Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Veda Ichus

Hanya manusia sederhana dan terbatas yang ingin selalu berbagi

Memberdayakan Masjid

OPINI | 19 April 2013 | 10:00 Dibaca: 107   Komentar: 1   0

Hari Jum’at, diakui atau tidak, masjid dipadati oleh para jama’ah khususnya saat shalat jum’at / waktu dzuhur. Diluar hari itu, masjid hanya terisi oleh beberapa baris jama’ah saja. Peristiwa ini, hampir terjadi pada semua masjid, paling tidak masjid yang pernah penulis kunjungi.

Pada hari jum’at juga, sebelum ritual shalat jum’at atau lebih tepatnya sebelum adzan, biasanya tamir / petugas masjid mengumumkan perolehan kotak amal masjid pada jumat yang lalu dan juga laporan pertanggungjawaban penggunaan dana amal itu. Pada akhir penyampaian laporan keuangan, tamir masjid menutupnya dengan sisa saldo yang dimiliki oleh masjid.

Laporan pertanggungjawaban perolehan dan penggunaan keuangan masjid seringkali diakhiri dengan saldo yang nominalnya sangat besar, puluhan bahkan ada yang hampir ratusan juta.Nominal saldo tersebut, bagi saya pribadi terdengar sangat besar. Hal yang membuat saya prihatin adalah kenapa nominal yang begitu besar hanya diperuntukan untuk membayar air, listrik, kebersihan, dan sejenisnya yang nominalnya selama satu bulan tetap saja masih menyisakan saldo yang sangat besar.

Saya pribadi yang awam dalam masalah agama selalu menafsirkan mengimajinasikan surat Al-Baqarah ayat 261 dengan maksud seruan Tuhan kepada umatnya untuk produktif dalam menggunakan harta / materi. Terkadang muncul pertanyaan dalam hati, tidakkah saldo yang begitu banyak di masjid menyalahi seruan Tuhan dalam surat tersebu ?

Saya slalu membayangkan, andaikan saldo yang berjumlah puluhan bahkan hampir ratusan juta itu dimanfaatkan untuk hal yang produktif. Alangkah indahnya jika masjid kecil di sebuah desa menjadi tempat berkumpul para pemuda, tidak hanya untuk shalat berjam’ah, tapi juga rapat membahas usaha yang akan dilakukan oleh para pemuda masjid, membahas keuntungan usaha dari modal saldo kotak mal masjid, membahas kerugian usaha dan usaha bagaimana menutupnya dan menjadikannya untung kembali.

Akan terlihat indah jika desa dengan potensi perikanan dan pemuda putus sekolah menggarap potensi perikanannya dan menguntungkan mereka dan masjid. Terlihat indah juga jika masjid masjid di perkotaan ramai dipenuhi pemuda yang melakukan bisnis perdagangan atau usaha lain yang sesuai dengan potensi bisnisnya. Alloh tentunya tidak akan murka jika umatnya menggunakan rumah-Nya untuk kegiatan diluar ritual keagamaan, selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan kaidah kaidah keagamaan tentunya.

Dengan bermodalkan saldo kotak amal, masjid tidak hanya menjadi tempat ritual keagamaan, tapi menjadi tempat yang ramai karena secara materi keduniawian sudah memberdayakan perekonomian masyarakat sekitar. Mari memakmurkan masjid dan memakmurkan masyarakat sekitar masjid.

Selamat menjalankan shalat jum’at dan selamat mendengarkan berapa saldo kotak amal minggu ini di masjid tempat anda shalat jum’at.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



Subscribe and Follow Kompasiana: