agar seluruh rakyat indonesia dapat menikmati daging sapi setiap hari. selengkapnya

Contoh Proposal Penggemukan Usaha Sapi Potong

OPINI | 28 December 2012 | 09:48 Dibaca: 5585   Komentar: 1   0

LATAR BELAKANG

Usaha peternakan sapi potong pada saat ini masih tetap menguntungkan. Pasalnya, permintaan pasar terus memperlihatkan peningkatan. Indonesia dengan jumlah penduduk di atas 220 juta jiwa membutuhkan pasok daging yang besar. Peternakan domestik belum mampu memenuhi permintaan daging dari warganya. Timpangnya antara pasokan dan permintaan, ternyata masih tinggi.

Tidak mengherankan, lembaga yang memiliki otoritas tertinggi dalam hal pertanian termasuk peternakan, Deptan, mengakui masalah utama usaha sapi potong di Indonesia terletak pada suplai yang selalu mengalami kekurangan setiap tahunnya. Sementara laju pertumbuhan konsumsi dan pertambahan penduduk tidak mampu diimbangi oleh laju peningkatan populasi sapi potong dan pada gilirannya memaksa Indonesai selalu melakukan impor baik dalam bentuk sapi hidup maupun daging dan jeroan sapi.

Menurut data Susenas (2002) yang dikeluarkan BPS, memperlihatkan konsumsi daging sapi dan jeroan masyarakat Indonesia sebesar 2,14 kg/kap/tahun. Konsumsi tersebut sudah memperhitungkan konsumsi daging dalam bentuk olahan seperti sosis, daging kaleng dan dendeng.

Asumsi

*

Penduduk tahun sebesar 206,3 juta dengan tingkat pertumbuhan sebesar 1,49% per tahun

*

Populasi sapi lokal sebesar 11,6 juta ekor dengan tingkat pertumbuhan sebesar 14% per tahun.

*

Konsumsi daging sebesar 1,72 kg/kapita/tahun dengan peningkatan sebesar 0,1 kg/kapita/tahun.

*

Produksi daging sapi sebesar 350,7 ribu ton.

Proyeksi kebutuhan daging

* Th 2000

-

Penduduk 206 juta orang

-

Konsumsi 1,72 kg/kapita/tahun

-

Produksi daging 350,7 ribu ton/tahun

-

Pemotongan sapi 1,75 juta ekor/tahun

* Th 2010

-

Penduduk 242, 4 juta orang

-

Konsumsi 2,72 kg/kapita/tahun

-

Produksi daging 654,4 ribu ton/tahun

-

Pemotongan sapi 3,3 juta ekor/tahun (naik 88,6%)

* Th 2020

-

Penduduk 281 juta orang

-

Konsumsi 3,72 kg/kapita/tahun

-

Produksi dagiing 1,04 juta ton/tahun

-

Pemotongan sapi 5,2 juta ekor/tahun (naik 197%)

Sumber : Apfindo

Keadaan tersebut tentu sangat menghawatirkan karena suatu saat akan terjadi dimana kebutuhan daging sapi dalam negeri sangat tergantung kepada impor. Dengan demikian ketergantungan tersebut tentu akan mempengaruhi harga sapi lokal (datinnak).

Menurut analisa Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo), populasi sapi lokal Indonesoia, cenderung semakin menurun tanpa ada subtitusi dari impor sapi bakalan. Contoh pada 1997, populasi sapi lokal sebesar 11,9 juta ekor menjadi 11 juta ekor (8,2%) pada 2000 dikarenakan impor sapi bakalan terganggu krisis.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 1 Juni 2011, populasi sapi potong lokal berkisar 14,8 juta ekor sapi, dimana menteri Pertanian Suswono optimis mampu mencapai swasembada karena melebihi perkiraan pemerintah yaitu 13,1 juta ekor sapi. Namun menurut direktur eksekutif asosiasi pengusaha Importir Daging Indonesia (ASPIDI) Thomas Sembiring dari jumlah populasi tersebut yang siap potong hanya 1.425 juta ekor sapi jantan dewasa.

Jika seekor sapi memiliki bobot daging 180 kg, maka jumlah ini setara dengan 256.500 ton daging. Sementara untuk tahun 2011 sendiri kebutuhan daging sapi mencapai 424.000 ton. Jumlah ini masih jauh untuk memenuhi semua kebutuhan konsumsi masyarakat.

Populasi Sapi Potong Lokal

Jumlah Populasi

Sapi Potong

14.805.053

Sapi Perah

597.135

Kerbau

1.305.016

Sumber. Badan Pusat Statistik (BPS) Juni 2011

Semakin sulitnya sapi lokal memenuhi kebutuhan daging pada hari-hari besar keagamaan (Idul Fitri, Natal, dan tahun baru), tanpa dibantu oleh sapi impor (kasus 2001). Dan tiap provinsi sumber ternak mulai khawatir terhadap pupolasi sapi di daerahnya (Sulawesi Selatan, NTT, NTB, Jateng dan Jatim).

Kemudian adanya pemotongan sapi betina produktif. Pemerintah tidak mempunyai kewenangan apapun untuk mencegah sapi betina produktif untuk dipotong. Disinyalir 20%-30% dari jumlah sapi lokal yang dipotong adalah betina produktif.

Belum lagi akibat soal kualitas sapi lokal. Semakin menurun dengan terjadinya in-breeding diantara sapi lokal sehingga berat hidup sapi lokal semakin menurun (rata-rata 300 kg). Program cross breeding yang dilakukan selama ini tidak mengakibatkan peningkatan kualitas sapi lokal karena keterunannya (F-1) terus dipotong, bukan untuk dikembangbiakan kembali.

Kondisi itu, dengan sendirinya, membuat Indonesia harus mampu mendorong pertumbuhan produksi sapi sekaligus daging sapi. Arena kebutuhan daging sapi yang semakin meningkat, jika tidak disertai pertumbuhan populasi, mengakibatkan semakin banyaknya sapi lokal yang dipotong termasuk sapi betina, sehingga jika tidak waspada Indonesia akan masuk dalam food trap. Di mana ketergantungan akan impor akan semakin besar dan pada akhirnya akan 100% tergantung impor. Itu sebabnya, bisnis ternak sapi potong, menjadi salah satu lahan usaha yang prospektif.

TEKNIS USAHA

Suatu kegiatan pemeliharaan sapi dalam waktu tertentu untuk mendapatkan berat badan tertentu dengan pemberian pakan/minum yang berkualitas untuk mendapatkan keuntungan usaha.

KEUNTUNGAN = PENERIMAAN – BIAYA PRODUKSI

  1. Penerimaan = sejumlah berat sapi (kg) x harga (Rp) + Lain-lain
  2. Biaya Produksi = (pakan, kandang, tenaga kerja, bunga bank, lahan dll) dalam rupiah

Jumlah ekor yang dijual

Berat badan per ekor dari kualitas bibit yang baik

Pakan yang baik

Cara Pemberian Pakan

Pemeliharaan (Kandang)

PENERIMAAN LAIN-LAIN

q Pupuk : di olah menjadi kompos sebagai pendapatan usaha

q Biogas : dapat digunakan untuk menekan biaya rumah tangga

HARGA (PASAR)

q Jumlah yang dijual

q Kualitas Sapi (Kualitas Karkas/Daging yang dihasilkan)

q Jenis Kelamin (Jantan, Betina)

q Umur ( Pedet, Steer, siap potong)

q Waktu Penjualan (Menjelang puasa, Idul Fitri, Idul Adha, awal bulan atau akhir bulan)

q Cara Pembayaran (Kredit, Tunai)

q Cara Penjualan (Taksir, timbang Berat Badan)

KELEMBAGAAN

Informasi Pasar

Perkembangan/Fluktuasi Harga

Jumlah (Volume) yang diperlukan pasar

Selera Konsumen (lokal atau impor, kualitas daging tanpa lemak/dengan lemak dsb)

Cara Pembayaran

Jaminan Pasar

BIAYA PRODUKSI

  1. PAKAN : Konsep “cari biaya semurah mungkin dengan kualitas baik”. Berikan konsentrat dan inovasikan teknologi mikroba… jerami 4 %… Mikroba… (6-8) %  untuk menghasilkan (kg) daging yang baik… tanpa lemak… misalnya PBB 1.5 kg/ekor/hari dengan Konsentrat 6 kg. Dengan penambahan implant dan suplemen diharapkan akan mempercepat pertambahan bobot sapi.
  2. KANDANG : buatkan dengan biaya murah dengan ukuran sesuai kebutuhan 2,5 m2/ekor
  3. TENAGA KERJA : professional konsultan
  4. BANK (bunga) : sesuaikan dengan waktu yang maksimal dengan pertambahan berat badannya
  5. LAHAN : cari lahan yang murah

KESIMPULAN

Keuntungan diperoleh jika Penerimaan >> Biaya

Penerimaan ditentukan oleh PBB dan harga jual yang terbaik

Tentukan biaya (tertentu) terutama harga pakan (konsentrat) untuk mendapatkan hasil (PBB) maksimal

*tinggal buat proyeksi laba usahanya……. semoga sukses

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keputusan KPU Tetapkan Jokowi-JK sebagai …

Yusril Ihza Mahendr... | | 23 July 2014 | 14:21

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Stop! Jadi Orangtua Egois (Mari Selamatkan …

Siska Destiana | | 23 July 2014 | 12:36

Penting Gak Penting Ikut Asuransi Kebakaran …

Find Leilla | | 23 July 2014 | 11:53

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 2 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 3 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 7 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 7 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: