Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Herry B Sancoko

Hidup tak lebih dari kumpulan pengalaman-pengalaman yang membuat kita seperti kita saat ini. Yuk, kita selengkapnya

Pedagang Kaki Lima Jasamu Selalu Dikenang

HL | 05 August 2013 | 13:35 Dibaca: 968   Komentar: 15   8

1375709898906380104

Ilustrasi/ Admin (Kompas.com)

PEDAGANG kaki lima sebenarnya sektor ekonomi yang menjadi penyelamat krisis ekonomi Indonesia. Geliat ekonomi masyakarakat tetap terjaga meski kita mengalami krisis ekonomi sejak 1997 lalu. Modal tidak terkumpul di perusahaan padat modal tapi tersebar di ribuan pedagang kaki lima. Pada saat perusahaan padat modal sekarat karena nilai tukar rupiah yang anjlok, sektor perdagangan di level kaki lima malah menjamur. Roda ekonomi tetap berputar. Masyarakat bawah tetap punya penghasilan dan punya sedikit rejeki lebih untuk berbelanja.

Pemerintah tinggal ongkang-ongkang dengan masalah ekonomi masyarakat bawah. Tidak perlu subsidi, bantuan penghasilan, asuransi, program pengentasan kemiskinan dan lain-lain.  Masyarakat kelas bawah tetap survive tanpa peranan langsung pemerintah.  Bahkan mereka sebenarnya tidak butuh bantuan pemerintah. Yang mereka butuhkan adalah ketenangan dalam berdagang.  Mengharap pemerintah tidak campur tangan dengan usaha dagang mereka.

Campur tangan pemerintah malah membuat mereka kesulitan.  Digusur, ditertibkan, diobrak-abrik, disingkirkan dari pandangan mata. Mereka dianggap sumber kesemrawutan tata kota. Keberadaan mereka hanya merusak pemandangan kota.

Pedagang kaki lima tidak kuasa melawan pemerintah jika dikaitkan dengan hukum, peraturan dan ketertiban. Mereka terima nasibnya. Bahkan sudah kebal dengan tindakan pemerintah yang main gusur. Dianggapnya sebagai bagian dari perjuangan hidup. Mereka tetap bertahan dengan apa yang mereka punya. Masih ada hari esok. Itu falsafah mereka agar bisa tetap bertahan hidup.

Setelah penggusuran, beberapa hari kemudian toh mereka bisa kembali dan berdagang lagi. Di tempat sekitar penggusuran. Mereka adu kuat siapa paling lama bisa menahan bosan. Biasanya pemerintah yang tidak kuat.  Mereka bosan main gusur. Pedagang kaki lima seperti jamur yang tak pernah mati. Dibabat pada musim kering namun begitu musim hujan, ribuan bakal tumbuh kembali.

Ketika pemerintah bosan melakukan penertiban, maka preman mengambil alih fungsi. Pedagang kaki lima lebih enak bersimbiose dengan para preman. Mereka melindungi dan menertibkan kalangan dagang tidak resmi tersebut.  Menjamin keamanan dan ketenangan mereka berdagang. Transaksi dengan para preman bersifat preman juga.  Hukum-hukum tidak resmi perpremanan mereka adopsi dan menjadi kewajaran. Preman menjamin kelancaran dan kelangsungan hidup usaha dagang mereka secara preman dan di dunia preman juga.

Pemerintah seolah tidak mau tahu masalah hidup keseharian para pedagang kaki lima. Para pedagang kaki lima tersebut mengumpulkan ceceran uang dari apa yang tersisa dari masyarakat. Disposable income masyarakat menengah bawah tidaklah seberapa tapi membantu para pedagang kaki lima tersebut untuk bertahan hidup dengan keluarga mereka.

Tentu saja iming-iming pemerintah tentang lokasi dagang yang disediakan tidak menarik mereka.  Tidak menarik karena mahal dan tak terjangkau oleh pendapatan mereka. Para pedagang kaki lima bertahan di dunia mereka bersama para preman. Berhubungan dengan para preman memang banyak jengkelnya, tapi lebih menjengkelkan bila berhubungan dengan pemerintah.  Tanpa preman, bukan gusuran dari dinas penertiban umum pemerintah saja yang mereka hadapi, tapi juga dengan pesaing-pesaing mereka, pedagang lain yang berebut lahan, dan cukong-cukong tidak resmi lainnya.

Sementara di kalangan masyarakat, pedagang kaki lima tetap dibutuhkan karena berbagai alasan. Terutama bagi masyarakat menengah ke bawah.  Pedagang kaki lima menawarkan harga yang relatif miring dibanding dengan tempat-tempat dagang mapan. Faktor ketersediaan mereka juga menjadi daya tarik sendiri.  Jumlah pedagang kaki lima ribuan. Mereka mudah didapat. Kadang pedagang kaki lima juga menjajakan dagangan mereka door to door pada konsumen. Pedagang kaki lima selain menawarkan harga lebih murah juga memberi kenyamanan pada pembeli.

Faktor lainnya adalah masalah emosi.  Pedagang kaki lima punya kekuatan khusus yang kadang tidak bisa dinilai dengan uang.  Pedagang kaki lima bagi para pembeli menawarkan kesantaian dan keakraban.  Pedagang kaki lima meninggalkan bekas mendalam pada pembeli. Dalam hal tertentu malah tidak bisa dilupakan.  Kenangan berbelanja di kaki lima membuat pembeli selalu kembali. Mengenang pengalaman masa lalu yang pernah dilalui bersama orang-orang dekatnya saat belanja atau menyantap hidangan makanan di sudut pasar, di depan stasiun, di pinggir alun-alun, di tenda murahan di pinggir telaga, di pinggir taman kota dan sebagainya.

Pedagang kaki lima juga berhubungan dekat dengan sektor pariwisata. Berkunjung ke tempat wisata tidak terasa lengkap jika tidak diselingi dengan acara belanja di tempat pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima sudah menjadi bagian dari turisme. Kota Yogyakarta tidak akan semeriah ini dalam kunjungan wisata tanpa adanya jalan Malioboro yang padat dengan pedagang kaki lima. Trotoir yang sempit dan uyel-uyel buat jalan malah jadi daya tarik turisme.  Pergi ke Yogyakarta akan terasa tidak lengkap jika tidak menyantap masakan pedagang kaki lima yang banyak tersebar di pinggir jalan.  Duduk di tikar dan menyantap bebek goreng, merpati goreng atau gudeg adalah bagian dari agenda pariwisata mereka.

Pedagang kaki lima menawarkan service human to human bahkan kekeluargaan.  Pembeli banyak yang kenal siapa nama pedagangnya. Sebuah trademark tersendiri. Terkenalnya pedagang kaki lima dari omongan orang ke orang, getok tular, mulut ke mulut.  Jenis komunikasi yang punya reliabilitas dan kredibilitas sangat tinggi.  Melebihi iklan di TV atau film yang perlu jutaan rupiah sekali tayang. Begitu dengar, tanpa ragu-ragu bila punya kesempatan akan mengunjungi tempat dimana pedagang kaki lima itu berada. Ribuan kilometer jaraknya tidak peduli.  Cuma hanya satu tujuannya.  Bisa mencicipi atau mengunjungi pedagang kaki lima yang dikasih tahu oleh temannya.

Pedagang kaki lima tidak menuntut siapapun untuk mengiklankan keberadaan mereka. Tapi di Facebook dan media sosial lain banyak orang mengiklankan keberadaan mereka.  Jadah di depan stasiun, nasi pecel di belakang pasar besi, nasi gudeg di sebelah selokan, penjual nasi campur di lorong jalan kampung, bebek goreng di jalan sempit tengah sawah, dan lain-lain informasi lokasi pedagang kaki lima. Berapa jumlah orang yang terpengaruh dengan informasi tersebut tidak diketahui. Yang pasti keberadaan kaki lima tersebut telah dikenalkan pada orang lain. Di lokasi yang tidak terbayangkan oleh orang-orang yang tidak suka blusukan.

Seorang teman yang bermukim di luar negeri, ketika pulang kampung tempat pertama yang dituju adalah penjual nasi rawon yang disarankan oleh temannya di Facebook. Pembicaraan yang cukup ramai di Facebook tentang pedagang kaki lima tidaklah aneh. Malah menularkan rasa persahabatan. Bahkan tempat dimana pedagang kaki lima itu berada kadang menjadi tempat berkumpul bernostalgia.*** (HBS)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 7 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 10 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 11 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: