Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Apus-pasarpanas

Saya kompasianer udik! lagi belajar menulis dengan segala keterbatasan. Agar sedikit punya arti. Juga Owner Yahya selengkapnya

Masalah Bisnis dan Solusinya (Studi Kasus Usaha Pribadi)

OPINI | 04 March 2013 | 08:26 Dibaca: 4324   Komentar: 0   0

Dalam berbisnis kita tidak lepas dari masalah ataupun kendala. Namun di dalam masalah itu sering kali terdapatpeluang yang besar untuk menumbuhkan suatu bisnis. Begitulah kira-kira salah satu nasehat bijak dalam menghadapi masalah bisnis.
Disadari ataupun tidak. Suatu bisnis selalu mempunyai masalah yang mengganjal perjalanan bisnis tersebut.Begitu juga dengan bisnis keluarga saya.( Konter handphone)

Setelah menelaah dan meriset permasalahan bisnis yang sering saya hadapi.maka akhirnya saya bisa menjabarkannya dibawah ini:
1. Kredit macet masih no uno!
Banyaknya pelanggan konter handphone saya yang ngutang, melakukan pembeliaan dengan cara pembayaran angsur. Ditambah lagi keseganan saya dalam menagih hutang. Dan kekurang jelian saya dalam memerikan pasilitas kredit kepelanggan. Membuaat permasalahan kredit macet ini menjadi musuh utama bisnis saya dalam beberapa waktu terakhir ini.

Solusinya:
A. memperketat pemberian Fasilitas kredit.
B. Menaikkan selisih harga
Kredit dan kontan.
C. Melakukan sistem pencatatan riwayatpelanggan.
D. Membedakan harga untuk pelanggan dengan katagori pelanggan lancar,setengah lancar, berkatagori macet.
2. Stok barang yang tidak terupdate.
Sebagai pedagang eceran sekaligus juga grosir yang terletak jauh di pelosok daerah. Yang melakukan pembelian ke suplayer dengan sistem datang ke agen.Sering Membuat stok barang usaha saya tidak lengkap.
Ditambah lagi lambatnya perputaran uang masuk akibat keberadaan usaha di tengah-tengah perusahaan. Yang pelanggan rata-rata meningkat tajam hanya di saat-saat pekerja perusahaan menerima gaji.

Solusi:
A. Melakukan pencatatan setiap hari terhadap stok barang. Sehingga bisa memantau keadaan stok barang dengan cepat.
B. Segera melakukan pembelian ke suplayer apabila terjadi kasus stok kosong, dengan syarat utama biaya transport lebih kecil dari keuntungan yang didapat.
3. Masih mengunakan sistem menejemen keuangan tradisional khas kaki lima.
Usaha saya masih mencampur sistem keuangan konter dan keluarga. Menjadikan semua uang dalam satu kas.sehingga sulit memonitor biaya hidup yang cenderung mengikuti gaya hidup kosumtif.

Solusi:
A. Mengaji diri sendiri. Dengan menyebutkan angka tertentu untuk biayahidup keluarga.
B. Melakukan pencatatan arus kas usahasecara modern namun sederhana.
4.Terlalu banyak dan cepat melakukan investasi di bidang yang tidak berhubungan dengan usaha secara langsung.
Membangun ruko yang jauh dari tempat usaha dan juga membeli lahan di tempatlain. Sementara modal utamanya adalah dari hasil usaha konter. Membuat konter saya beberapa bulan terakhir ini kelimpungan dalam arus kas. Sehingga kelihatan stagnan dalam arus permodalan. Akibat uang kas yang banyak lari keluar.

Solusi:
Menentukan jumlah investasi keluar secara persentase dari hasil keuntungan usaha.
5. Dua pengelola berbeda dalam satu usaha.
Sebagai usaha bersama, antara
saya dan istri. Membuat fungsi dan hak kami sama dalam menjalankan roda usaha. Kadang sering terjadi berbeda pandangan dalam mengambil keputusan, walaupun tujuannya sama. Membuat Sistem operasional prosedur usaha berjalan tidak konsisten.

Solusi:
A. Menerapkan menejemen cinta. Asas mamfaat karena satu keluarga satu tujuan.
B.membagi hak dan kewenangan dalam mengambil keputusan usaha secara musyawarah cinta kekeluargaan.
C. Mencari usaha baru untuk dijalankanisteri sendiri atau suami sendiri secara total.
Demekianlah kira-kira masalah usaha yang saya hadapi sekarang ini. Dengan solusi yang mengikutinya. Mungkin ada rekan dan pembaca yang ingin menambahkan solusi lainnya akan permasalahan usaha yang saya hadapi ini.sementara saya tetap dengan keyakinan solusi akan manjur dengan dijalankan dengan konsisten.

Salam

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Learning by Doing, Efektifitas Mendidik ala …

Muhammad | | 16 September 2014 | 10:24

Autoethnografi: Dari Pengalaman ke Teks …

Sehat Ihsan Shadiqi... | | 16 September 2014 | 11:06

Asuransi Kesehatan Komersial Berbeda dengan …

Ariyani Na | | 15 September 2014 | 22:51

Awas Pake Sepatu/Tas Import kena …

Ifani | | 16 September 2014 | 06:55

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 4 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 6 jam lalu

RUU Pilkada: Jebakan Betmen SBY buat Jokowi, …

Giri Lumakto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 7 jam lalu

Ijasah Bon A dan B Suatu Kenyataan di Era …

Abebah Adi | 7 jam lalu

Hati-Hati, Ini 3 Modus Penipuan Gaya Baru …

Dian Halle Wallahe | 7 jam lalu

Peduli Pelanggan? Mutlak Penting Bagi Pelaku …

Uli Arta Simanjunta... | 7 jam lalu

Lamaran Pekerjaan Ditolak? Apa yang Salah? …

Marlistya Citraning... | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: