Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Posma Siahaan

Bapak Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.

Bila Dokter ‘Ketularan’ Bikin Rumah Kos

OPINI | 15 April 2013 | 02:34 Dibaca: 1636   Komentar: 26   6

“Wah, kos-kosannya maju ya mbak?”Tanyaku pada seorang teman sejawat ahli penyakit dalam yang membeli rumah di sebelahnya untuk dibuat kos-kosan 20 kamar.

“Wah, lumayan. Selalu penuh dan pada betah tuh.”Katanya.

“Bayarnya sering nunggak,gak?”Tanyaku.

“Sebagian besar orang Jawa juga atau orang farmasi. Jadi saya kasih tenggang gak bayar 3 bulan berturut-turut. Jadi bulan ke 4 gak bayar baru saya minta kerelaannya pindah ke kos lain.”Katanya bertoleransi.

“Kalau terjadi kebakaran atau kerusakan,mbak?”Tanyaku.

“Ya, kos-kosan saya asuransikan. Preminya berdasarkan jumlah kamar dan kualitas bangunan. Lalu tiap kamar difoto, kalau ada kerusakan parah karena kebakaran atau diobrak-abrik orang baru panggil asuransinya biar diganti. Uang preminya juga masukkan ke tarif kos.”Katanya.

“Kosnya campur?”Tanyaku.

“Iya, putra-putri malah ada yang berkeluarga 1 anak.”Katanya.

“Gak takut ada yang macem-macem?”

“Saya kan di sebelah rumah dan sudah ada peraturan tidak boleh memasukkan lawan jenis ke kamar kos dan teman atau keluarga yang mau menginap harus ijin duluan. Kalau itu dilanggar, langsung suruh pindah, uang kosnya dibalikan saja.”Katanya tegas.

“Wah, tegas juga ya mbak ini. Tapi kosnya tetap penuh?”

“Iyalah. Kalau mereka ada yang sakit berobat ke aku ya aku gratisin. Mereka aku anggap keluarga kok. Asal ‘manut’ dan bayarnya lancar ya semua pasti kita bantu kalau ada masalah. Malah yang sudah lebih setahunan kos dan sudah dekat sering numpang makan di rumah. Daripada mereka sakit maag, makannya mi instant dan nasi padang melulu. Hehehehe…”

Ya, itu tadi ‘pekerjaan sampingan’ salah satu teman sejawat di Palembang yang asli Jawa Tengah. Yang berminat kos juga diutamakan yang ada ‘klik’ dengannya, yaitu satu daerah atau ada kaitan dengan profesi kesehatan, sehingga bisa dianggap keluarga. Mengingat seringnya kejadian mati lampu di Palembang yang membuat banyaknya penggunaan lilin atau lampu darurat yang sering bikin kebakaran, membuat dia mengantisipasi dengan ikutan asuransi kerusakan bangunan.

Beberapa sejawat lain ada yang ber’side-job’ jadi MC, penyanyi, pemain musik, pelukis, politikus, berdagang dan penulis. Dari berbagai profesi itu kelihatannya profesi politikus dan berdagang sangat mengganggu tugas utama sebagai tenaga medis, sedangkan profesi lain dapat dilakukan tanpa mengganggu jam praktek.

Jadi, dokter yang berprofesi ganda tidaklah salah asal profesi kedua tidak mempengaruhi jam prakteknya menolong masyarakat dan mempengaruhi kualitas pengobatannya.

Tags: freez anakkos

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gandari: Menyibak Karakter dan Sikap …

Olive Bendon | | 18 December 2014 | 17:44

Meteorisme, Penyakit Hitler yang …

Gustaaf Kusno | | 18 December 2014 | 12:20

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

KOMiK Nobar Film Silat Pendekar Tongkat Emas …

Komik Community | | 17 December 2014 | 11:56



Subscribe and Follow Kompasiana: