Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Tahujeletot

tahu pedas tahu jeletot tahu isi pedas taisi gehu pedas hot jeletot waralaba tahu jeletot franchise tahu jeletot selengkapnya

Tahu Jeletot

REP | 15 January 2013 | 16:01 Dibaca: 572   Komentar: 0   0

Tahu Jeletot Taisi

Bagi penggemar gorengan, tentu tak asing lagi dengan tahu jeletot. Ya, tahu jeletot adalah tahu goreng yang berisi irisan kol dan wortel. Terkadang ada juga yang menambahkan bihun, tauge dan daun bawang di dalamnya.

Nah, berbeda dengan tahu isi biasa, di Depok ada Tahu Jeletot Taisi alias super pedas yang saat ini sedang digemari. Tahu pedas ini juga berisi kol dan wortel. Namun istimewanya, ada rasa gurih dan sangat pedas di dalamnya karena ditambahkan cabai yang digiling kasar. Tepung untuk membalut tahunya pun terasa pedas karena diberi cabai.

Tak sulit mendapatkan tahu ini. Jika kebetulan sedang melewati jalan raya Sawangan, Depok, pasti akan bertemu para penjual tahu pedas ini.

Menurut Rudi (33) nama samaran, penjual tahu pedas di Indomaret Bukit Rivaria, sudah hampir setahun ia menjual makanan ringan ini. Awalnya, ia menjualnya di kawasan Perumnas Depok I yaitu di jalan Pipit Raya. Jualannya laku keras, bahkan dalam sehari bisa ludes hingga 400 tahu.

Berawal sebagai Sales Manager di salah satu Bank Asing terkenal, Rudi lalu berubah haluan yaitu  menjadi penjual tahu pedas. Pasalnya, Depok adalah pusat jajanan di Jabodetabek. Semua ada di sini, jadi kenapa saya enggak jual makanan saja? Kebetulan saya sudah menjalankan usaha kuliner juga yang saya beli secara franchise dari daerah Jawa Tengah, papar Rudi yang membeli franchise itu seharga Rp 30 juta.

IMG02958-20120716-1823

Resep yang ia gunakan rasanya memang gurih dan mantap. Itu ia dapatkan setelah uji coba selama 7 bulan, 6 bulan di rumah dgn menjual ke teman-teman dan sesuai pesanan dan 1 bulan lagi proses penyempurnaan pada saat penjualan di kios pada bulan pertama, barulah ia mendapatkan resep yang pas dan cocok di lidah para pelanggannya.

Sampai sekarang resep rahasia ini adalah salah satu kunci utama kesuksesan usaha ini, ujar Rudi yang kini sudah membuka cabang di 5 tempat dan 3 mitra karena pembelinya kian berjubel.

Rudi berjualan tahu pada jam 12.00 – 21.00. Saya bikin bumbunya pagi hari, jadi baru bisa berjualan siang hari. Tahu ini juga hanya bertahan 1 hari karena saya sama sekali tidak memakai bahan pengawet. Tahu yang dipakai Rudi adalah tahu khusus yang ia buat di pabrik tahu yang terkenal enak di Depok, dan tahu ini tidak dijual di pasaran, dia memproduksi tahu hanya sesuai pesanan.

Di dalamnya saya isi irisan kol dan wortel, dan bumbu cabai rawit merah. Tahu yang sudah diisi, saya masukkan ke adonan tepung terigu yang sudah diberi bumbu juga. Jadi, rasanya benar-benar gurih dan super pedas, tutur Rudi yang menamakan gorengan tahunya yaitu “Tahu Jeletot Taisi”.

IMG02956-20120716-1801

Saking lakunya, Rudi pun mulai membuka sistem waralaba, yang kini sudah ada 7 cabang di Depok, dan 1 cabang di daerah Jakarta Timur. Dengan nilai investasi Rp. 5,5 juta, pembeli waralaba Tahu Jeletot Taisi sudah dapat booth berupa gerobak aluminium dan bahan baku. Pewaralaba bisa balik modal kurang lebih 2-3 bulan, papar Rudi yang kini sudah memiliki karyawan 20 orang.

Menurut Rudi, jika ingin berbisnis, harus selalu inovatif dan kuat mental serta mempunyai semangat baja dan pantang menyerah. Banyak yang minta franchisedi luar kota, tetapi saya belum berani karena kendala di bahan baku. Saya juga tidak mau mengurangi kualitas rasa, demi keuntungan sesaat, meski harga cabai terus naik, kata Rudi yang bisa meraup untung Rp. 20 juta per bulan.

Banyaknya cabang tak membuat Rudi kesulitan melakukan pengawasan, tinggal menghitung berapa jumlah tahu yang laku. Jadi saya enggak akan bisa dibohongi, tandas Rudi.

More Info:

Telp.: 021-94787043

Blog: www.taisihot.wordpress.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menyelamatkan 500 Generasi Muda dari Dampak …

Thamrin Dahlan | | 19 September 2014 | 20:47

Dangdut Koplo Pengusir Jenuh, Siapa Mau? …

Gunawan Setyono | | 20 September 2014 | 08:45

“Apartemen” untuk Penyandang …

Arman Fauzi | | 19 September 2014 | 14:10

Saya, Istri dan Kompasiana …

Tubagus Encep | | 20 September 2014 | 08:00

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 2 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 3 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 3 jam lalu

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 11 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | 7 jam lalu

Sate Khas Semarang yang ada Di Jakarta …

Kornelius Ginting | 8 jam lalu

Browser Chrome Tidak Cocok Untuk Membuka …

Ruslan | 8 jam lalu

Andromax Pilihanku dalam Komunikasiku …

Dedy Sigid Setiawan | 8 jam lalu

Bang Ahok Jangan Bikin Malu Kami Ya …

Betterthangood Ina | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: