Back to Kompasiana
Artikel

Wirausaha

Agung Budi Santoso

Karya untuk kemanusiaan. Mari jadikan dunia ini semakin bermakna. Seorang pembelajar dan pemilik blog di selengkapnya

Membangun Koperasi

OPINI | 03 December 2013 | 21:05 Dibaca: 126   Komentar: 0   0

Sebagai insan yang selalu berfikir tentang kemandirian. Dalam melakukan kegiatan ekonomi terkadang sempat berfikir tentang  bagaimana ya membangun koperasi ? Membangun koperasi terkadang suatu hal yang mungkin mudah untuk dilakukan. Jika terdapat 20 orang yang memiliki kesamaan visi dan misi serta mungkin profesi.  Lalu dilakukan pertemuan yang intensif baik di suatu forum resmi maupun non resmi pasti koperasi bisa terwujud. Dan tentunya jika masing-masing anggota sepakat mendirikan koperasi dan telah mengumpulkan modal sebagai langkah awal pendirian koperasi. Semestinya kesepakatan itu harus dituangkan di dalam suatu anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang jelas.

Di dalam badan usaha koperasi, anggota selain merupakan pemilik modal juga merupakan pegawai. Sisi menariknya adalah semua anggota akan saling merasa memiliki badan usaha tersebut. Namun jika visi dan misi sudah mulai terjadi perbedaan mungkin usia koperasi itu juga tidak akan lama. Berbeda dengan PT atau CV. Karena di dalam PT dan CV akan timbul hubungan majikan dan karyawan. Selama para pemilik modal masih terjalin kesamaan visi dan misi tentu usia badan usaha masih bisa dipertahankan. Lepas dari badan usaha itu mulai merugi atau tidak.

Mengkritisi badan usaha yang core bisnisnya adalah teknologi. Seperti software house misalnya. Jika terdapat 20 orang programmer yang memiliki visi dan misi yang sama dan sepakat membangun koperasi tentulah impian itu dapat terwujud. Namun sayangnya banyak programer yang lebih senang menjadi karyawan dengan tawaran gaji tinggi atau mendirikan usaha secara mandiri. Atau lebih tepatnya menjadi bos bagi dirinya sendiri.

Saat ini tanpa disadari banyak jebolan perguruan tinggi menterjemahkan wiraswasta dengan pemikiran kapitalis. Namun kapitalis mikro. Dengan mendirikan perusahaan komanditer atau perusahaan perorangan ia mulai menjalankan usahanya. Mengapa tidak berfikir mendirikan koperasi saja ? Alasan klise mungkin akan sangat susah meyatukan pemikiran 20 orang programer jika ia tidak memiliki kesamaan visi dan misi. Kadang ada yang merasa dengan 2 atau 3 orang saja mereka mampu membangun atau membuat software yang layak dijual. Atau bahkan sendirian mampu menghasilkan program. Yah, bisa saja sih. Tetapi mungkin program aplikasi yang sederhana.

Dan di era sosial media serta teknologi cloud computing sebenarnya tidak ada kendala ruang dan waktu. Walau berjauhan secara geografi mereka tetap akan bisa merencanakan dan menghasilkan produk software secara keroyokan. Seperti aplikasi di dropbox.com dan di google drive. Kita dapat saling tukar menukar dokumen. Dan tentunya jika berniat membuat software yang dihasilkan secara keroyokan file mungkin bisa dipecah-pecah sebelum dikompilasi misalnya. Atau jika terbiasa membuat aplikasi dengan Delphi bisa dibagi dalam unit-unit aplikasi terus disatukan dan dikompilasi.

Atau kalau di sisi penulis yang lebih senang menulis karangan nonfiksi mungkin bisa membuat bunga rampai atau novel hasil keroyokan. Dan tentunya alur cerita dari novel itu sudah ditentukan sebelumnya. Dari A sampai Z sudah dibuat kerangka karangan atau plot cerita yang paten. Tinggal para penulis tadi ambil bagian di bagia mana atau bab berapa.

Pengalaman saya sendiri dulu waktu jadi mahasiswa juga pernah mendapat tugas dari dosen yang berkeinginan menjadikan diktatnya dibuat menjadi sebuah buku yang nantinya terbit secara lebih sempurna sehingga bisa digunakan oleh adik kelas di masa-masa berikutnya. Dan sekarang kalau saya ingat buku itu jadi tersenyum sendiri. Karena buku itu terbit berkat kerja keras seluruh mahasiswa yang diberi tugas oleh Bapak Dosen. Walau sebenarnya kerangka dasarnya sudah ditentukan terlebih dahulu oleh Bapak Dosen.

Atau sebuah pementasan drama dan pembuatan film. Itu juga sebuah hasil kerja secara keroyokan. Kalau Anda pernah menggunakan program Adobe Photoshop misalnya.  Itupun programmernya keroyokan. Tidak dibikin oleh 2 atau 3 orang. Dan saya yakin program e-proc atau e-KTP, paling juga hasil bikinan programer secara keroyokan.

Kembali kepada membangun koperasi. Entah itu mau membangun software atau hasil kekayaan intelektual lainnya. Jika ditampung di dalam suatu wadah yang bernama koperasi. Bukan suatu hal aneh saya rasa. Tinggal kesepakatan para anggotanya saja. Mau atau tidak. Cukup 20 orang saja misalnya. Jika mereka sanggup dan bersedia dan setor modal. Dan tentunya dasar dari menjalankan usaha adalah kejujuran. Dan inilah yang sulit jika masing-masing anggota terpisah agak jauh secara geografis. Wong budaya transparan saat ini masih agak sulit. Walaupun sebenarnya seperti sistem e-proc yang ide dasarnya untuk transparasi kadang masih terdapat sistem terbuka dan sistem tertutup.

Yah, tulisan ini mungkin saya rasa rada ngelantur. Karena pada kenyataannya mewujudkan badan usaha berbentuk koperasi sangat susah. Bukan karena dilarang pemerintah melainkan menyatukan pemikiran 20 orang anggota untuk sepakat mendirikan koperasi saja tidak mudah. Pengalaman saya sendiri lebih mudah membuat CV ketimbang koperasi. Dengan modal 10 juta misalnya. Sebuah CV sudah bisa berdiri. Terlepas CV itu bisa jalan atau tidak.

Nampaknya gagasan mendirikan koperasi memang dapat diawali oleh sekelompok orang yang memiliki persamaan nasib, persamaan keinginan untuk menjalankan kegiatan ekonomi secara keroyokan. Sebab sendi dasar dari koperasi adalah kekeluargaan sebagaimana tercantum di UUD 1945 pasal 33 ayat 1. Dan saya sendiri pesimis terhadap koperasi karena saya sendiri belum pernah mendirikan koperasi. Dulu jaman mahasiswa ada koperasi mahasiswa pada prakteknya juga hanya dimonopoli oleh anak-anak ekonomi. Sampai sekarang pun saya tidak tahu kemana nasib SHU saya. Padahal dulu saya masih ingat ketika jadi mahasiswa pernah mengisi setoran awal sebagai modal di koperasi mahasiswa.

Jadi, bagaimana nih. Koperasi memang ideal menurut UUD 1945. Namun bisakah Anda melakukan statistik di Indonesia berapa proporsi jumlah BUMN, PT, CV, waralaba dan koperasi ? Apakah koperasi hanya cocok untuk petani ? Seperti jaman dulu ada KUD. Dan saya pun tidak tahu nasib KUD sekarang masih ada atau berubah nama. Kalau saya berkunjung ke desa saya saja yang dibahas hanya PNPM. Atau PNPM merupakan metamorfosa dari KUD saya juga tidak tahu. Kalau dilihat di internet sih inti dari PNPM juga mengentaskan kemiskinan dan memperluas lapangan kerja di desa. Lha padahal generasi muda yang ada di desa saya lebih senang jadi TKI dan TKW karena iming-iming gaji dolar Hong Kong, riyal Saudi, dan mungkin ringgit Malaysia atau bahkan yen Jepang.

Di Semarang saja bentuk badan usaha koperasi yang sering saya temui adalah kospin alias koperasi simpan pinjam atau kosti alias koperasi supir taksi hehehehehe…..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59



Subscribe and Follow Kompasiana: