Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Andang Ismail

Spesialis Alat Permainan Edukatif (APE) Berbahan Sederhana Bahkan Barang Bekas untuk Pembelajaran Anak Usia Dini. Penulis selengkapnya

Rumah-rumahan dari Gabus Ciptaanku

OPINI | 20 April 2013 | 18:40 Dibaca: 1104   Komentar: 5   0

13664578811012984571

Alhamdulillah.. Akhirnya saya bisa melihat sendiri perkembangan usaha di bidang miniatur rumah dari stereofoam (Gabus) di Youtube.

Ceritanya sederhana, akhir tahun 1999 adalah awal saya merakit merencanakan dan mendesain mainan ini dengan modal 200 ribu pinjam pada seorang kawan yang cukup satu minggu dapat saya kembalikan modal ini. Saya mendapatkan ide ini di depan kamar mandi kost, di Gambiran Yogyakarta, dimana saat itu saya baru menikah, sementara belum punya pekerjaan, tapi sebagai sarjana pendidikan saya ingin bisa berbagi ilmu dan kreativitas pada semua orang, tetapi saya juga ingin bisa punya penghasilan.

Saya sangat bahagia ketika ide yang saya miliki ini bisa membuat orang lain kebagian berkahnya. Ada banyak saksi yang bisa kami buktikan, dari konsep ini, termasuk bagaimana saya memasarkan awal di pasar sekaten, di Depan Istana Presiden “Gedung Agung” Jogja (sampai harus lari-lari karena dikajar pak Polisi Pamongpraja), di pasar kotagede yogyakarta sambil meniup trompet yang bisa berkata: “Papa’e…”, di pasar Godean Sleman, di Pasar Bringharjo Jogja dan pasar2 lain yang saat itu cukup dalam hitungan 1 tahun saya punya beberapa karyawan dan memasarkan produk ini ke beberapa tempat.

Nasib Berpihak Lain
Disela-sela saya menjaga jualan produk ini, saya selalu sempatkan baca buku tentang pendidikan anak yang mulai saya sukai waktu itu. Karakter saya sebagai pendidik dan pebisnis memang sangat kuat, hingga saya pernah dikira lulusan dari arsitek atau setidaknya lulusan STM Bangunan, hingga beberapa pemesan benar-benar meminta saya membuatkan maket sekolah yang lengkap, diantaranya adalah maket SMP Negeri 8 Yogyakarta, SMK Muhammadiyah Imogiri, yang saya kemas dengan menggunakan kaca. Mudah-mudahan masih ada di sekolah mereka, meski kurang yakin juga karena Imogiri pernah diguncang gempa. Sama ratanya dengan rumah yang saya tinggali di Banguntapan Bantul.

Disaat saya berjumpa dengan seorang kepala di Sekolah Tinggi Pendidikan Islam (STPI) Bina Insan Mulia Yogyakarta (dulu PGTKI Bina Insan Mulia); Ibu Hibana, M.Pd (Beliau juga masih ada) saya bawakan hadiah untuknya sebentuk miniatur rumah type 45 yang saya produksi. Beliau sangat senang dan menawari saya untuk memberikan materi-materi kuliah kreativitas dan permainan, termasuk desain APE tradisional-modern, dan mata kuliah kreativitas lainnya, hingga saat itu (2003) saya selalu diminta untuk memberikan “oleh-oleh” kreativitas bagi para mahasiswa saya, khususnya dari barang2 bekas.

Mulai saat itulah pekerjaan produksi miniatur ini mulai saya turunkan karena saya cukup sulit membagi waktu dengan agenda saya mengajar di beberapa tempat: di PGTKI Bina Insan Mulia Purworejo, PGTKI Bina Insan Mulia Gemolong, PGTKI Bina Insan Mulia Sragen, PGTKI Bina Insan Mulia Demak dan di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta.

Mainan ini tidak pernah saya tinggalkan dan masih saya miliki dokumennya mulai dari desain potongannya, desain pintu dan jendelanya, hingga desain rumah model sudut dan salah satu model yang masih lengkap dengan desain pintu dan jendelanya yang ada di layar ini adalah rumah-rumahan yang saya beri nama “RUMAH ELIT”. saya masih punya desainnya lengkap. Waktu itu saya kemas dengan menggunakan plastik ukuran ketebalan 0,5 dan dilabel dengan nama: MAHIMA: Home art for kids creativity. Awalnya menggunakan petunjuk berupa buku kecil yang terbuat dari fotocopy-an dan saya potong jadi dua, terdiri dari 8 halaman, termasuk wawasan mengenai kreativitas dan cara pemasangan kepingan-kepingan ini dengan lengkap.

Di tahun 2003-an waktu itu barang produksi saya sempat menjadi primadona di Taman Bermain Purawisata. Hingga ada seorang rekan penjual gelembung sabun (orang yang tinggal di dekat Purawisata) tertarik dan kemudian meniru mencipta dengan produk yang sama dan punya beberapa perbedaan mendasar, tentunya desainnya tidak semanis yang kami buat, karena tangan dan cara melihatnya juga berbeda. Kami tidak semata-mata mencari keuntungan, tetapi juga bagaimana memberikan pembelajaran.

Di tahun yang sama seorang rekan pedagang mainan juga kemudian belanja ke tempat saya satu kodi (20 pcs), beliau orang mangiran Bantul. Di saat yang tidak disangka-sangka kami berjumpa saat belau sedang menjajakan produk yang seperti saya buat.

Sempat sakit hati saya, karena di saat yang tidak terlalu jauh dari itu saya dapatkan lagi info bahwa ada produsen mainan rumah-rumahan dari gabus yang diliput TransTV..

Emh.. saya hanya mengatakan pada diri saya: “Berbahagialah, bahwa yang dinamakan orang berhasil itu adalah orang yang bisa membuat orang lain berhasil. Jangan bersedih, karena Tuhan telah menentukan garismu bukan sebagai tenaga produksi, tetapi sebagai pemberi ide bagi orang-orang untuk berkembang dan maju”.


Good Luck for next producers after me..

Saya ikhlas untuk kalian kembangkan..

Ada cerita unik yang ingin saya ceritakan, waktu itu saya sedang memberikan pelatihan pembuatan alat permainan edukatif dari bahan sederhana. Waktu itu di kampus Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, tiba-tiba ada seorang peserta mengacungkan tangan dan bertanya: “Maaf pak, apakah saya tidak salah lihat? saya pernah melihat Bapak di kotagede, benarkah Bapak yang menjual mainan rumah-rumahan di kotagede? Apa jawaban saya: “Benar bunda, alhamdulillah kita dipertemukan disini dalam suasana yang berbeda, dimana saya tidak meniup trompet lagi dan saya tidak menggelar tikar di pinggir jalan lagi dan segera menutupnya ketika hujan”.

Mulai tahun 1999 hingga saat ini saya masih concern dengan dunia mainan edukatif, tetapi tidak lagi memosisikan diri sebagai seorang produsen, tetapi sebagai konsultan dan trainer praktisi dalam pelatihan-pelatihan pembuatan alat peraga dan alat permainan edukatif. Buku saya: Education Games pertama kali diterbitkan Pilar Media Yogyakarta, dan karena alasan administratif saya pindahkan ke penerbit yang lebih jujur dan berhati besar; ProU Media Yogyakarta.

Tidak hanya itu, saya cukup menjadi pemula yang mengajarkan pemanfaatan bahan sederhana untuk dijadikan APE dan telah kami produksi Animasi Tutorialnya di tahun 2008. Saat ini sedang kami kembangkan dalam beberapa kategorisasi dari ratusan model yang saya buat, diantaranya:

1. APE untuk pengembangan kemampuan berbahasa
2. APE untuk pengembangan kemampuan Matematika dan sains
3. APE untuk pengembangan kemampuan Kreativitas dan Seni
4. APE untuk pengembangan kemampuan Mengelola Sosial dan Emosional
5. APE untuk pengembangan kemampuan Keagamaan
6. APE untuk pengembangan kemampuan Motorik
7. APE untuk pengembangan Karakter positif Anak
8. APE untuk pengembangan Multiple Intelligence
9. APE untuk pengembangan Pembelajaran Tematik
10. Alat Peraga dan APE untuk Pembelajaran Tematik Sekolah Dasar

Yang ingin saya ungkapkan disini, saya juga berterimakasih kepada Mahima-ku yang telah membuat banyak perubahan bagi banyak orang, semoga bermanfaat terutama dalam meningkatkan taraf hidup dan kreativitas baik bagi pebisnis maupun bagi pecinta anak.

Salam damai dan sukses selalu dari saya: Andang Ismail.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selintas Mengenang Taufik H Mihardja …

Dwiki Setiyawan | | 27 August 2014 | 15:21

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 2 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 3 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 5 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: