Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Khrisnawan Adhie

#NUFEVAH! | @awexxx | www.kerneels.com

Bisnis Apa Ya Enaknya?

OPINI | 14 February 2013 | 14:50 Dibaca: 1100   Komentar: 0   1

Saya sering bingung jika ada yang bertanya seperti itu pada saya. Jujur, sebagai pelaku bisnis yang masih terus belajar dan menggali ilmu dari orang-orang yang lebih berpengalaman, saya tidak dapat menjawab banyak apabila menghadapi pertanyaan, “Jaman sekarang enaknya usaha apa ya?”.

Tapi menurut saya, keinginan untuk berbisnis itu sama dengan keinginan untuk makan. Kita tidak bisa serta merta bertanya pada teman, “Enaknya makan apa ya?” – tanpa mempertanyakan pada diri sendiri, “Apa yang saya inginkan untuk makan,” – dan apa yang saya inginkan untuk makan, tentu saja adalah makanan yang saya senangi, dan belum tentu teman saya senangi.

Begitupun halnya dengan bisnis. Melihat pengusaha-pengusaha idola saya, baik dalam industri raksasa yang tidak pernah saya jumpai langsung, hingga pengusaha-pengusaha sukses yang bisa saya jumpai dalam acara-acara tertentu, saya sering bertanya-tanya, apa yang menyebabkan mereka begitu senang dan tanpa bosan menekuni bisnisnya bertahun-tahun.

Dari beberapa yang menjawab - dan saya yakin semua sama, menjawab passion.

Sama seperti selera makan, saya tidak akan bisa menyukai seafood seperti teman saya misalnya. Seorang penyuka seafood, akan tahu di mana restoran-restoran mahal hingga warung-warung seafood lezat di kota Jakarta ini. Karena kesukaannya, dia akan berani, mau dan terus mencoba berbagai tawaran restoran bahkan warung seafood pinggir jalan sekalipun.

Sedangkan saya? Tentu saja saya tidak akan tahu banyak soal seafood, restoran seafood, apalagi warung seafood yang banyaknya minta ampun. Pengetahuan saya hanya sebatas restoran seafood franchise yang itu-itu saja. Kenapa? Karena seafood bukan kesukaan saya, dan rasanya saya enggan untuk mencoba, apalagi rajin mengunjungi tempat-tempat yang menjual seafood.

Bagaimana dengan bisnis? Menurut saya, tidak ada bedanya. Seseorang yang telah menemukan passion-nya atau kesukaannya, tanpa paksaan, akan berani, mau dan terus belajar menekuni bidangnya. Dengan sentuhan ilmu pemasaran yang sesuai, jadilah bidang yang ditekuni ini menjadi bisnis yang bernilai.

Loh, setiap orang tentu akan mau menekuni bisnisnya. Yang penting, punya modal dan bisnis apa yang profitnya menjanjikan?

Pertanyaan itu menurut saya, sama saja dengan keadaan dimana saya harus makan seafood dan mencari restoran-restoran terkenal yang menjual seafood karena ada imbalannya. Ada untungnya, dan ada modal dana untuk membelinya.

Lalu apa bedanya? Sama saja kan hasilnya? Saya bisa tahu restoran-restoran seafood terkenal di Jakarta dan resep-resep seafood yang beranekaragam. Persis seperti pengetahuan teman saya si penggemar seafood.

Tentu saja beda. Teman saya tanpa motivasi apapun akan dengan senangnya mencicipi berbagai jenis resep masakan seafood. Teman saya akan sangat dengan gembiranya memburu restoran-restoran seafood terkenal ketika sedang punya uang, dan tetap dengan senang hati, memburu warung-warung seafood lezat ketika dompetnya sedang kepepet.

Sedangkan saya? Saya termotivasi imbalan/upah/untung. Saya akan mencari restoran dan warung seafood, hanya dengan motivasi untung tersebut. Apabila imbalan/upah/untung tersebut tidak ada, untuk apa saya melakukan hal yang saya tidak suka? Ketika imbalan/upah/untung tersebut tidak ada, untuk apa saya keluar modal untuk makan seafood?

Begitupun dengan bisnis. Menurut saya, hanya semata-mata termotivasi dengan profit besar, rasanya akan sangat kurang efektif (jika tidak ingin dikatakan tidak efektif). Menginginkan profit tanpa passion untuk berani, mau, dan terus belajar hanya akan membuat lelah secara mental dan memudahkan kita cepat berputus asa. Apalagi bisnis dimanapun, saya yakin tidak ada yang tidak mengalami pasang surut – dan keberanian, kemauan serta konsistensi untuk belajar dengan tulus hanya bisa didapat apabila kita telah menemukan dibidang mana passion kita berada.

Sama seperti makanan kesukaan, pasar, teman, timing/jaman, dana, tentu akan berpengaruh, tapi poin-poin tersebut bukanlah tolok ukur utama keberanian dan kemauan kita untuk mencari tahu dan belajar. Kesukaanlah yang melahirkan passion, dan passionlah yang menentukan keberanian, keinginan dan konsistensi kita untuk belajar dan membangun bisnis.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Akh Jokowi? Kita Lihat Dulu Deh Kabinetnya …

Ian Wong | | 31 July 2014 | 08:18

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | 1 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 9 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 13 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: